Haruskah Kita Berkompromi Dengan Pandemi?

  • Whatsapp
KOMPROMI
FOTO: Salah seorang tamu undangan mencuci tangan di tempat cuci tangan yang disediakan oleh tuan rumah pemilik hajatan di salah satu kelurahan di Kabupaten Parigi Moutong, beberapa waktu lalu. FOTO: JEFRI/MS

PALU, MERCUSUAR – Senin (30/11/2020), Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Covid – 19 Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) kembali merilis laporan harian perkembangan kasus Covid-19 di wilayah provinsi tersebut. Dalam laporannya, Pusdatin Covid-19 Sulteng melaporkan, ada penambahan 60 kasus Covid-19 baru pada Senin (30/11/2020), dengan rincian 16 kasus di Kabupaten Morowali, 11 kasus di Kabupaten Morowali Utara, 28 kasus di Kabupaten Poso, 1 kasus di Kabupaten Tojo Una-una, 1 kasus di Kabupaten Tolitoli, dan 3 kasus di Kota Palu.

Penambahan 60 kasus baru ini, membuat konfirmasi kasus Covid-19 secara keseluruhan di Sulteng mencapai 1860 kasus, dengan angka kesembuhan 1089 kasus atau mencapai 58.55 persen dan korban meninggal sebanyak 72 kasus atau mencapai 3.87 persen.

Berita Terkait

Dalam sepekan terakhir, grafik pertumbuhan kasus Covid-19 baru di Sulteng, cenderung mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari laporan Pusdatin Covid-19 Sulteng sepekan terakhir, di mana pertumbuhan kasus Covid-19 baru hampir setiap harinya menyentuh angka puluhan.

Misalnya di 29 November, kasus baru mencapai 31 kasus, lalu di 28 November, kasus baru mencapai 30 kasus, kemudian di 27 November mencapai 39 kasus, 26 November sebanyak 13 kasus, 25 November sebanyak 55 kasus, 24 November sebanyak 81 kasus, 23 November sebanyak 37 kasus, dan 22 November sebanyak 61 kasus.

Peningkatan kasus baru Covid-19 di Sulteng yang cukup signifikan dalam sepekan terakhir ini, menjadi tanda tanya besar, seberapa efektif peraturan dan protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah, mampu menekan laju pertumbuhan kasus Covid-19 baru setiap harinya. Di sejumlah kabupaten di Sulteng, operasi yustisi dilaksanakan untuk menegakkan pelaksanaan protokol kesehatan, dengan beragam sanksi yang disiapkan. Di tempat-tempat umum, protokol kesehatan, mulai dari menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer serta menjaga jarak, telah diberlakukan. Di titik-titik perbatasan Sulteng dengan provinsi lainnya, penertiban protokol kesehatan terus dilakukan. Lantas, apa yang menyebabkan pertumbuhan kasus justru meningkat, di tengah meningkatnya upaya penegakan protokol kesehatan oleh pemerintah?  

Pilihan Redaksi :  Positif Covid-19 Sembuh di Sulteng Nihil

Empat Akar Persoalan Peningkatan Kasus Covid-19

Setidaknya ada empat hal yang dilihat sebagai akar persoalan dari meningkatnya pertumbuhan kasus baru Covid-19 di Sulteng, dalam sepekan terakhir. Psikolog, Putu Ardika Yana, Minggu (29/11/2020) memberikan tanggapannya terkait hal tersebut.  

Menurut Putu yang sehari-hari bergiat di persoalan pendampingan kesehatan mental, peningkatan kasus baru Covid-19, tidak diimbangi dengan protokol kesehatan yang harusnya semakin tegas. Kata dia, hal ini disebabkan oleh empat aspek yang perlu disikapi secara serius

Pertama, sejak awal pandemi menurutnya, pemerintah kita cenderung sangat hati-hati dalam melahirkan kebijakan, terutama kebijakan terkait penanggulangan Covid-19. Kebijakan untuk pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saja misalnya kata dia, harus terlebih dahulu melihat dampak ekonomi dan social yang ditimbulkan.

“Tidak jelas antara hati-hati, takut atau tidak konsisten (sikap pemerintah dalam hal kebijakan terkait Covid-19). Di tengah tren kasus yang meningkat misalnya, sebenarnya bisa diberlakukan PSBB, namun lagi-lagi kita dilema dengan dampak ekonomi dan sosial yang menyertainya,” ujar Putu.

