Aksi Kamisan Dilaksanakan Perdana di Palu

0 116

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

BESUSU BARAT – Puluhan anak muda dari berbagai elemen di Kota Palu, seperti LSM, organisasi kemahasiswaan, serta kalangan jurnalis dan pemerhati isu-isu kemanusiaan, meramaikan pelaksanaan aksi Kamisan di Kota Palu, Kamis (21/3/2019) sore, bertempat di depan kantor DPRD Provinsi Sulteng. Pelaksanaan aksi Kamisan ini merupakan kali perdana dilaksanakan di Kota Palu.

Pada aksi tersebut, puluhan massa mengenakan kaos berwarna hitam, berdiri berjejer sambil membentangkan poster berisi tuntutan kepada pemerintah. Sebagian lainnya berdiri sambil memegang payung hitam.  

Massa yang mengikuti aksi tersebut, secara bergantian berorasi tentang tuntutan kepada pemerintah, agar segera melakukan penanganan terhadap pelanggaran HAM yang terjadi, baik secara nasional, maupun di Sulawesi Tengah. Adapun isu yang disoroti pada aksi kali ini adalah isu perampasan tanah milik petani, serta kriminalisasi petani dan pejuang lingkungan hidup.

Koordinator aksi Kamisan tersebut, Muh Taufik menjelaskan, aksi Kamisan yang digelar ini, terinspirasi dari aksi Kamisan yang dilakukan di depan Istana Negara. Aksi Kamisan ini, mengangkat isu-isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM), yang terjadi secara nasional maupun di daerah, khsusunya Sulteng.

“Kamisan hadir untuk mengingatkan kepada negara, untuk serius menuntaskan kasus pelanggaan HAM, yang terjadi baik di pusat maupun daerah,” ujarnya.

Lanjut Taufik, mengapa aksi Kamisan kali ini mengangkat isu perampasan lahan dan kriminalisasi petani serta pejuang lingkungan hidup, karena bagi mereka, kriminalisasi petani serta pejuang lingkungan hidup, adalah bentuk pelanggaran HAM.

“Oleh karena itu, kedepan di setiap hari Kamis minggu berjalan, kami akan terus menggelar aksi Kamisan ini, untuk mengingatkan negara, bahwa banyak terjadi pelanggaran HAM, baik secara nasional maupun di daerah,” jelasnya.

Terkait simbol payung hitam dan kaos hitam yang digunakan, Taufik menjelaskan, penggunaan simbol tersebut, sebagai simbol telah matinya upaya penegakan HAM di Indonesia. Aksi kali ini mendapat perhatian dari masyarakat yang melintas di Jalan Sam Ratulangi depan Kantor DPRD Provinsi Sulteng. JEF

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish