Memiliki ribuan pasukan, pegang tongkat komando, berdiri tegak dengan bintang di pundak, menjadi orang kedua, dengan gelar jenderal, Brigjen Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf, Wakapolda Sulteng. Dibalik nama Helmi, tersemat doa, saat perjalanan epik dimulakan, lima bulan di dalam kandungan, dan bahkan pernah tinggal di bekas kandang kambing.
Moh Misbachudin. Wartawan Mercusuar
Kisah perjalanan kehidupan seorang Helmi, bukan dimulakan ketika lahir di tanggal 8 Mei 1971 silam, namun semua dimulakan ketika bulan Januari 1971, ketika menjelang lima bulan kelahirannya.
“Saat itu, kehidupan benar-benar susah, dterpa masalah ekonomi, menghidupi tujuh orang anak, dan menunggu kelahiran si bungsu, yang lima bulan lag,” kenang Indraty, ibunda Wakapolda Sulteng.
Dalam perbincangan hangat, malam Selasa (2/2/2026) wanita yang bulan Oktober mendatang, mencapai umur 94 tahun, sempat menyematkan harapan dan doa di nama Helmi, yang sebenarnya ketika itu, dalam menjaga kandungannya, murid Robert Wolter Monginsidi itu, pelan-pelan berucap, help me, meminta pertolongan dan harapan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam, untuk menjaga kehidupannya, menjaga si calon bayi, yang kelak, berharap menjadi salah satu pelindung keluarganya, yang kala itu, benar-benar berada pada titikpaling rendah.
“Maka saat dia lahir, nama Helmi kusematkan di awal namanya, karena itu yang pertama kali terucap, help me, bukan arti yang lain,” urainya, sambil memegang pipi mantan Kapolres Aceh Singkil itu.
Kemudian tiba-tiba, bibir Indraty bergetar, seraya menatap tajam ke depan, lalu bercerita kisah lainnya, yang juga menjadi titik tumpu perjalanan epic, seorang perwira bintang satu itu. Kala itu, tidak banyak yang membantunya, di kehidupannya yang sulit, perempuan tangguh itu, tidak punya tempat tinggal, tetapi harus menghidup anak-anaknya, yang delapan orang, empat perempuan dan empat laki-laki.
Maka tidak lama kemudian, ada yang menawarkan lahan dan sebuah bekas kandang kambing untuk ditinggali, bersama anak-anaknya, tanpa berfikir panjang, perempuan yang masih kuat merawat ingatannya itu, langsung membersihkan bekas kandang kambing, untuk ditinggali mantan Direktur Reserse Kriminal Umum, Polda Sulteng.
“Ibunda, yang kami akrab sapa dengan nama Oma, adalah perwujudan Tuhan, yang hadir di bumi. Dia adalah segalanya, tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan, bagaimana perjuangannya, menghidupi kami,” urai Helmi, sambil memeluk Indraty.
Perjalannya menggapai bintang pun, dibeberkan oleh suami dari Narny itu, pernah jualan es mambo, keliling kampong, yang dimana masa kecilnya dihabiskan untuk membantu orang tuanya, menopang ekonomi keluarga.
Hingga kemudian, di tahun 1993, mantan Dirkrimsus Polda Sulsel itu, dinyatakan lulus Akademi Kepolisian, dengan prestasi, meraih posisi 10 besar, dan mulai bertugas di Jakarta pada tahun 1994, saat itu juga, hingga hari ini, Helmi selalu membawa ibundanya bertugas di mana pun, keliling pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan hingga kemudian di Sulawesi.
“Dia selalu dekat dengan saya, karena sepertinya, setiap momen yang hadir, sepertinya tidak cukup, untuk menggantikan semua perjuangannya, membawa saya menjadi seperti saat ini,” ucap mantan Wadir Tipidum Mabes Polri.
Bahkan, saat dia berkisah mencari seorang pendamping hidup, yang sama sekali tidak dikenalinya secara akrab, seorang gadis asal Pare-pare, Sulawesi Selatan, Narny, lagi-lagi, dia menegaskan, kalau wanita itu, disukai ibunya, maka dia pun siap melamarnya, namun jika tidak, dia siap menerima keputusan dari ibundanya.
Tetapi, meskipun baru pertama kenal, ibundanya pun langsung merasa yakin dengan pilihan anaknya, dan ikut mendukung pilihan anaknya, karena ada aura kebaikan dari wanita, yang telah mendampinginya selama puluhan tahun, dan telah memberikan buah cintanya, tujuh jagoan.
“Dan istri saya pun mengatakan, kalau ibunda harus tetap bersama-sama dengan kami, kemana pun bertugas, Alhamdulillah, perjalanan kami, tetap dilindungi oleh Allah SWT,” tukas lelaki peraih gelar doktor di Universitas Dipenogoro tahun 2023.
Maka tdak heran, jika kemudian Helmi begitu dekat dengan masyarakat, bahkan tidak jarang ikut main gaplek di terminal, makan di warung sederhana, atau bahkan sekedar duduk di deker, seruput kopi, tanpa sungkan.
“Jangan pernah lupa asal, dari mana kita berada. Dan harus banyak bantu orang susah, sebagaimana kita dulu dibantu, saat susah,” pungkas jenderal bintang satu, meniru amanatnya ibundanya. ****






