Pertumbuhan Infrastruktur Mendorong Daya Saing Sulteng

104

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

PALU, MERCUSUAR – Wakil Ketua Komisi V (bidang infrastruktur dan perhubungan) DPR RI Muhidin Mohamad Said mengatakan pertumbuhan infrastruktur di Sulawesi Tengah bisa memicu daya saing provinsi ini di tingkat nasional. Ke depan Sulteng akan menjadi salah satu daerah tujuan investasi yang menggiurkan.
Hal itu dikemukakan Muhidin Said dalam percakapannya melalui telepon dengan wartawan Mercusuar, Tasman Banto terkait HUT ke-54 Sulawesi Tengah, Kamis (12/4).

Sementara Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola menyatakan peringkat daya saing Sulteng naik pada peringkat ke-12 di tahun 2017, yang sebelumnya peringkat 20 tahun 2015 dan menjadi peringkat 14 tahun 2016.
“Ini melalui penelitian nasional University of Singapore tentang peringkat daya saing dan strategi pembangunan pada 34 provinsi di Indonesia,” ungkap Gubernur Longki dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) tingkat Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2018, di Palu pekan lalu.
Gubernur menjelaskan peringkat daya saing Sulteng, yang diukur berdasarkan empat lingkup pengukuran elemen daya saing, yaitu stabilitas ekonomi makro, perencanan pemerintah dan institusi, keuangan bisnis dan tenaga kerja, serta kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur.
“Sulteng peringkat ke-12 dengan 0,270 poin, satu tingkat di atas Kalimantan Tengah 0,090 poin dan di bawah Kalimantan Selatan 0,318 poin,” ungkap gubernur.

Menurut Muhidin, yang mengawali kariernya sebagai pengusaha dengan mengerjakan pagar Korem 132/Tadulako, saat ini sejumlah pelabuhan laut di daerah terpencil di Sulawesi Tengah telah dibangun sehingga membuka daerah ini tidak lagi ketertinggalan.
“Semua konektivitas sudah terbangun tinggal dimanfaatkan oleh pemerintah,” kata Muhidin.
Selain itu, jalan-jalan nasional juga sudah terbangun dan bisa menghubungkan Sulawesi Tengah dengan daerah lain.
Menurutnya, Provinsi Sulawesi Tengah saat ini memiliki jalan nasional terpanjang di Pulau Sulawesi dengan panjang sekitar 3.000 kilometer lebih sehingga membutuhkan biaya perawatan cukup tinggi. Jalan di kepala burung di Banggai, juga akan menjadi jalan nasional. Kondisi jalan nasional 96 persen mantap.
Jalan nasional yang panjang itu membutuhkan biaya pemeliharaan sedikitnya Rp 2 triliun saat ini.

Jalan nasional di Sulawesi Tengah dimulai dari tugu nol kilometer di Bundaran Hasanuddin, Kota Palu, dan terus berlanjut hingga menuju perbatasan Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
Sementara itu sejumlah bandar udara (bandara) di provinsi berpenduduk hampir 3 juta jiwa ini juga terus diperbaiki dan ditambah jumlahnya.
Muhidin mengatakan, dalam waktu dekat bandara di Kabupaten Morowali segera beroperasi karena saat ini sedang diperpang lagi landasannya. Di Kabupaten Tojo Una-Una sudah beroperasi. Demikian juga bandara di Banggai Laut, segera dibangun karena pembebasan lahan sudah selesai. Semuanya ini diharapkan terus mendongkrak pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah.
Dia mengatakan bandara di Luwuk, Kabupaten Banggai, bukan lagi bandara perintis tetapi sudah menjadi bandara komersil sehingga akan semakin ramai dan memicu geliat ekonomi.
Sebuah rencana pembangunan bandara perintis di Kabupaten Parigi Moutong juga sedang disiapkan untuk mempermudah akses perekonomian dan perhubungan.
Politisi Partai Golkar ini berharap Pemprov Sulawesi Tengah terus membangun infrastruktur yang masih tertinggal sehingga daya saing bisa ditingkatkan.

Investasi Menggiurkan 

Muhidin yang berlatar belakang pengusaha menjelaskan, Sulawesi Tengah ke depan akan menjadi salah satu tujuan daerah investasi yang menggiurkan. Sulteng punya dua kawasan ekonomi, di Pantoloan, Palu dan di Morowali.

Di Morowali sudah berjalan dengan baik. Sementara KEK di Pantoloan perlu mendesak pemerintah agar perusahaan-perusahaan yang pernah mendantangani perjanjian kesepahaman segera direalisir.

“Selasa pekan depan Pak Menteri akan datang ke Palu untuk mempresentasikan industri yang ada di Morowali di Universitas Tadulako. Sangat bagus, Pak Menteri akan menjelaskan secara detail perkembangan industri di Morowali,” kata Muhidin.

Semakin banyaknya perusahaan tambang yang beroperasi berimplikasi pada meningkatnya produksi dan ekspor tambang dari perusahaan  yang pada gilirannya meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah.

Sementara itu, sebagai sebuah provinsi yang memiliki peran besar di kawasan timur Indonesia, Sulawesi Tengah perlu memetakan kekuatan dan kelemahannya agar bisa melanjutkan kelangsungan pembangunan ke depan.

Selain itu, daerah ini juga harus bisa melihat tantangan dan peluang ke depan untuk mencapai hasil yang lebih baik lagi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu pendekatan untuk memetakan hal itu adalah menggunakan analisis SWOT atau strength (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (peluang), dan threat (hambatan). Suatu daerah harus membuat analisis SWOT dengan menekankan kepada kekuatannya untuk menutupi kelemahannya sambil menggunakan peluang-peluang yang yang ada.

Salah satu kekuatan utama Sulawesi Tengah saat ini adalah sumber daya alam yang melimpah, mulai dari sub-sektor tanaman bahan makanan, perkebunan, perikanan, hingga pertambangan.

Sebut saja komoditas kakao yang walaupun mengalami penurunan produksi dalam tiga tahun terakhir dianggap masih menjadi penopang utama di sektor perkebunan.

Demikian halnya dengan kelapa sawit yang terus mengalami ekspansi di beberapa daerah, seperti di Kabupaten Banggai, Kabupaten Morowali, dan Donggala.

Di sisi lain, perikanan juga menunjukkan pertumbuhan positif. Peningkatan produksi rumput laut, diversifikasi udang vaname, dan investasi industri pengolahan ikan merupakan salah satu indikator positif.

Kekuatan lain yang dimiliki Sulawesi Tengah adalah letak geografis strategis di antara berbagai provinsi di Sulawesi dan Kalimantan. Kondisi tersebut tentu berdampak positif pada jalur perdagangan yang akan menguntungkan Sulawesi Tengah.

Selain kekuatan itu, Sulawesi Tengah juga masih memiliki kekurangan khususnya dalam kesejahteraan petani. Hal itu tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) provinsi ini yang selalu berada di bawah.

Untuk ke depannya, selain mendorong produktivitas dan produksi berbagai komoditas unggulan Sulawesi Tengah, pemerintah daerah juga perlu mendorong investasi pabrik pengolahan yang dapat memberikan nilai tambah dari komoditas-komoditas tersebut.***

 

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Komentar dinonaktifkan