Potongan ‘Jenazah’ Ditemukan di Hotel

0 68

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

PALU, MERCUSUAR – Tim DVI Polda Sulteng, PMI, Tagana dan BPBD Sulteng  yang tergabung dalam tim forensik, melakukan identifikasi potongan jenazah  di salah satu hotel di Jalan Tanjung Dako, Rabu (27/2/2019).

Identifikasi awal tersebut untuk memudahkan tim DVI  melakukan identifikasi lanjutan. Setelah potongan jenazah dievakuasi dengan menggunakan baju khusus  ke dalam kantong plastik, potongan tubuh tersebut kemudian dibawa ke rumah sakit.

Beberapa barang milik korban  yang berhamburan di sekitar hotel, berupa perhiasan, ponsel, aksesoris serta benda lainnya  diamankan dan dipisahkan dari potongan tubuh  yang diduga berjenis kelamin perempuan.

Usai mengevakuasi potongan jenazah, tim forensik kemudian membuat laporan  untuk penyerahan potongan jenazah, dan memotret TKP sebagai laporan kepada atasannya masing-masing.

Demikianlah simulasi penanganan jenazah, pasca ledakan bom  yang digelar di salah satu hotel di Kota Palu. Simulasi tersebut  menggunakan potongan boneka  dalam pelatihan sesi praktik pencarian  dan pemulihan jenazah  pada kondisi darurat untuk respons pertama. Kegiatan  yang digelar oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC)  itu  yang dipandu oleh ahli forensik ICRC, Eva Bruenisholz, dan diikuti oleh TNI, polisi, BPBD, Tagana, Pemprov, Dinsos dan sejumlah perwakilan pers di Kota Palu.

“Pahami rantai komando,  kemudian ikuti panduan dan prosedur yang berlaku, dan ingat, peran anda penting dan proses identifikasi bergantung pada anda. Seta bertindaklah secara etis, rajin, penuh hormat dan bertanggung jawab,” ujar Eva, yang memandu simulasi  didampingi penerjemahnya.

Eva menegaskan, kalau seorang responden yang pertama kali tiba di TKP  haruslah sudah aman dari lingkungan TKP, yang banyak bertebaran potongan jenazah, sebab menurut Eva, jenazah yang berserakan memiliki penyakit yang menular, yang bisa membahayakan responden yang pertama kali terjun ke TKP.

Dalam setiap anggota tim  berjumlah minimal tiga orang, dengan pembagian tugas, salah satunya  mengevakuasi jenazah ke kantong jenazah, kemudian satu orang bertugas mencatat, dan yang terakhir adalah  memotret setiap sudut TKP.

“Hormati jenazah, jangan menyebar foto potongan jenazah, selain berbentuk laporan, yang sifatnya rahasia. Jangan menyebarkan di media sosial, itu pelanggaran, dan tidak beretika,” tegas Eva.

Deputi Koordinator Komunikasi ICRC, Generesius Blomen Nomer, atau yang akrab disapa Soni, menjelaskan kalau kegiatan yang digagas oleh ICRC  bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas  tentang penanganan jenazah  yang berstandar internasional, sehingga prosesnya  bisa lebih maksimal, dan relawannya lebih terjaga kesehatannya.

“Kami juga mengundang jurnalis  supaya rekan-rekan jurnalis juga memahami posisi pengambilan gambar, dan tahu  dimana harus bertindak,” pungkasnya.  NDA   

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish