Wakapolda Sulteng: Saya Memilih di Sisi Masyarakat

Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf

PALU, MERCUSUAR – Wakapolda Sulteng, Brigjen Pol. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf menegaskan keberpihakannya terhadap masyarakat, bukan kepada koorporasi apapun. Ia mengaku lebih takut mencederai hati dan perasaan masyarakat.

“Sebagai seorang akamsi (anak kampung sini), saya harus memaksimalkan semua kekuatan saya untuk berdiri di sisi mereka, dan berbuat baik terhadap mereka,” kata Helmi, di Palu, Senin (9/2/2026).

Oleh karena itu, Helmi menekankan siapapun tidak dapat membujuk dirinya untuk melakukan tindakan yang berhadapan dengan masyarakat, apalagi sampai melakukan hal represif seperti pengusiran, penangkapan atau lainnya, selama masyarakat berada di jalur yang benar.

Helmi mengaku dirinya sudah beberapa kali coba dibujuk dengan segala cara, agar mau berada di sisi perusahaan untuk menekan masyarakat.

“Soal jabatan, saya pernah dicopot oleh Kapolri tahun 2017 ketika saya lebih membela masyarakat ketimbang perusahaan. Alhamdulillah, Allah SWT mengizinkan saya menjadi Wakapolda,” tukasnya.

Helmi juga menegaskan tidak takut jika jabatannya menjadi taruhan. Apalagi, kata mantan Dirreskrimum Polda Sulteng itu, jabatan tidak akan lama dipegang.

“Jabatan akan berakhir, ada waktunya akan kembali menjadi masyarakat,” imbuhnya.

Mantan Kapolres Aceh Singkil itu menyebut tidak ada satupun alasan untuk membuatnya takut apalagi ciut, terkait dengan pilihan untuk tidak berpihak terhadap perusahaan yang suka menzalimi masyarakat.

Bahkan, Helmi memperingatkan kepada perusahaan yang datang ke tanah Sulteng dengan niat hanya ingin mengeruk kekayaan alam, kemudian membuat rusuh dan onar lalu membenturkan masyarakat, untuk segera memperbaiki diri.

“Apapun itu, saya akan tetap berada di sisi masyarakat. Sebaliknya, jika ada perusahaan yang datang ke sini, kemudian mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, tidak bikin rusuh, ini harus kita bela, sampai di titik darah penghabisan,” tegasnya lagi.

Helmi menyampaikan satu alasan dirinya mengambil keputusan tersebut. Bagi dia, Sulteng adalah tanah kelahiran, rumah yang menjadi tempat pulang ketika sudah pensiun nantinya. Atau setidaknya, saat tidak lagi bertugas di Sulteng, dia bisa kembali dengan sambutan hangat masyarakat.

Apalagi, di lembah Palu, tepatnya di Poboya, ada makam ayahandanya, dan tempat bermukim keluarga besarnya. Sehingga, ketika ia memilih untuk menjadi tameng perusahaan, bukan pembela masyarakat, hal itu akan mencedarai perasaan keluarga dan orang tua.

“Setidaknya saat saya pulang Lebaran, mudik ke sini, saya diterima dengan hangat oleh masyarakat, karena pernah membela mereka. Tapi, yang lebih saya takuti, ketika saya datang lagi ke sini, saya dijauhi karena pernah menjadi polisi yang tidak membela mereka,” bebernya. MBH

Pos terkait