Iswanto Menikmati Pedasnya Cabai Gorontalo

  • Whatsapp
iswanto

ANAK muda itu keluar dari gubuknya ketika 12 wartawan dari Palu memasuki area perkebunannya. Gubuk itu seperti tak terurus, ala kadarnya, tempatnya berlindung dari terik matahari.

Gubuk itu didirikan persis berada di ujung lahan kebunnya. Di sekelilingnya dijadikan tempat pembibitan cabai.

Berita Terkait

Pemuda itu menyambut wartawan dengan ramah, Selasa, 5 Juni 2018. Namanya Iswanto, berusia 27 tahun. Dia adalah salah seorang ketua kelompok tani binaan dari Corporate Social Responsibility (CSR) PT Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG) di Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Setiap kelompok tani beranggotakan sampai 20 orang. Khusus kelompok tani dari anak muda, hanya menanam cabai dan jagung.

Iswanto tampak sangat bersemangat ketika diajak bercerita soal cocok tanam cabai. Mulai pupuk organik dan lainnya ia jelaskan secara rinci. Apakah dia pernah sekolah atau kuliah di fakultas pertanian?

Tidak! Lulusan Universitas Tompotika di Luwuk, Kabupaten Banggai, ini hanya mengikuti pelatihan yang diadakan CSR SDLNG.

“Saya mengikuti pelatihan yang difasilitasi CSR Donggi Senoro pada bulan November 2017. Dalam pelatihan itu, 10 kali pertemuan diajarkan bagaimana tata cara bercocok tanam cabai yang benar,” kata Iswanto.

Wawancara dengan wartawan dalam suasana santai di kebun. Ia sesekali memetik buah cabai yang membusuk, lalu ditampung di telapak tangannya.

Luas lahannya sekitar 1 hektare. Awalnya, ia hanya sekadar jalan-jalan di lahan tak terurus milik keluarganya itu. Iswanto pun berpikir, mengapa lahan ini ditelantarkan, tidak dimanfaatkan. Makanya, ia pun tertarik mengikuti pelatihan yang dilakukan DSLNG tadi.

Begitu selesai pelatihan, lahan itu dibersihkan. Kemudian, ia mempersiapkan untuk menanam cabai setelah memperoleh bibit.

Menurut Iswanto, tak cukup sebulan setelah mengikuti pelatihan, lahannya mulai ditanami. Ia masih ingat persis, pertama kali menanam sebanyak 800 pohon cabai Gorontalo.

“Saya juga tidak tahu persis mengapa disebut cabai Gorontalo. Tetapi jenis cabai ini termasuk bagus dan warga local di sini juga jenis cabai ini,” katanya.

Setelah menanam bulan November 2017, bulan Februari sampai dengan Mei 2018, Iswanto mulai memanen cabainya. Setiap minggu ia bisa memanen 30-40 kilogram. Dalam seminggu, dua sampai tiga kali ia melakukan panen.

“Tetapi pada puncak panen saya bisa mendapatkan sampai 76 kilogram setiap minggunya. Saya sudah melakukan panen sebanyak 16 kali. Hasilnya lumayan, sekali panen saya dapat membeli satu karung beras atau setara Rp 400 ribu,” katanya seraya tersenyum.

Lalu, hasil panen dijual ke mana? Iswanto menjelaskan, hasil panen cabainya tidak dijual ke pasar umum kecuali dilego di koperasi yang juga binaan CSR DSLNG. Ia pun kemudian menunjuk Kristanto Ari dan Zulkifli yang juga hadir di kebunnya.

Kristanto membenarkan, hasil panen cabai Iswanto dan anggota kelompok lainnya dijual ke stocking point yang ada di Desa Kalolos, Kecamatan Kintom. Stocking point menurutnya adalah koperasi yang membeli hasil-hasil pertanian dan perkebunan. Koperasi pertanian itu diberi nama Momposaangu Tanga’ Nulipu.

“Awalnya saya kira hasil panen ditampung di stocking point dulu, nanti kemudian baru dibayar. Ternyata tidak, begitu hasil panen diantar langsung dibayar,” kata Iswanto.

Menurutnya, harga cabai di stocking point juga mengikuti harga di pasaran. Awalnya, ia menjual dengan harga Rp 15 ribu per kilogram. Sekarang malahan naik menjadi Rp 20 ribu per kilogram.

Itu artinya, bila Iswanto sekali panen dapat menghasilkan 40 kilogram, berarti ia dapat mengantongi Rp 800 ribu. Pantaslah Iswanto kini semakin nyaman merasakan pedasnya cabai.

Dijual ke Gorontalo

Menurut Kristanto Ari, hasil-hasil panen cabai di Kecamatan Batui dan Kecamatan Kintom, petani lebih banyak memilih menjualnya ke stocking point. Sebab, hargnya juga mengikuti harga pasaran.

Pada Februari lalu, yang tertampung baru sebanyak setengah ton. Di bulan Mei sudah bertambah menjadi 2,6 ton. Di bulan Juni ini, katanya, sudah mencapai 4 ton.

Ketika wartawan menyambangi Koperasi Momposaangu Tanga’ Nulipu di Desa Kalalos yang terletak di pinggir pantai itu, ada beberapa karung cabai petani yang baru masuk. Petugas langsung menimbangnya.

Penanggung jawab stocking point, Nurdin menjelaskan, koperasi ini awalnya mendapat pinjaman dari BRI sebesar Rp 40 juta. Pihak bank memberikan pinjaman karena CSR DSLNG menjadi penjaminnya.

Kemudian, cabai yang tertampung diangkut ke Pagimana, Kabupaten Tojo Unauna, lalu diseberangkan dengan kapal menuju Gorontalo. Rata-rata tiga kali seminggu pengiriman cabai ke Gorontalo. Di sanalah kemudian stok cabai itu dijual karena harganya lebih mahal.

Menurut Nurdin, harga cabai di Gorontalo antara Rp 23 ribu sampai Rp 25 ribu per kilogramnya. Selisih pembelian dan penjualan per kilogram itulah menjadi keuntungan koperasi. Dan, keuntungannya nanti juga akan dibagikan ke anggota koperasi.

Jadi, apakah karena pasarannya ke Gorontalo sampai cabai yang ditanam Iswanto tadi disebut cabai Gorontalo?

Tidak jelas. Namun itu adalah sebutan warga, dan Iswanto benar-benar menikmati hasil pedasnya cabai Gorontalo itu.TASMAN BANTO

Baca Juga