PMP Sulteng dan Sejumlah Ormas Gagas Konsep Huntap

0 15

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

BESUSU TIMUR, MERCUSUAR – Pasca bencana 28 September lalu dan setelah selesai masa tanggap darurat bencana, selain logistik, hunian sementara (huntara), kemudian hunian tetap (huntap), serta pembangunan proses sosial ekonomi menjadi konsentrasi utama oleh Posko Menangkan Pancasila (PMP) Sulteng dan sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya.

Koordinator PMP Sulteng, Azman Asgar, Sabtu (3/11/2018) mengatakan, saat ini pihaknya bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan seperti; Bina Desa, Komunitas Kemanusiaan Sigi, KSP Sangurara Desa Pombeve, STN, LMND, serta Partai Nasdem Sulteng, selama dua pekan terakhir membangun huntara di lokasi eks HGU PT HASPAN di Desa Pombeve, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Adapun rinciannya, huntara yang dibangun berjumlah 64 buah, yang akan didiami oleh 64 kepala keluarga (KK) dari 122 kepala keluarga yang mengungsi di titik lokasi yang dikelola secara mandiri dan gotong royong oleh masyarakat sekitar, serta para korban gempa bumi.

“Rata-rata yang datang di lokasi pengungsian ini adalah warga Desa Jono Oge yang sudah tidak memiliki rumah, akibat ditelan oleh likuifaksi,” jelas Azman.

Lanjut Azman, adapun langkah rekonstruksi pasca bencana yang pihaknya lakukan, adalah membangun hunian tetap (huntap) di luar dari lokasi huntara yang sudah dibangun sebelumnya. Sebagaimana sebelumnya pembangunan huntara, pembangunan huntap ini tidak semata-mata hanya membangun hunian korban bencana dan mengabaikan pembangunan kembali aspek sosial dan ekonomi korban bencana.

Sebagai contoh, bahan pembangunan Huntara, seperti atap dan kayu bulat, berasal dari korban, dibeli dari mereka dan huntara diperuntukan untuk mereka. Konsep yang digunakan bukan konsep  “cash for work” milik Pemerintah yang hendak dipakai dalam pembangunan huntap Donggala, Sigi dan Palu, pasca bencana.

Point penting dari pembangunan kembali aspek sosial dan ekonomi tersebut kata Azman, adalah budaya gotong royong, penekanan inflasi dan pengembalian akses ekonomi korban bencana. Setidaknya kata dia, konsep seperti inilah yang perlu dikerjakan oleh Pemda setempat, dalam penanganan huntara-huntap.

“Dengan begitu, masyarakat yang terdampak bencana juga mendapatkan asas manfaat secara ekonomi, jika segala bentuk perlengkapan dan bahan dibeli dari masyarakat korban bencana, ditambah lagi pelibatan mereka dalam proses pembuatan huntara dan huntap,” lanjutnya.

Untuk itu kata Azman, kepada kawan-kawan seperjuangan yang ingin membantu korban bencana Palu, Sigi, dan Donggala, diharapkan untuk dapat turut serta menjadi donatur dan atau memberikan bantuan pembangunan huntap yang digagas oleh pihaknya serta sejumlah organisasi kemasyarakatan tersebut. JEF

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish