MERCUSUAR Potret toleransi terlihat jelas di salah satu desa, di Kecamatan Torue, Kabupaten Parimo, yang memiliki penganut agama, yang paling beragam, mulai Islam, Hindu, Nasrani, Katolik, bahkan Budha pun ada. Hari Raya Nyepi, salah satunya di dalamnya ada, pawai ogoh-ogoh. Untuk yang satu ini, terbilang meriah, menyedot penonton paling banyak. Ruas jalan Trans Sulawesi sepanjang 3 km, dipadati penonton, kendaraan merayap, terjebak macet hingga pukul 21.00.
Ogoh-ogoh, sebuah patung yang dibuat dari bahan ringan, karena akan diusung menggunakan batang bambu, yang dibuat sedemikian rupa, dengan bentuk yang menyeramkan. Ogoh-ogoh, dipercaya adalah perwujudan mahluk jahat, yang harus dimusnahkan, setelah diarak-arak, dan sebelum datangnya proses Tapa Bhrata Penyepian, sepanjang waktu 24 jam.
Seharusnya, ogoh-ogoh diarak sebelum tiba waktu senja, karena pada saat senjakala tiba, semua ogoh-ogoh sudah dibakar, dan pemeluk agama Hindu, melakukan pembersihan di rumah masing-masing. Tapi, tidak di Desa Tolai Induk, ogoh-ogoh yang diarak, menunggu umat Islam, menuntaskan ibadah shalat asar, barulah kemudian ogoh-ogohnya diarak-arak perlahan-perlahan, menyusuri ruas jalan Trans Sulawesi, menuju Pura Mrajapati, atau pura kuburan, untuk membakar ogoh-ogoh.
Sekretaris Pengempon Pura Purnasadha Tolai, I Nyoman Sudimantra, mengatakan kalau saat momen pawai ogoh-ogoh, panitia harus benar-benar memastikan, kalau jamaah masjid sudah selesai menuntaskan ibadahnya. Hal itu bisa diliat, dengan ditempatkan satu pecalang di sekitaran masjid, yang nantinya memberikan info.
“Sebab, kalau hanya dilihat dari luarnya saja, biasanya kan masih ada jamaah masjid yang berdoa di dalam masjid, meskipun shalatnya sudah selesai, nah dengan melihat langsung, infonya lebih akurat lagi,” ujarnya.
Usai shalat asar, arak-arakan patung menyeramkan mulai bergerak yang dibawa oleh setiap kelompoknya, masing-masing berjumlah sekitaran 10 orang, dengan seragam lengkapnya. Potret toleransi begitu kental di desa yang sudah melahirkan dua desa pemekaran itu, para jamaah banyak yang rela berdiri di tepi jalan, demi melihat pawai ogoh-ogoh, dan saat tiba di depan masjid, meskipun itu adalah ruas jalan raya, kata Sudimantra, panitia telah memberikan aturan, agar tidak melakukan aksi yang diluar kesepakatan, karena menghargai masjid dan juga umat Islam.
Bukan hanya menunggu shalat asar saja, lanjut Sudimantra, pihaknya juga mewanti-wanti, agar semua pengarak ogoh-ogoh, untuk tidak menimbulkan suara berisik, saat azan asar dikumandangkan, hingga shalat asar selesai dikerjakan.
“Ini sudah menjadi aturan disini, kurang lebih sejak pertama kali kami menggelar kegiatan pawai ogoh-ogoh, kurang lebih puluhan tahun yang lalu,” terangnya.
Saat proses nyepi pun dimulakan, warga yang beragama lainnya, turut menghargai tapa bhrata yang digelar umat Hindu, dengan tidak mengeraskan suara sound sistim, bahkan mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak penting, saat penyepian berlangsung.
Bahkan ada juga, umat muslim, yang turut menjaga kios ataupun toko milik umat Hindu di dalam pasar, agar tidak dijarah oleh maling, yang tahu kalau pemiliknya tidak ada.
“Kami hanya bertujuan agar umat Hindu bisa nyaman menjalankan ibadahnya dengan damai, tanpa terganggu dengan urusan dunia,” tekan Rasyid.F.