Mitigasi Bencana di Palu Sudah Dilakukan Sejak Dahulu

Penamaan Wilayah Berdasarkan Kejadian Alam

0 4.796

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

PALU, MERCUSUAR – Mitigasi bencana di wilayah Lembah Palu, ternyata sudah dilakoni oleh orang tua kita terdahulu, melalui penamaan wilayah berdasarkan kejadian alam.
Koordinator Komunitas Historia Sulawesi Tengah (KHST), Moh Herianto, Minggu (14/10/2018) mengatakan, ada beberapa wilayah di lembah Palu dan sekitarnya, yang penamaan wilayahnya dilakukan berdasarkan kejadian alam yang terjadi di wilayah tersebut, seperti Lindu (terkait dengan mitos Sawerigading yang menceritakan gempa besar di kawasan Lindu, akibat perkelahian lindu atau belut dengan anking milik Sawerigading), Beka (pecah atau retak), Kaombona (runtuh), hingga Tagari Londjo (Londjo artinya tenggelam atau masuk di lubang) yang saat ini dikenal dengan wilayah Balaroa, serta Kalondjo di kawasan eks sirkuit Tanah Runtuh .
Selain itu kata dia, ada istilah-istilah seperti Bomba Talu (tiga ombak) yang ternyata dimaknai sebagai Tsunami. Menurutnya, pemerintah daerah dan akademisi harus mengkaji penamaan wilayah yang ada di Lembah Palu, karena bukan tidak mungkin, penaman wilayah itu merupakan pengingat peristiwa bencana yang pernah terjadi.
“Kita juga harus mempelajari latar belakang posisi perkampungan tua yang ada. Saya yakin perkampungan tua yang ada di Lembah Palu, merupakan titik aman evakuasi, bila terjadi bencana gempa, tsunami dan likuifaksi,” jelasnya.
Anto, sapaan akrabnya, juga meminta kepada pemerintah, agar tidak lagi melakukan reklamasi pantai, sebaliknya daerah pesisir sudah seharusnya ditanami tanaman Bakau, yang berfungsi sebagai peredam gelombang air laut.
“Marilah kita membangun kota ini, dengan banyak belajar dari sejarah dan kearifan lokal, termasuk struktur dan arsitektur bangunan hunian dan perkantoran,” ujarnya.
Untuk wilayah yang rawan likuifaksi, Anto menyarankan agar pemerintah daerah membuatkan peta daerah degan potensi Liquifaksi, dengan skala tinggi, menengah dan rendah. Untuk daerah berpotensi tinggi atau yang telah mengalami likuifaksi kata dia, sepantasnya tidak lagi dipergunakan untuk pemukiman, sebaiknya dialih fungsikan jadi ruang terbuka hijau (RTH).
Selain itu, untuk edukasi terkait mitigasi bencana kepada masyarakat, khususnya generasi muda, Anto menyarankan agar dilakukan pemuatan sejarah lokal kedalam kurikulum pendidikan, sebagai kunci sosialisasi dan edukasi tentang potensi bencana di Lembah Palu. JEF

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish