10 Titik Longsor di Morut

0 36

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

MORUT, MERCUSUAR – Bencana alam berupa banjir yang melanda Kabupaten Morowali Utara (Morut) sepekan terakhir, menyebabkan longsor di 10 titik di Kecamatan Bungku Utara dan Mamosalato.

Longsor yang terjadi di sejumlah ruas jalan yang menjadi tanggung jawab kabupaten maupun jalan nasional itu, mengakibatkan sejumlah desa di dua kecamatan tersebut sulit dijangkau kendaraan.

Sekertaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Morut, Darman Bada mengatakan berdasarkan hasil pendataan petugas BPBD terjadi longsor di tiga titik jalan kabupaten dan tujuh titik jalan nasional.

“Untuk jalan kabupaten yang mengalami longsor berada di lokasi ruas jalan antara Desa Baturube-Lemo di Bungku Utara. Jalan ini menghubungkan ibukota kecamatan dengan sejumlah desa lainnya, antara lain menuju Desa Lemo, Lemowalia dan Desa Salubiro dari SPC,” ujarnya di Baturube,  Selasa (11/6/2019).

Longsor terparah, lanjutnya, terjadi di ruas jalan nasional yang menghubungkan antara Kabupaten Morut dan Banggai, tepatnya diantara Desa Momo Kecamatan Mamosalato-Baturube. Di lokasi tersebut longsor terjadi di tujuh titik yang mengakibatkan badan jalan ambles, karena berada di lereng gunung.

Jalur itu merupakan satu-satunya andalan masyarakat sebagai akses ekonomi utama menuju Kota Luwuk Banggai, selain jalur laut yang menghubungkan pelabuhan Seliti-Kolonodale. Selain itu, jalur tersebut juga merupakan jalur utama bagi masyarakat yang akan berpergian ke Kota Luwuk dalam urusan pendidikan dan sebagainya.

Menurutnya, petugas BPBD bersama TNI dan Polri telah membuka jalur itu. Hanya saja, masih sulit dilalui kendaraan roda empat dan roda dua akibat tebalnya endapan lumpur.

PUNGLI OLEH WARGA

Bahkan, katanya, di salah satu titik longsor telah dimanfaatkan masyarakat setempat untuk melakukan pungutan liar (pungli).

“Jadi di sana itu kami temukan ada jembatan darurat yang dibuat masyarakat kemudian dipungut biaya (yang melintas). Jadi ini merupakan bentuk pungutan liar. Masyarakat disana tidak lagi membantu sesama yang mengalami musibah tetapi justru membebani,” ujarnya.

“Setiap kendaraan roda empat dipungut biaya Rp50 ribu sekali lewat dan roda dua Rp20 ribu, tepatnya berada di ruas jalan Nasional antara Desa Tokala Atas dan Desa Momo,” sambungnya.

Ditambahkan Darman, saat ini kondisi di dua kecamatan itu sudah dalam keadaan kondusif, karena tersisa sejumlah genangan-genangan air di pemukiman warga di 26 Desa yang sempat terendam air. “Pak Bupati Aptrilpel Tumimomor juga sudah turun langsung melihat kondisi bencana ini. Beliau telah memerintahkan pada BPBD tanggap darurat bencana untuk memberikan segala bantuan ke wilayah yang terdampak,” tutupnya. VAN

 

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish