Petani Diminta Tanam Komoditi Tahan Kemarau

0 70

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

BIROBULI UTARA, MERCUSUAR – Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH), Trie Iriany Lamakampali mengatakan, fenomena iklim kemarau berkepanjangan saat ini melanda Sulteng bahkan nasional, merupakan bencana bagi pertanian domestik.

Pasalnya, dengan kemarau panjang, suplai nutrisi terhadap pertanian baik padi maupun tanaman hortikultura bakal terhambat seiring dengan meningkatnya kebutuhan air tanaman tersebut.

Ia menekankan, secara tidak langsung petani akan lebih besar potensi gagal panen dari pada keberhasilan yang pasti berpengaruh terhadap distribusi pertanian lokal dalam permintaan pasar.

“Ini kemarau panjang, mau tanaman apapun sebenarnya membutuhkan air. Jadi ini bencana sebenarnya untuk pertanian, cobaan kalau iklim seperti ini,” katanya, belum lama ini.

Untuk itu, dirinya mengimbau kepada para petani di Sulteng untuk mengalihkan komoditi tanamnya menjadi komoditi yang tahan terhadap kemarau dan hanya membutuhkan sedikit suplai air untuk bertahan hidup hingga masa panen, seperti padi ladang dan jagung.

“Tetap juga kita mengimbau untuk menyesuaikan komoditi yang memang tahan kemarau, ada beberapa teknologi-teknologi hasil penelitian dari litbang Kementerian Pertanian. Tetapi memang tidak mudah, karena kembali lagi kepada petaninya, sebab disisi ini mereka tetap berfikir, ‘oh ini spekulasi, kita nanti bakal rugi lagi. Kalau sudah seperti itu, ya, kami mau katakan apa?,” tuturnya.

“Itu kembali lagi ke haknya petani, tetapi pemerintah tetap mendorong untuk memastikan ada tanaman yang memang sesuai dengan kondisi iklim seperti ini seperti padi ladang, jagung juga termasuk,” ujarnya menambahkan.

Menurut Tri Iriany, sempat ada predikisi iklim di Sulteng tidak se-ekstrem yang terjadi. Namun, saat ini sudah terjadi kemarau berkepanjangan sehingga tidak ada jalan lain selain menghadapinya baik pemerintah, petani, dan pertanian daerah.

Dikatakannya, pemerintah juga mendorong daerah dengan cuaca yang masih dirundung hujan untuk tidak berhenti melakukan penanaman sehingga masih bisa menutupi permintaan kebutuhan pasar konsumen.

“Saya yakin di Sulteng ada daerah-daerah pertanian tertentu yang masih ada hujannya. Itu kita dorong tidak berhenti petaninya menanam,” ungkapnya.UTM

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish