Sekkab Balut: Tidak Ada Desa Tenggelam

0 35

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

BALUT, MERCUSUAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banggai Laut (Balut) menegaskan informasi air laut naik serta adanya desa yang tenggelam akibat gempa berkekuatan 6.9 SR pada Jumat (12/4/2019) sekira pukul 19.40 Wita berpusat di 1,90 Lintang Selatan dan 122,54 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer, hoaks.

Demikian ditegaskan pejabat (Pj) Sekretaris Kabupaten (Sekkab), Idhamsyah Tompo usai bersama-sama Kapolres Banggai Kepulauan (Bangkep), AKBP Aditya Surya Dharma memimpin TRC Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balut melakukan monitoring di wilayah terdekat titik gempa di wilayah Kecamatan Bangkurung, Sabtu (13/4/2019).

Pj Sekkab Idhamsyah mengatakan informasi yang tersebar adanya desa di Balut tenggelam tidak benar.

Dia berharap pada masyarakat ketika menerima informasi untuk tidak langsung percaya.

“Seperti dibicarakan masyarakat bahwa ada desa yang tenggelam itu tidak benar. Saat ini Bangkurung dan Togong Sagu aktivitas masyarakat sudah seperti biasa,”, katanya melalui via WhatsApp.

Pemkab Balut juga berharap agar masyarakat tetap tenang di rumah masing-masing dan jangan percaya berita yang tidak bertanggung jawab, karena biasa ada yang mengabarkan berita hoaks padahal memiliki maksud dan tujuan lain.

“Pemerintah juga berharap kalau ingin meninggalkan rumah supaya diperiksa terlebih dahulu kondisi rumah serta jangan lupa pintu dan jendela rumah di kunci,” imbaunya.

Diketahui, gempa terjadi di wilayah Bangkep dan Balut itu menimbulkan kepanikan luar biasa bagi masyarakat Kota Banggai dan sekitarnya. Pasalnya, pesan yang disampaikan Badan Meteoroli Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) gempa berkekuatan 6,9 SR tersebut berpotensi tsunami.

Pesan tersebut menyebabkan warga yang tinggal di pinggir pantai langsung mengungsi ke dataran lebih tinggi.

Bahkan, pasien RSUD Banggai di Desa Adean, Kecamatan Banggai Tengah pun keluar dari ruang perawatan.

BEBERAPA SESAR AKTIF

Analisa BMKG diduga struktur sesar yang menjadi pembangkit gempa adalah Sesar Peleng yang jalurnya berarah barat daya-timut laut di Pulau Peleng dan menerus ke Teluk Tolo.  

“Sesar Peleng merupakan sesar aktif yang memiliki laju sesar sebesar 1 milimeter per tahun dan magnitudo maksimum yang mencapai magnitudo 6,9,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, dalam rilisnya, Sabtu (13/4/2019).

Menurutnmya, wilayah Kepulauan Banggai berada di kawasan rawan gempa dan tsunami, sebab secara tektonik di wilayah itu terdapat beberapa sesar aktif, seperti Sesar Naik Batui, Sesar Balantak, Sesar Ambelang, dan Sesar Peleng. “Berdasarkan catatan sejarah di Kepulauan Banggai sudah beberapa kali terjadi tsunami. Wilayah ini pernah dilanda tsunami pada 13 Desember 1858. Terjangan tsunami menyebabkan banyak desa-desa di pesisir pantai Kepulauan Banggai mengalami kerusakan yang parah,” kata Daryono.

Pada 29 Juli 1859, lanjut dia, wilayah Kepulauan Pulau Banggai kembali dilanda tsunami yang menerjang dan merusak banyak bangunan rumah yang terletak di wilayah pesisir. “Terakhir adalah tsunami akibat gempa dengan bermagnitudo 7,5 pada 4 Mei 2000. Gempa ini memicu tsunami yang kemudian melanda Luwuk, Banggai, dan Peleng,” ungkap Daryono.

Tsunami Banggai iti memiliki ketinggian yang diperkirakan mencapai hingga 3 hingga 6 meter di Kecamatan Totikum, Kayutanyo dan Uwedikan, serta melanda sejauh 100 meter dari garis pantai.

Di Dermaga Totikum air surut kurang lebih 200 meter. Kejadian gempa dan tsunami tahun 2000 ini mengakibatkan korban meninggal sebanyak 46 orang dan 264 orang luka-luka. RM

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublish