UMKM Mampu Bertahan Ditengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
UMKM BI 2

MERCUSUAR – Dewasa ini dalam menghadapi revolusi industry 4.0 yang ditandai dengan berkembangnya teknologi Internet of Things, kita dihadapkan oleh metamorfosa teknologi yang terus berkembang mengikuti era yang disebut digitalisasi. Kitapun dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kondisi tersebut, agar bisa turut menikmati berbagai manfaat di era digitalisasi saat ini. Beberapa manfaat dari era digitasasi antara lain yaitu kemudahan berkomunikasi dengan menghilangkan jarak, work from home, menghasilkan kreasi berbasis teknologi (missal vloger, youtuber, konten creator dan sejenisnya). Hal yang paling sering kita rasakan dari pemanfaatan teknologi di era digitalisasi saat ini selain kemudahan komunikasi yang dirasakan semua generasi, adalah kemudahan transaksi jual beli online “E-Commerce” dan pembayaran non tunai “Cashless”.

Tahun ini merupakan tahun yang penuh tantangan dan sebagai tahun implementasi pemanfaatan teknologi oleh semua generasi, termasuk para UMKM. Sebagian UMKM yang mampu berinovasi dan telah beradaptasi dengan teknologi, menjadikan dampak wabah Pandemi Covid-19 sebagai peluang bisnis dan keberkahan.

Saat semua orang dihimbau untuk lebih sering beraktifitas #dirumahaja mulai dari bekerja, belanja dan bersosialisasi maka diharapkan inilah saat yang tepat untuk memanfaatkan digital, antara lain memanfaatkan Sosial Media hingga Marketplace sebagai media penjualan. Selain itu, berkat kemajuan teknologi di era digitalisasi, telah melahirkan inovasi produk yang dinamakan dompet digital dimana kita cukup membawa smartphone android atau ios milik kita yang telah terinstal aplikasi dompet digital antara lain Ovo, GoPay, Linkaja, Dana dan sejenisnya sebagai sistem pembayaran menggunakan QR Code. Dari fenomena pesatnya perkembangan sistem pembayaran berbasis QR Code tersebut, kemudian Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan Standar Nasional QR Code Pembayaran atau Quick Respons Code Indonesia Standar yakni standar nasional QR Code Pembayaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk digunakan dalam memfasilitasi transaksi pembayaran di Indonesia dan sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai Gerbang Pembayaran Nasional (GPN).

Gangguan yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 antara lain yakni perekonomian, tidak terkecuali pada keberlangsungan UMKM binaan dan mitra Bank Indonesia. Gangguan ini memberikan efek domino yang cukup luas bagi UMKM dan tenaga kerja antara lain yakni karena adanya larangan untuk beraktivitas dikeramaian menyebabkan sunyinya toko oleh-oleh dan sebagian besar UMKM mengalami penurunan omset penjualan, yang kemudian berdampak pada tenaga kerja yang dipekerjakan dan berpotensi mempengaruhi kesejahteraan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kemnaker dan BPJS Ketenagakerjaan per tanggal 29 April 2020, di Sulawesi Tengah terdapat sebanyak 1.500 tenaga kerja yang harus di PHK dan sebanyak 9.152 tenaga kerja yang harus dirumahkan. Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia kemudian mengambil langkah prefentif sebagai upaya untuk menyelamatkan UMKM terdampak Covid-19 ini melalui beberapa program percepatan, antara lain meningkatkan kapasitas UMKM berupa webinar pelatihan pemanfaatan digital bagi UMKM dan mempercepat pemanfaatan Digital Payment dan Penjualan.

Program percepatan tersebut telah diterapkan oleh UMKM Hj. Mbok Sri beralamat di jalan Dr. Abdurrahman Saleh, Birobuli Utara, Kec. Palu Selatan, Kota Palu merupakan salah satu UMKM binaan/mitra yang mampu bertahan dimasa pandemi Covid-19 ini. UMKM Hj. Mbok Sri mampu melihat peluang bisnis dengan memaksimalkan potensi pemasaran online dan pangsa pasar lokal dalam kota Palu dsk. Saat ini pemesanan dari luar daerah mengalami penurunan sebagai dampak dari pengiriman logistik yang terbatas, ujar Suarno pemilik UMKM Hj. Mbok Sri. Semenjak Covid-19 masuk di Kota Palu, omset mengalami penurunan sebesar 50% dari biasanya. Namun pengelola UMKM Hj. Mbok Sri berusaha untuk tetap survive dengan mengoptimalkan potensi pasar lokal melalui promosi di media sosial dan layanan ojek online. Berdasarkan informasi dari pengelola bahwa saat ini pemesanan oleh konsumen lebih sering menggunakan jasa ojek online, karena alasan mematuhi anjuran pemerintah untuk berbalanja dari rumah.

 

Ditengah kondisi seperti ini transaksi nontunai menjadi primadona, hal tersebut sejalan dengan himbauan Bank Indonesia untuk kepada masyarakat untuk mengoptimalkan transaksi nontunai selama masa Covid-19, hal tersebut sekaligus sebagai upaya memutus penyebaran Covid-19 melalui uang tunai. UMKM pun harus siap dengan konsekuensinya yakni siap dengan teknologi dan jaringannya, termasuk UMKM Hj. Mbok Sri yang telah menyediakan pilihan pembayaran nontunai bagi konsumen. Berdasarkan nilai transaksi saat ini, yakni sebesar 40% dari transaksi harian menggunakan nontunai, hal tersebut mengalami peningkatan dari sebelumnya yang cuma 20% transaksi nontunai harian.

Selanjutnya, UMKM Bintang Soraya yang beralamat di Jalan Djaelangkara, Bayaoge, Palu Barat, Kota Palu dengan produksi utama yakni olahan kopi. Surayyah Almahdali selaku pengelola mengungkapkan sisi positif dari dampak Covid-19 ini, yakni sebagai transisi dalam persiapan bisnis untuk lebih berkembang, antara lain yakni meningkatkan keahlian yang dimiliki dalam hal penjualan online atau pemanfaatan digital E-Commerce untuk perkembangan bisnis kedepannya, ujar Surayyah Almahdali. Selain pemanfaatan digitalisasi pada kegiatan usaha, pengelola Bintang Soraya juga memanfaatkan peluang dengan kondisi saat ini yakni fokus menjual produk sesuai kebutuhan konsumen. Disaat penjualan produk kopi mengalami penurunan, pengelola mengoptimalkan produksi bubuk jahe sebagai bahan minuman herbal untuk memelihara kesehatan dan meningkatkan sistem imun, serta memanfaatkan momen bulan Ramadhan dengan berjualan buah Qurma serta Madu. Dalam hal fasilitas pembayaran pun mengalami peningkatan dari sisi transaksi nontunai yakni mencapai 50% dari total transaksi perharinya. Hal tersebut karena kesadaran masyarakat akan potensi penyebaran Covid-19 melalui uang tunai.

 

Sistem pembayaran nontunai QRIS memudahkan konsumen dan Merchant al. UMKM dalam bertransaksi. Dalam penerapan model pembayaran berbasis QR Code tersebut tidak terlalu sulit bahkan sangatlah mudah, cukup dengan melakukan scan barcode pembayaran yang tersedia pada Merchant menggunakan dompet digital yang telah terinstal di Smartphone, kemudian melakukan konfirmasi atas biaya yang dibayarkan, masukan password transaksi dan tunggu sampai muncul keterangan transaksi berhasil dilakukan, dana akan masuk ke rekening Bank yang didaftarkan Merchant. Pendaftarannya pun mudah, cukup dengan rekening Bank, data diri pemilik usaha dan mengisi form pendaftaran yang disediakan, serta pemrosesan permohonan oleh Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) yang kurang dari 1 (satu) minggu setelah pendaftaran.

Dalam pemanfaatannya, selain memberikan kemudahan transaksi kepada konsumen dan Merchant, QRIS juga memberikan fasilitas untuk digunakan oleh semua lapisan masyarakat dengan mudah dan aman dalam genggaman Smartphone, efisiensi QR Code dengan cukup 1 (satu) QR Code untuk semua aplikasi dompet digital serta transaksi cepat dan aman langsung masuk ke rekening Bank milik Merchant dalam mendukung kelancaran sistem pembayaran. Perkembangannya sampai saat ini, jumlah Merchant yang sudah memanfaatkan QRIS di Sulawesi Tengah mengalami peningkatan dimasa Pandemi Covid-19 yakni dari sejumlah 11.113 Merchant pertanggal 31 Maret 2020, menjadi sejumlah 15.505 Merchant perdata tanggal 15 Mei 2020.

Sekilas kondisi UMKM diatas merupakan dampak dari program percepatan sebagai upaya penyelamatan UMKM terdampak dan tetap bertahan di kondisi pendemi saat ini. UMKM diharapkan dapat memaksimalkan peranan teknologi dan cerdas dalam melihat peluang pasar yang ada. Saat setelah pandemi ini berlalu, UMKM telah memiliki daya saing yang tinggi secara nasional. RES

Baca Juga