Menjaga Kesehatan Mental Remaja : Investasi Sosial Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Penulis Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Palu. Muh Syauqi Marzukie, Annisa Juliarsih

MERCUSUAR – Perkembangan teknologi digital, perubahan sosial yang cepat, serta tekanan akademik dan ekonomi menjadikan masa remaja sebagai periode yang semakin kompleks dan penuh tantangan. Remaja hari ini tumbuh dalam lingkungan yang terkoneksi secara digital, di mana interaksi sosial, proses belajar, hingga pencarian identitas diri berlangsung secara simultan di ruang luring dan daring. Dalam konteks ini, kesehatan mental remaja tidak lagi dapat dipandang sebagai isu individual semata, melainkan sebagai bagian integral dari agenda pembangunan sosial dan pembangunan berkelanjutan.¹

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar satu dari tujuh remaja mengalami gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai kondisi paling umum. WHO juga menegaskan bahwa hampir 50% gangguan mental dimulai sebelum usia 14 tahun dan sekitar 75% sebelum usia 18 tahun. Data ini menunjukkan bahwa intervensi pada fase remaja merupakan langkah preventif yang sangat strategis untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup individu dan produktivitas sosial.²

Temuan tersebut diperkuat oleh studi longitudinal dalam kohort remaja di London (SCAMP) yang membandingkan kondisi sebelum dan selama pandemi COVID-19. Penelitian ini menemukan peningkatan signifikan prevalensi depresi dari sekitar 13–15% menjadi lebih dari 30%, serta peningkatan kecemasan hampir dua kali lipat. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan ponsel secara intensif dan gangguan tidur sebelum pandemi berkorelasi dengan munculnya kasus depresi baru, serta remaja perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental dibandingkan remaja laki-laki.³

Pandemi memperjelas bahwa faktor digital bukan sekadar latar belakang, melainkan determinan penting kesehatan mental remaja. Namun, penelitian terbaru menegaskan bahwa bukan hanya durasi penggunaan media sosial yang berpengaruh, melainkan jenis aktivitas yang dilakukan. Paparan konten self-harm, kebiasaan menggunakan media sosial sebelum tidur, pengalaman menyesali unggahan, serta interaksi daring yang berisiko terbukti berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan, depresi, dan rasa kesepian. Sebaliknya, penggunaan yang terarah dan suportif tidak selalu berdampak negatif. Hal ini menunjukkan pentingnya literasi digital dan regulasi diri dalam penggunaan teknologi.⁴

Konteks Indonesia memperlihatkan tantangan yang tidak kalah serius. Studi kualitatif terhadap remaja Indonesia menemukan bahwa tekanan emosional berasal dari konflik keluarga, ekspektasi akademik, masalah citra tubuh, pengalaman perundungan, hingga kecemasan terhadap masa depan. Selain itu, norma budaya dan stigma sosial masih memengaruhi cara remaja memahami dan merespons masalah kesehatan mental. Rendahnya literasi kesehatan mental menyebabkan banyak remaja enggan mencari bantuan profesional meskipun mengalami tekanan psikologis.⁵

Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa remaja Indonesia memiliki kebutuhan yang jelas akan edukasi kesehatan mental yang komprehensif, aman, dan tidak menghakimi.

Mereka menginginkan ruang diskusi yang terbuka di sekolah serta dukungan dari guru dan orang tua. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan promotif dan preventif berbasis sekolah sangat relevan dalam konteks Indonesia, khususnya untuk mengurangi stigma dan meningkatkan deteksi dini gangguan mental.⁵

Dari perspektif global, tinjauan sistematis terhadap 43 studi intervensi kesehatan mental pada kelompok usia 15–24 tahun menunjukkan bahwa terapi kognitif-perilaku (CBT), psikoedukasi, dan pendekatan mindfulness merupakan strategi yang paling banyak digunakan.

Mayoritas intervensi dilakukan di lingkungan sekolah, namun laporan tersebut juga menekankan bahwa banyak program belum sepenuhnya mengadaptasi konteks budaya setempat. Artinya, efektivitas intervensi akan sangat bergantung pada kesesuaian sosial dan budaya masyarakat sasaran.⁶

Kesehatan mental remaja berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Remaja dengan kesehatan mental yang baik cenderung memiliki performa akademik lebih tinggi, regulasi emosi yang lebih stabil, kemampuan sosial yang lebih matang, serta daya adaptasi yang lebih kuat terhadap perubahan.

Sebaliknya, gangguan mental yang tidak tertangani dapat meningkatkan risiko putus sekolah, kesulitan kerja, penyalahgunaan zat, hingga perilaku menyakiti diri. Dampak ini tidak hanya bersifat individual, tetapi juga berdampak pada beban sosial dan ekonomi negara.²
Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, investasi pada kesehatan mental remaja berarti memperkuat modal sosial bangsa.

Generasi muda yang sehat secara psikologis akan lebih siap menghadapi transformasi digital, disrupsi ekonomi, dan tantangan global lainnya. Intervensi pada usia remaja juga bersifat cost-effective karena mencegah beban pembiayaan kesehatan dan sosial di masa dewasa.²

Pendekatan multisektoral menjadi kunci dalam mewujudkan investasi sosial ini. Sekolah perlu mengintegrasikan pendidikan kesehatan mental secara sistematis dalam kurikulum. Orang tua perlu meningkatkan literasi emosional dan digital agar mampu mendampingi anak secara bijak dalam penggunaan teknologi. Pemerintah perlu memperluas layanan kesehatan mental yang ramah remaja serta memastikan akses yang inklusif dan tidak diskriminatif. Sementara itu, platform digital memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem daring yang aman dan mendukung kesejahteraan psikologis generasi muda.⁶

Menjaga kesehatan mental remaja bukan sekadar upaya kuratif ketika gangguan telah muncul, melainkan strategi preventif jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan pembangunan nasional. Dengan berbasis pada bukti ilmiah dan penelitian yang telah ada, jelas bahwa kesehatan mental remaja adalah fondasi penting bagi terciptanya masyarakat yang produktif, resilien, dan berdaya saing global. ***

Penulis Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Palu. Muh Syauqi Marzukie, Annisa Juliarsih

Pos terkait