PARMOUT, MERCUSUAR – Kabupaten Parigi Moutong (Parmout) resmi ditetapkan bebas penyakit frambusia oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) setelah berhasil mempertahankan status nol kasus selama tiga tahun berturut-turut hingga 2025.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Parmout, Yunita Tagunu mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang diawali dari status eliminasi hingga akhirnya mencapai tahap eradikasi.
“Kabupaten Parmout telah dinyatakan eradikasi frambusia dalam tiga tahun terakhir,” ungkap Yunita di Parigi, belum lama ini.
Ia menjelaskan, pada fase eliminasi sebelumnya, kasus frambusia masih ditemukan namun dalam jumlah terbatas dan terkendali, bahkan sebagiannya bersifat kasus impor. Kondisi tersebut kemudian terus ditekan hingga tidak lagi ditemukan kasus baru. Dengan ditetapkannya status eradikasi, maka saat ini Kabupaten Parmout tercatat nol kasus frambusia, baik temuan baru maupun kasus lama.
Yunita menuturkan bahwa frambusia merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh bakteri Treponema Pallidum Pertenue yang penyebarannya terjadi melalui kontak langsung dengan luka atau ruam pada kulit penderita.
“Penularannya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan perilaku hidup masyarakat, terutama yang belum menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” jelas Yunita.
Karena itu, kata dia, peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi salah satu kunci utama dalam memutus rantai penyebaran penyakit tersebut. Sebagai implementasi penanganan penyebaran serta upaya memenuhi standar penilaian eradikasi, Dinas Kesehatan Parmout, lanjut Yunita, telah melakukan berbagai langkah strategis sejak 2024. Salah satunya melalui survei serologi atau pemeriksaan darah terhadap anak-anak di sejumlah fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Dari hasil pemeriksaan itu, menunjukkan tidak ada lagi pengidap frambusia di wilayah Kabupaten Parmout. Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
“Artinya dengan eradikasi ini, secara umum PHBS masyarakat Kabupaten Parmout sudah baik, karena tidak ditemukan lagi kasus frambusia,” pungkas Yunita. AFL






