Banjir merupakan bencana yang tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian ekonomi, tetapi juga membawa dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Dalam praktik penanggulangan bencana, perhatian sering kali lebih terfokus pada evakuasi dan distribusi bantuan logistik. Padahal, aspek kesehatan seharusnya ditempatkan sebagai prioritas utama karena menentukan keberlangsungan hidup dan kualitas pemulihan korban.
Dampak kesehatan akibat banjir bersifat multidimensional. Air yang tercemar meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare, leptospirosis, dan penyakit kulit. Kepadatan di tempat pengungsian memicu penularan infeksi saluran pernapasan akut. Selain itu, gangguan kesehatan mental seperti stres pascatrauma juga sering luput dari perhatian. Kelompok rentan—seperti bayi, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis—menghadapi risiko komplikasi yang lebih tinggi akibat keterbatasan akses pelayanan kesehatan selama masa darurat.
Dalam konteks tersebut, penanganan kesehatan tidak boleh bersifat reaktif semata, tetapi harus terintegrasi sejak fase kesiapsiagaan hingga rehabilitasi. Pendekatan promotif dan preventif perlu diperkuat melalui edukasi sanitasi, penyediaan air bersih, imunisasi, serta pengendalian penyakit berbasis lingkungan. Sementara itu, pelayanan kuratif dan rehabilitatif harus tetap berjalan untuk memastikan tidak terjadi peningkatan angka kesakitan maupun kematian pascabencana.
Era digital menghadirkan peluang strategis untuk memperkuat sistem kesehatan dalam situasi bencana. Teknologi informasi memungkinkan pelaporan kasus penyakit secara cepat dan akurat sehingga deteksi dini potensi wabah dapat dilakukan lebih efektif. Sistem informasi kesehatan berbasis digital juga membantu pemerintah memetakan kebutuhan obat, tenaga medis, serta distribusi logistik secara lebih terarah.
Pemanfaatan layanan kesehatan jarak jauh menjadi solusi ketika fasilitas kesehatan terdampak atau akses transportasi terganggu. Melalui konsultasi daring, korban tetap dapat memperoleh nasihat medis tanpa harus berpindah lokasi. Selain itu, media digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi kesehatan yang benar, mencegah hoaks, serta membangun kesadaran masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat selama masa banjir.
Namun, transformasi digital dalam penanganan kesehatan bencana juga menghadapi tantangan, seperti keterbatasan jaringan komunikasi di daerah terdampak, rendahnya literasi digital sebagian masyarakat, serta perlindungan data pribadi korban. Oleh karena itu, penguatan infrastruktur digital dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kebutuhan mendesak agar teknologi benar-benar berfungsi sebagai alat pendukung, bukan sekadar pelengkap.
Dengan demikian, menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama dalam penanganan korban banjir bukan hanya pilihan kebijakan, melainkan keharusan moral dan strategis. Integrasi antara pendekatan kesehatan masyarakat dan pemanfaatan teknologi digital akan mempercepat pemulihan, mengurangi risiko krisis kesehatan lanjutan, serta memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi bencana di masa mendatang. Di era digital, perlindungan kesehatan korban banjir tidak lagi bergantung semata pada respons darurat, tetapi juga pada kemampuan sistem untuk beradaptasi secara cerdas dan terintegrasi. ***
Penulis Andiansyah Yusuf Tunasly dan Nelfianti Lisa adalah Mahasiswa Pascasarjana FKM Unismuh Palu






