Penderita Kanker Payudara Terbaring Lemah

* Tidak Punya Biaya Berobat Lanjut

0 12

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

MOROWALI, MERCUSUAR – Suaeba, warga Desa Sakita, Kecamatan Bungku Tengah, harus kembali terbaring lemah di kamar tidurnya.

Ia kini tak lagi kuat untuk beraktifitas akibat kanker payudara stadium empat yang dideritanya sejak 5 tahun terakhir. Pada 2015 silam, ia sempat berobat lanjut ke salah satu rumah sakit besar di Kota Makassar Sulawesi Selatan dengan bantuan berbagai pihak.

Saat itu kanker payudara yang sudah sangat parah berpusat di payudara sebelah kirinya sehingga harus menjalani kemoterapi. Namun karena keterbatasan biaya hidup, ia dan suaminya pun harus memutuskan untuk pulang ke Morowali setelah 10 bulan berada di Makassar.

Karena berobat yang tidak tuntas, lukanya kini semakin melebar dan bernanah, bahkan sudah menjalar hingga ke atas payudara bagian kanannya. Ia dan suami hanya bisa pasrah menunggu uluran tangan dari warga yang ikhlas membantu karwna penghasilannya sebagai buruh bangunan tak mencukupi.

Sang anak perempuannya, Julianti yang sudah duduk di bangku kelas III SMK Negeri Bungku Barat harus berhenti sekolah karena menjaga sang ibu pada pagi hingga sore hari saat ayahnya berangkat kerja.

Suami Suaeba, Kisman mengaku telah dua kali membawa istrinya ke Puskesmas dan telah diberikan rujukan untuk segera berobat lanjut ke Makassar, tapi harus ditunda karena keterbatasan biaya. “Saya sudah dua kali diberikan rujukan untuk berobat lanjut ke Makassar, tapi masih saya tunda karena tidak ada biaya, kalau cuma berobat mungkin bisa gratis karena ada Kartu Indonesia Sehat (KIS). Tapi kasihan kebutuhan hidup di Makassar tidak cukup, apalagi kami tidak ada keluarga di sana. Jadi harus sewa tempat tinggal yang dekat dengan rumah sakit supaya tidak makan biaya,” ujarnya.

Ia juga menguraikan saat berobat pada 2015, sewa tempat tinggal per bulan mencapai Rp500 ribu. “Ada rumah singgah di sana, tapi agak jauh dari rumah sakit dan harus naik bemtor ke rumah sakit. Biayanya 20 ribu sehari, jadi kalau dihitung-hitung hampir sama dengan biaya kos, kalau kos dekat dari rumah sakit, jadi bisa jalan kaki,” ujarnya.

Saat ini, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia dan keluarga hanya mengandalkan bantuan dari warga.

Kepala sekolah SMK Negeri Bungku Barat, Muhammad Nurlin, menambahkan pihaknya terpaksa harus memberikan kebijakan terhadap muridnya karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk bersekolah. BBG

 

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish