Merawat Memori Dolanan

0 24

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Berawal dari sebuah keprihatinan, tentang menghilangnya beberapa dolanan atau permainan tradisional, yang pernah dimainkannya di masa kecil, Nirmayanti Rapi, berinisiatif mendokumentasinya lewat tulisan. Wanita asal Desa Masaingi, Kecamatan Sindue ini, kemudian membukukan hasil dokumentasinya tersebut, dengan judul Dolanan Suku Kaili di Kecamatan Sindue.   

Menurut dosen di Program Studi Bahasa Indonesia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad) ini, berkembangnya teknologi, membuat anak-anak cenderung memainkan permainan yang praktis, yang dapat dimainkan sendirian, sehingga anak mengabaikan tiga aspek yang sangat penting, yaitu perkembangan kognitif, motorik dan afektifnya. Di dalam dolanan kata dia, ketiga komponen itu ada, bahkan jiwa sosial anak akan terpupuk, tetapi dalam permainan gawai, hal itu jarang ditemukan anak, karena ia hanya bermain sendirian tanpa teman.

Lanjut Nirmayanti, dirinya memutuskan menulis tentang dolanan tersebut, sebelum memori tentang hal tersebut hilang, seiring dengan permainannya yang juga tidak dimainkan lagi. Menurutnya, banyak masyarakat yang mendukung penulisan buku ini, terutama yang dari kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, karena menurut mereka, dengan buku ini, budaya menjadi terjaga dan dapat diketahui oleh generasi selanjutnya, meskipun mereka sudah tidak memainkannya lagi.

Untuk pengumpulan data kata Nirmayanti, memakan waktu sekitar 3 bulan, karena harus menyesuaikan dengan jam mengajar yang cukup padat. Pengumpulan data dilakukan olehnya, hanya ketika dirinya pulang kampung ke Sindue, di hari Sabtu dan Minggu.

“Saya mengajar aktif di tiga tempat, karena belum berstatus sebagai ASN. Jadi, di sela-sela jadwal mengajar itulah, saya memanfaatkan waktu luang untuk meneliti di beberapa desa di Kecamatan Sindue,” ujarnya.

Peluncuran buku ini sendiri kata Nirmayanti, tidak terlalu resmi. Karena keterbatasan biaya, dirinya hanya mampu mencetak 10 buah buku saja.

“Saya pakai biaya sendiri dan jalur penerbitan mandiri di salah satu penerbit di Kota Palu, yakni Penerbit Hoga. Saya berharap seandainya ada dari pihak pemerintah yang menaungi untuk memperbanyak buku ini,” harapnya.  

Dirinya berharap, semoga pemerintah bisa terpanggil hatinya, untuk memperhatikan penulis-penulis tema kebudayaan seperti dirinya. Sehingga kata dia, mereka bisa memfasilitasi untuk penerbitan buku-buku, terutama mengenai kebudayaan Sulteng.

Saat ini, Nirmayanti sedang dalam proses menyiapkan bukunya yang kedua. Buku ini kata dia, masih dirahasiakan judulnya.

“Pembahasannya masih tentang kebudayaan,” pungkasnya. JEF

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish