Warga Kawatuna Gelar Ritual Pora’a Binangga

108

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

KAWATUNA, MERCUSUAR– Menghadapi pergantian musim dari musim barat ke musim timur, masyarakat Kawatuna kembali melakukan ritua adat minta hujan atau biasa disebut Pora’a Binangga. Ritual Pora’a Binangga merupakan ritual adat tertua di wilayah keadatan, dimana dilakukan pada zaman dahulu sebelum agama masuk, untuk memohon kepada Tuhan agar diberi keselamatan.

Menurut Ketua Penyelenggara ritual adat, Suandi bahwa kegiatan ini dilakukan dulunya apabila ada masyarakat yang melakukan kesalahan-kesalahan, sehingga dilakukan upacara penyembelihan hewan berupa ayam atau kambing, sebagai ganti penebusan kesalahan kita kepada para leluhur.

“Istilahnya leluhur kita mengatakan, bila musim timur datang namun belum turun hujan berarti ada pelanggaran yang terjadi di kelurahan itu, sehingga kita sembelihkan kurban sebagai penebus dosa. Dengan demikian telah dilakukan pembersihan dan Insya Allah SWT alirkan kembali air yang selama ini kita gunakan di masyarakat untuk menghidupkan pertanian dan lainya,” jelasnya, yang saat itu didampingi anggota Dewan Adat Kawatuna, Abdul Gani, Rabu (4/4/2018).

Sebelum melaksanakan Pora’a Binangga, lanjut Suandi terdapat tiga tahapan yang harus dilalui, pertama nenau atau pamitan dengan para penjaga matahari penjaga bumi, penjaga suangai, bahwa dengan masuknya musim timur atau timoro, warga sudah siap menerima hujan dan siap menanam, serta siap mengawal air untuk kehidupan setelah melewati mesim barat.

“Setelah itu ada istilah mopakoni binangga, kita pamit sama leluhur-leluhur yang ada disekitar kuala, dimana dengan datangnya musim timur ini, maka kuala ini akan teraliri dan tidak mengganggu kehidupan yang ada,” ujarnya.

Setelah itu ada mompaura artinya setelah kami melewati musim barat yang kekeringan yang menyebabkan bencana dengan banyaknya ternak yang mati, maka kita kembalikan dengan musim timur, maka musim barat dikembalikan ke posisnya semula di wilayah barat.

Penggunaan kambing yang disembelih untuk darahnya dialiri bersama air sungai untuk memandikan To Manurun (orang dari langit ).

Ritual Pora’a Binangga, dulunya menggunakan kambing dari denda orang melakukan pelanggaran adat di wilayah keadatan Kawatuna,namun sekaran dapata diambil dari sumbangan sukarela warga.

Sebanyak empat orang yang dipercai adalah turunan To Manurun yang dimandikan sebagai penyucian yakni Thompa Yojokodi, dg Mangera, Najamudin, dan Andi Ghalib, sedangkan yang memandikan adalah turunan yang menemukan To Manurun pada saat itu dalam ritual Pue Sole oge.

 

Hidayat: Terima Kasih Sudah Lestarikan Budaya

Sementara itu, Wali kota Palu Hidayat mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada para pemangku adata yang sudah melestarikan kebudayaan adat. Dia katakan melihat proses ritual adat ini, sangat berjalan dengan apa yang kita inginkan yakni dalam harapan Pemkot pembangunan Kota Palu yang sudah diletakkan didalam tema Palu Kota jasa berbudaya dan beradat dilandaskan iman dan takwa.

“Prosesi tadi pagi ini adalah budaya adat, tetapi ditutup dengan iman dan takwa dengan pembacaan barasanji/doa, sehingga ini merupakan rangkaian kebudayaan yang ingin dibangun di Kota Palu Nte adat sejalan kegiatan keagamaan,” ujarnya. ABS

Dapatkan Info berita terupdate Langsung ke perangkat anda, Berlangganan.

Komentar dinonaktifkan