Pilihan Redaksi :  Pedagang Wajib Tera Ulang Timbangan

Imbas dari sikap hati-hati pemerintah ini kata dia, melahirkan kebingungan di masyarakat, mau sampai kapan bertahan dengan kondisi seperti ini. Menurutnya karena dari awal terlihat hati-hati dan malah terkesan ragu-ragu, masyarakat malah menilai pemerintah kurang tegas, dan akhirnya bersikap masa bodoh terhadap kebijakan terkait penanggulangan Covid-19 yang ditetapkan pemerintah.

“Pemerintah tidak bisa menunjukkan ketegasan, yang mengakibatkan munculnya sikap apatis dari masyarakat. Akhirnya muncul rasionalisasi dan pembenaran-pembenaran di masyarakat, untuk tidak mematuhi protokol yang ada,” ujarnya.  

Kedua, tekanan hidup yang lebih tinggi daripada sekedar mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi. Menurutnya, di era new normal di mana kondisi masyarakat semakin apatis dengan ketidaktegasan pemerintah terkait kondisi pandemi, bertemu dengan tuntutan kehidupan yang mau tidak mau harus terpenuhi.

“Ketika tuntutan kehidupan membuat seseorang memilih harus melanjutkan kehidupan, dia akhirnya memilih untuk melakoni tuntutan hidupnya dan mengabaikan protokol yang ada,” ujarnya.

Ketiga, ketika orang-orang melanggar protokol kesehatan, menurutnya mereka melihat dampak dari pandemi ini sendiri. Putu menjelaskan, di awal kemunculannya, Covid-19 begitu menakutkan, namun makin kemari, orang melihat Covid-19 sebagai wabah yang memang berbahaya, namun jika mampu menjaga kesehatan, imunitas dan menerapkan disiplin dalam perilaku, akan terhindar dari wabah dan walaupun terpapar, tidak lagi menjadi sebuah ketakutan, karena melihat banyak kasus yang sembuh.

“Mekanisme pertahanan diri seperti ini, yang membuat orang berpikir, tidak mengapa melanggar protokol, karena mereka yakin Covid-19 memang berbahaya namun jika terpapar, mereka punya peluang sembuh yang besar. Ketika kita dihadapkan pada kenyataan di mana bagi orang-orang, penyakit ini tidak semengancam itu, mereka mulai berpikir, seberapa mengancam Covid-19 dengan jika dirinya tidak bekerja, yang berakibat tidak dapat mencukupi tuntutan hidupnya. Ini yang membuat orang-orang makin melonggarkan disiplin untuk menaati protokol,” jelasnya.

Pilihan Redaksi :  Puluhan Guru Dapat Surat Teguran Kedisplinan

Keempat, menurut Putu, tidak mudah menciptakan sebuah perilaku baru, disiplin baru, di tengah sebuah ketidaktegasan, keapatisan, dan di tengah pandangan, mana yang penting antara disiplin dan tuntutan kehidupan. Perilaku baru, kebiasaan baru, disiplin baru ini kata dia, harus sering dilatih, agar menjadi kebiasaan, yang menjadi irama hidup baru bagi masyarakat.

Pemerintah kata dia, juga harus tegas dalam menerapkan protokol kesehatan, dan memperhatikan kaitannya dengan tuntutan kehidupan masyarakat.

“Harus ada keteraturan yang diciptakan. Saat ini, keteraturan yang tidak teratur dan lebih rendah dari tuntutan hidup, serta apatisme akan pandemi, akan berujung pada rasionalitas dan sikap kompromistis dalam menyikapi pandemi,” ujarnya.

Sikap kompromistis terhadap pandemi inilah yang akan melahirkan puluhan, bahkan mungkin ratusan kasus baru Covid-19 setiap harinya, jika kita tidak segera menyadarinya. Saat ini, selain berharap pemerintah lebih tegas menerapkan protokol kesehatan, keputusan ada di tangan kita, apakah akan sepenuh hati atau setengah hati melaksanakan ketentuan tersebut, dengan kenyataan, wabah ini tidak menunggu keputusan kita, untuk terus melahirkan kasus baru setiap harinya. JEF       

Baca Juga