SELAIN tempat tinggal, sekolah menjadi kebutuhan yang mendesak pascabencana Sulteng akhir September 2018 silam. Di samping membangun hunian terpadu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga membangun sekolah di puluhan titik di Sulteng.
Sebelumnya, pascabencana gempa yang melanda Sulawesi Tengah, pendidikan di wilayah terdampak berhenti sejenak. Guru dan murid juga menjadi korban bencana ketika itu. Selain itu, banyak sekolah mengalami kerusakan mulai dari ringan, sedang hingga berat sehingga proses belajar-mengajar belum efektif dilakukan.
Melihat kondisi fisik sekolah yang mengalami kerusakan, tim ACT mendirikan sekolah darurat guna mendukung kegiatan belajar di beberapa titik bekerja sama dengan lembaga mitra dalam maupun luar negeri.
Sebanyak 15 sekolah darurat yang dibangun sejak akhir 2018 hingga pertengahan 2019. Selanjutnya ACT melanjutkan program pendidikannya dengan membangun sekolah permanen yang tersebar di Palu, Sigi, dan Donggala sebanyak 12 unit.
Tidak hanya sekolah, tempat ibadah bagi umat muslim juga menjadi perhatian khusus bagi lembaga kemanusiaan global ini dengan membangun masjid darurat semi permanen. Lima bulan pascabencana, ACT telah membangun lebih dari 21 masjid. Masing-masing sebanyak 11 masjid semi permanen dan 10 masjid permanen, kebanyakan dibangun di kawasan hunian sementara.
Satu tahun berlalu semenjak bencana besar tersebut mengguncang, ACT terus mendampingi korban terdampak gempa di Palu, Sigi, dan Donggala. Pemulihan pascabencana terus dilakukan untuk membantu Sulawesi Tengah bangkit dari dukanya. Bahkan hingga saat ini.
ACT hadir memberikan pemberdayaan ekonomi masyarakat setelah gempa. Seperti yang dilakukan pada Juli 2019, sekitar 40 penyintas gempa dan likuefaksi yang menempati Integrated Community Shelter (ICS) Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, menjadi anggota pemberdayaan ekonomi ACT Sulteng. Mereka dibagi menjadi empat kelompok, setiap kelompok terdiri dari 10 orang.
Upaya pemberdayaan diadakan untuk membangun kembali potensi perekonomian bersama penghuni ICS Langaleso. Pemberdayaan tersebut dalam bentuk usaha bawang goreng, yang memang menjadi salah satu makanan khas Sulteng.
Selama pemberdayaan berjalan di ICS Langaleso, hasil penjualan dari usaha bawang goreng sudah mulai terlihat. Bahkan pada tahap awal mencapai jutaan rupiah. Program pemberdayaan ini terus berlanjut hingga sekarang dan menyentuh warga di beberapa kecamatan di Kabupaten Sigi.
Selain membantu penyintas dalam bentuk pendampingan bidang usaha, sejak Januari 2019, ACT juga membantu memulihkan perekonomian warga di sektor pertanian. Waktu gempa berkekuatan 7,4 SR, ikut merusak jaringan Irigasi Gumbasa dan mengakibatkan 8.000 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan.
Untuk memulihkan perekonomian para penyintas, pada awal 2019 ACT bergerak cepat dengan membangun sumur pertanian melalui Program Recovery yang bermitra dengan PWP sebanyak 30 titik sumur yang tersebar di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi.
ACT juga membangun Sumur Wakaf Pertanian melalui Program Global Wakaf. Sehingga, Alhamdulillah Sumur Wakaf Pertanian bisa dimanfaatkan oleh para petani untuk memenuhi kebutuhan air tanamannya.
Selain di sektor pertanian, air untuk kebutuhan rumah tangga pun terganggu sejak bencana lalu. Untuk itu, tak hanya Sumur Wakaf Pertanian saja yang dibangun, tapi juga Sumur Wakaf Keluarga serta Sumur Wakaf untuk melengkapi fasilitas MCK dan air wudhu untuk umum.
Sampai saat ini, sebanyak 52 Sumur Wakaf telah dibangun dengan kedalaman yang beragam. Untuk Sumur Wakaf Pertanian, ACT telah membangun 10 titik di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi. Untuk Sumur Wakaf Keluarga sebanyak 25 titik di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi dan Sumur Wakaf Warga/MCK sebanyak 17 titik. Sigi 12 titik, Donggala 1 titik, Parmout 3 titik dan Palu 2 titik.
Selain membangun sumur melalui program Global Wakaf, ACT juga membangun sumur bersama mitra Peace Winds Japan yang difokuskan di Kabupaten Sigi. Untuk sumur pertanian sebanyak 26 titik tersebar di Kabupaten Sigi. Di setiap titik dapat menyuplai air di lahan seluas 20-25 hektare.
Dengan begitu jumlah total lahan pertanian yang dapat difungsikan berkat sumur pertanian ini seluas 535 hektare. Selain itu bersama Peace Winds Japan, ACT juga membangun sumur warga 9 titik, mulai dari Kecamatan Sigi Boromaru 7 titik dan Tanambulava 2 titik.
Selain melaksanakan program pemulihan pascabencana, ACT juga mengimplementasikan program pusat yang bergerak di sektor pendidikan. Program tersebut ialah Sahabat Guru Indonesia (SGI). Program tersebut merupakan dukungan bagi guru berdedikasi, terutama di sekolah swasta. Program Sahabat Guru Indonesia dianggap jadi salah satu entry point atau langkah awal memberikan dukungan terhadap para guru.
Program tersebut terus digulirkan secara berkala dan masih berjalan hingga sekarang. Global Zakat – ACT bersama para dermawan berikhtiar terus mendukung semangat para guru prasejahtera yang mendidik anak bangsa. Hingga saat ini, sebanyak 18 guru honorer penerima manfaat tetap yang telah diperhatikan melalui program Sahabat Guru Indonesia di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong dan Tolitoli.
Selain bantuan tunjangan hidup, program ini juga diharapkan menjadi organisasi yang mampu menjadi wadah advokasi bagi guru-guru honorer.
Perahu Wakaf
Bencana tsunami 2018 silam begitu menyengsarakan para nelayan di pesisir Teluk Palu, Tidak sedikit gelombang setinggi hingga 2 meter itu merusak alat tangkap ikan yang mereka miliki. Meski sudah satu tahun berlalu, nelayan masih kesulitan untuk bangkit kembali.
Sementara itu, modal untuk membeli perahu kembali belum mereka miliki. Sehingga, Pada November 2019 ACT bersama Republika menyalurkan bantuan perahu lengkap dengan alat tangkap bagi para nelayan sebanyak 8 unit.
Tak hanya diberikan perahu sebagai modal melaut, Global Wakaf juga melakukan pendampingan kepada nelayan. Pendampingan dilakukan untuk memaksimalkan hasil melaut nelayan untuk meningkatkan ekonomi nelayan.
Dalam proses pemulihan ekonomi pascabencana melalui program recovery, ACT terus melakukan pembangunan di segala sektor. Pada Jauari 2020, bersama lembaga mitra Lands Aid dan Action Deutschland Hilft, Aksi cepat Tanggap membangun Pondok Bersalin Desa (Polindes) di Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Polindes tersebut merupakan satu-satunya infrastruktur kesehatan yang disediakan ACT untuk para penyintas.MAN