BANGGAI, MERCUSUAR – Setelah menunggu tiga bulan, Erwin Kutondong (51) dan Apmoni Maodja (53), pasangan petani Desa Honbola, akhirnya melakukan panen jagung di lahannya di Dataran Seseba, Kamis (12/2/2026).
Erwin dan Apmoni adalah pasangan petani yang jadi anggota Kelompok Tani Malaulu Star, satu dari empat kelompok tani yang ada di Desa Honbola Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai.
Di hari panen, keduanya mengundang para anggota kelompok untuk membantu pemanenan, serta pihak PT Donggi Senoro LNG dan Sygenta yang selama ini memberikan pendampingan budidaya jagung. Turut hadir Plant General Manager DSLNG, Johar Ahadi, dan Senior Manager Relations & Communication, Aji Wihardandi serta tim.
Dari delapan petak lahan jagung seluas kurang lebih 0,7 hektare, Erwin memeroleh 53 karung jagung pipil kering. Dengan berat rata-rata setiap karung 80 kilogram, kurang lebih panen jagungnya kali ini mencapai 4,2 ton pipil kering.
Ini menjadi panen pertamanya lagi, setelah sekian tahun tidak membudidayakan komoditas jagung karena hasil yang dianggap tidak memuaskan. Capaian ini, bagi Erwin dan kelompoknya, adalah kemajuan jika dibandingkan dengan hasil-hasil sebelumnya dan upaya yang dikerahkan.
Menurut Erwin, sebelum didampingi DSLNG, dirinya yang telah delapan tahun menanam jagung varietas lokal dengan teknik budidaya dan pengolahan lahan seadanya berdasarkan praktik turun-temurun, sering kecewa. Hasilnya pun terasa tidak sebanding dengan upaya yang dilakukan dalam rentang tiga bulan budidaya. Dengan panen yang hanya mencapai 1,5 hingga 2,5 ton per hektare dan kerepotan tenaga yang berlebih di tengah harga jagung yang kurang menarik, membuatnya akhirnya sempat berhenti menanam jagung.
Kepala Desa Honbola, Yustina Maningku yang ikut serta dalam panen juga membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, warga desa yang mayoritas petani tradisional, memiliki lahan yang cukup tersebar di Dataran Seseba. Namun, dari budidaya jagung hasilnya masih kurang memuaskan. Selama ini hasil panen hanya mencapai 2—3 ton per hektare, itupun untuk mencapai tiga ton per hektare jarang terjadi.
Dengan didampingi DSLNG dan diberikan bibit varietas unggul yaitu NK Pendekar Sakti, serta diberikan pelatihan teknik pengolahan tanah dan teknik budidaya yang tepat, didukung bantuan alat pemipil, warga Honbola seperti Erwin akhirnya mampu mencapai hasil yang cukup memuaskan.
“Kami berterima kasih kepada DSLNG atas dampingannya. Ini bagi kami yang biasa menanam jagung di sini, kalau kita lihat ini hasilnya cukup lumayan,” kata Yustina.

Hasil yang dicapai Erwin, juga mendorong anggota kelompok lainnya untuk kembali giat membudidayakan komoditas jagung di lahan-lahan di Seseba. Kelompok-kelompok petani melihat tingkat ketahanan terhadap hama yang tinggi telah memudahkan biaya dan tenaga untuk perawatan tanaman, serta hasil panen yang meningkat.
Apalagi, Dengan bibit lokal, Erwin menghabiskan 10 kilogram bibit di lahannya. Sementara kali ini, cukup menghabiskan lima kilogram bibit, dengan satu lubang tanam cukup satu butir benih, yang semuanya tumbuh dan tahan hama hingga panen.
Meskipun capaian panen Erwin dan Apmoni masih perlu ditingkatkan lagi, namun hasil tersebut adalah capaian baru yang menginspirasi dan menjadi tolok ukur bagi petani di Honbola. Erwin saat ini sedang dalam proses penyiapan lahan dengan melihat kondisi cuaca untuk kembali menanam jagung. ***






