12 KTH Presentasekan Proposal Usaha

  • Whatsapp
FOTO PROOSAL KTH - Copy

PALU, MERCUSUAR – Sebanyak 12 Kelompok Tani Hutan (KTH) dari 10 desa di Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong (Parmout) lingkup Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dampelas Tinombo Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Sulteng mempresentasekan proposal usaha di hadapan tim penilai di Horel Jazz Palu, Senin (25//3/2019).

Presentase dimaksudkan untuk memperoleh dukungan pendanaan dari Forest Investment Programme (FIP) II melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

Kepala KPH Dampelas Tinombo, Agus Efendi mengatakan 12 KTH dari sepuluh desa mengajukan proposal usaha pada kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat dalam skema perhutanan sosial. Hal itu untuk meningkatkan pendapatan yang bersumber dari pengelolaan kawasan hutan baik dalam bentuk agroforestry, jasa lingkungan maupun pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

Pilihan Redaksi :  PERSAKMI Sulteng Turut Himbau Masyarakat untuk Tidak Mudik

“Dengan mengajukan proposal melalui skema ini, kelompok tani hutan memiliki  peningkatan kapasitas dalam merencanakan pengelolaan usaha sekaligus membuat anggaran kebutuhan usahanya dan berkesempatan memaparkannya ke tim penilai proposal yang berasal dari Dirjen Balai Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan Adat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PMU, Suporting Unit KPH Dampelas Tinombo, Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah, Dinas Koperasi dan UKM Sulteng dan LSM,” jelasnya.

KTH tersebut, sambungnya, berasal dari dua kabupaten Donggala dan Parmout. Untuk Donggala terdiri dari Desa Siweli, Siboalong, Malonas, Lembah Mukti dan Desa Karya Mukti, sedangkan Parmout terdiri dari Desa Oncone Raya, Sigega Bersehati, Sipayo, Bondoyong dan Desa Sintuwu Raya.

Pilihan Redaksi :  F-PKS DPRD Sulteng Bagikan Paket Lebaran Kepada Dai Muda

Pada Kesempatan itu, Onna Samada dari Kelompok Seroja Desa Bondoyong menjadi KTH yang telah memiliki izin perhutanan sosial dari KLHK mendapat kesempatan pertama memaparkan proposalnya dihadapan tim penilai.

Menurutnya, penyampaian dengan model seperti ini secara tidak langsung memberikan pengalaman dan pembelajaran dalam hal mengajukan proposal,   mengingat beberapa pertanyaan dari tim penilai sangat berharga terkait proposal yang diajukan.

”Semoga kami diberi kesempatan untuk memperbaiki proposal agar lebih sempurna,” harapnya.TIN/*

Baca Juga