Pengusaha Muda Palu Ekspor  Tempe ke Jepang

  • Whatsapp
WhatsApp Image 2021-06-17 at 16.56.17

PALU, MERCUSUAR – Pengusaha muda Palu, Sumartono selaku Direktur PT Arumia Kharisma Indonesia melakukan ekspor perdana tempe ke Jepang dari Jakarta, Kamis (17/6). Ekspor perdana tempe sebanyak 4,8 ton senilai 13 ribu dolar AS atau senilai Rp 187 juta itu dilepas Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, Didi Sumedi.

Sumartono yang dihubungi dari Palu, kemarin menjelaskan, Kementerian Perdagangan berharap volume ekspor tersebut akan terus meningkat serta mampu masuk ke Negara-negara lainnya.

Berita Terkait

“Ekspor perdana ke Jepang ini menjadi momen penting bagi kita, karena Jepang adalah negara importir yang cukup ketat mengaplikasikan keamanan pangan,” kata Didi Sumedi usai melepas ekspor perdana itu, seperti ditirukan Sumartono.

Menurutnya, ekspor yang dilakukan oleh PT Arumia Kharisma Indonesia itu sangat membanggakan. Didi mengatakan, diterimanya produk tempe diharapkan menjadi motivasi bagi para UKM pengrajin tempe terhadap potensi ekspor produk makanan olahan ke berbagai dunia.

Menurutnya, standar rasa, mutu, dan keamanan pangan menjadi yang paling penting untuk dipersiapkan. Jika Jepang sudah dapat ditembus, semestinya negara-negara lain juga dapat dipersiapkan sebagai calon negara tujuan ekspor tempe.

“Kita ingin memperkenalkan produk pangan olahan Indonesia ke negara non tradisional seperti wilayah Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, Eurasia, ini cocok untuk kita garap,” ujarnya.

Kemendag, kata Didi, terus mendorong kontribusi para pengusaha, termasuk pengrajin tempe untuk membantu Indonesia meningkatkan ekspor non migas ke mancanegara.

Pihaknya mencatat, selama periode Januari-April 2021, ekspor non migas ke Jepang telah mencapai nilai 5,2 miliar dolar AS. Angka tersebut mengalami kenaikan  dibanding periode sama tahun lalu sekitar 15,4 persen.

Didi mengatakan peningkatan itu cukup tinggi lantaran pada tahun lalu kinerja ekspor Indonesia ke Jepang anjlok hingga 10 persen.

Sementara untuk tahun 2021, Kemendag menargetkan ekspor non migas bisa mencapai 164 miliar dolar AS. Karena itu, dibutuhkan dukungan para eksportir baik skala UMKM maupun besar khususnya yang bergerak di bidang pangan olahan.

“Kita juga terus melakukan negosiasi-negosiasi dengan negara mitra dagang supaya daya saing kita bisa lebih baik di negara tujuan ekspor,” ujar dia.

Ekspor Durian

Sebelumnya, PT Arumia Kharisma Indonesia beberapa kali melakukan ekspor durian asal Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah ke Osaka, Jepang dari Palu. Selain durian juga ada bawang merah, daun sereh, lengkuas, kelapa bulat, dan janur.

Sumartono Yunus menjelaskan, ekspor durian masih terbatas namun sudah sering dilakukan. Sejak ekspor perdana sampai sekarang setidaknya sudah 15 kali dilakukan pengiriman ke Osaka melalui pesawat Garuda Indonesia dari Bandara Mutiara Sis Aldjufri, Palu.

Sumartono yang akrab disapa Tono menjelaskan, terakhir, dikirim buah durian sebanyak 714 kilogram dan durian kupas beku sebanyak 15 kilogram. Semua durian berkualitas ekspor itu diperoleh dari Kabupaten Parigi Moutong.

Selain itu dikirim pula bawang merah sebanyak 300 kilogram, daun sereh 30 kilogram, lengkuas 30 kilogram, janur 30 kilogram, kelapa bular 50 kilogram, dan es kelpa 37 kilogram.

Ditanya kendala selama ini, Tono mengatakan soal ketersediaan komoditi. Kalau pun ada komoditi yang dibutuhkan harus melihat kualitas ekspor.

“Kendala sih selama ini kita masih kekurangan sumber komoditi. Artinya, banyak variasi komoditi yang punya nilai jual tinggi untuk ekspor tetapi kualitasnya kurang. Ini dikarenakan minimnya edukasi ke petani dan nelayan kita untuk menghasilkan produk berkualitas ekspor,” katanya.

Kemudian, katanya, juga terkait distribusi dan transportasi yang masih mahalnya ongkos kirim air cargo. Ini menjadi kendala utama bari perusahaannya, terutama untuk membuka peluang komoditi Sulteng masuk ke pasar Jepang.

Meski begitu, Tono mengakui, baik agen maupun pemerintah daerah sudah berusaha untuk mempermudah. Namun disbanding daerah lainnya, di Sulteng masih terhitung mahal.

Tono mengapresiasi ke dinas-dinas terkait seperti Dinas Perikanan, Dinas Perdagangan, Karantina, dan bea Cukai yang selama ini sudah banyak membantu kelancaran proses ekspor yang dilakukan.MAN

Ponpes Gratis Kualitas Fantastis

Baca Juga