Oleh : Dela Safitri dan Adwan
Indonesia adalah salah satu negara yang paling rawan bencana di dunia, baik bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan banjir, maupun krisis lainnya yang dapat muncul secara tiba-tiba. Posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik menyebabkan wilayah ini memiliki aktivitas tektonik yang sangat tinggi.
Selain itu, kondisi iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi juga meningkatkan potensi terjadinya banjir, tanah longsor, serta bencana hidrometeorologi lainnya. Kombinasi faktor geologis dan iklim tersebut menjadikan hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap berbagai jenis bencana.
Dampak dari bencana tidak hanya berupa kerusakan fisik pada infrastruktur, rumah, dan fasilitas umum, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi masyarakat dan negara. Lebih dari itu, bencana sering kali memberikan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Cedera fisik akibat runtuhan bangunan, kekurangan makanan yang menyebabkan gangguan gizi, hingga meningkatnya risiko penyebaran penyakit menular menjadi masalah yang umum terjadi setelah bencana. Selain dampak fisik, korban bencana juga sering mengalami tekanan psikologis seperti stres, kecemasan, bahkan trauma yang berkepanjangan.
Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, ibu nifas, dan lansia merupakan pihak yang paling berisiko mengalami dampak kesehatan yang lebih berat.
Jika melihat pengalaman dari berbagai krisis kemanusiaan global, kita dapat memahami bahwa ancaman terhadap kesehatan masyarakat tidak hanya datang dari bencana alam. Krisis yang disebabkan oleh konflik berkepanjangan juga dapat menimbulkan dampak yang serupa, bahkan lebih kompleks.
Contohnya adalah krisis kemanusiaan di wilayah Gaza atau Yaman yang telah berlangsung lama. Konflik tersebut menyebabkan kerusakan fasilitas kesehatan, keterbatasan akses terhadap air bersih dan makanan, serta meningkatnya angka penyakit dan kematian pada masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis non-alam pun dapat melumpuhkan sistem kesehatan masyarakat dan menciptakan situasi darurat yang membutuhkan kesiapsiagaan yang baik dari berbagai pihak.
Meskipun Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai bencana, kenyataannya tingkat kesiapsiagaan masyarakat di banyak daerah masih tergolong rendah. Banyak warga yang belum memahami secara jelas langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum, selama, dan setelah bencana terjadi.
Kurangnya pengetahuan ini sering kali membuat masyarakat panik ketika menghadapi situasi darurat, sehingga proses penyelamatan diri menjadi tidak optimal. Akibatnya, risiko cedera, penyakit menular, hingga gangguan kesehatan mental pada korban bencana menjadi semakin tinggi.
Selain itu, keterbatasan akses terhadap fasilitas dan layanan kesehatan di beberapa daerah juga menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanggulangan dampak bencana. Dalam situasi darurat, fasilitas kesehatan sering kali tidak mampu menampung seluruh korban yang membutuhkan pertolongan.
Minimnya edukasi mengenai perilaku hidup sehat dan cara menjaga kesehatan dalam kondisi krisis juga memperburuk situasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kurangnya informasi dan edukasi mengenai kesiapsiagaan kesehatan membuat masyarakat menjadi lebih rentan terhadap dampak bencana dan krisis.
Oleh karena itu, diperlukan strategi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.
Dalam konteks ini, promosi kesehatan menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi krisis dan bencana. Promosi kesehatan tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai upaya untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai risiko yang mungkin terjadi.
Melalui promosi kesehatan, masyarakat dapat memahami langkah-langkah sederhana namun penting untuk melindungi diri dan keluarganya ketika bencana terjadi.
Sebagai contoh, masyarakat dapat diberikan pelatihan mengenai tindakan pertolongan pertama pada korban cedera, cara menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi darurat, serta pengelolaan kebutuhan gizi selama masa krisis.
Selain itu, edukasi mengenai prosedur evakuasi yang aman juga sangat penting agar masyarakat dapat menyelamatkan diri dengan cepat dan tepat ketika terjadi bencana atau konflik. Dengan pengetahuan dan keterampilan tersebut, risiko cedera dan penyebaran penyakit menular dapat diminimalkan.
Upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat juga perlu didukung dengan penguatan edukasi kesehatan yang berkelanjutan. Edukasi ini dapat dilakukan melalui berbagai media dan kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Pelatihan kesiapsiagaan secara rutin, seperti simulasi evakuasi bencana dan pelatihan pertolongan pertama, dapat membantu masyarakat memahami langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.
Melalui latihan yang dilakukan secara berkala, masyarakat akan menjadi lebih terbiasa dan tidak mudah panik saat menghadapi bencana yang sebenarnya.
Selain itu, pemberdayaan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam membangun ketangguhan komunitas terhadap bencana. Masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan, mitigasi, dan respons bencana. Dengan keterlibatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi objek penerima bantuan, tetapi juga menjadi subjek yang memiliki peran penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Keterlibatan ini juga dapat meningkatkan rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga keselamatan dan kesehatan lingkungan sekitar.
Kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat merupakan kunci utama untuk meminimalkan dampak bencana dan krisis terhadap kesehatan. Dengan pengetahuan yang memadai, keterampilan yang cukup, serta dukungan dari berbagai pihak, masyarakat dapat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai situasi darurat.
Oleh karena itu, mari kita semua, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari komunitas, bersama-sama meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam menghadapi bencana. Dengan demikian, kesehatan dan keselamatan masyarakat dapat tetap terjaga, bahkan dalam kondisi krisis sekalipun.***
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Palu.






