Lebaran Mandura, Tradisi yang Perlu Dilestarikan

0 16

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

BARU,MERCUSUAR-Pengurus Masjid Jami’ Kampung Baru, Dr. Husein Saleh menjelaskan ‘Mandura’ terdiri dari tiga suku kata, yaitu ‘Man’ artinya manusia, ‘Du’ artinya dunia, dan ‘Ra’ artinya Fitrah. “Jadi makna Mandura merupakan manusia yang kembali ke fitrah setelah sebulan penuh berpuasa.

Menurutnya, Lebaran Mandura merupakan salah satu tradisi yang baik dan perlu dilestarikan, mengingat mandura juga merupakan makanan khas Idul Fitri yang terbuat dari beras ketan yang dibentuk dengan cetakan dan dibungkus dengan daun pisang. Makanan tersebut, konon sudah ada sejak sekitar abad ke-18 masehi.

Lebaran Mandura ketujuh kalinya tersebut diawali dengan arak-arakan empat buah Mandura ukuran besar dan gunungan Mandura yang disusun sedemikian rupa menyerupai piramida ke sejumlah ruas jalan di sekitaran Masjid Jami’ Kampung Baru, kemudian dilanjutkan dengan Buka Puasa Sunnah bersama di Masjid tersebut, Selasa (11/6/2019) malam.

Wali Kota Palu, Drs. Hidayat, M.Si didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Palu, Andi Sumardi saat menghadiri Lebaran Mandura di Masjid Jami’ Kampung Baru.

Kegiatan yang sudah menjadi tradisi masyarakat kelurahan Baru pada bulan Syawal setiap tahunnya tersebut, juga dihadiri langsung Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Hidayat Lamakarate dan Wakil Ketua DPRD Sulteng, Alimuddin Pa’ada.

Selain itu juga, Lebaran Mandura kali ini dirangkaikan dengan Kampung Baru Fair (KBF) IV yang dilaksanakan di Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Baru, sejak 11-13 Juni 2019 dengan berbagai penampilan musik, bazar, dan berbagai acara lainnya. ABS

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish