Oleh: Temu Sutrisno
Setiap tahun, kedatangan bulan Ramadan disambut dengan gegap gempita ritualistik. Masjid-masjid penuh, pasar takjil menjamur, dan diskursus mengenai tata cara puasa memenuhi ruang publik. Namun, seringkali kita terjebak pada dimensi lahiriah semata, menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga magrib, tanpa menyentuh substansi terdalam dari takwa. Padahal, Ramadan sejatinya adalah sebuah kawah candradimuka untuk membentuk manajemen nafsu yang bermuara pada kesalehan sosial.
Melampaui Ritualisme Simbolis
Secara teologis, tujuan akhir puasa adalah menjadi pribadi yang bertakwa (la’allakum tattaqun). Namun, takwa sering kali disempitkan maknanya sebatas hubungan vertikal antara hamba dan Sang Pencipta. Kita sering melihat fenomena kontradiktif, seseorang yang rajin berpuasa dan salat tarawih, namun di siang hari tetap melakukan praktik pungli, menyebarkan hoaks, atau bersikap eksklusif terhadap tetangga yang berbeda keyakinan.
Di sinilah letak tantangannya. Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk melakukan audit besar-besaran terhadap perilaku sosial kita. Menahan lapar adalah latihan dasar untuk mengendalikan ego. Jika ego sudah terkendali, maka turunan moralnya adalah kejujuran. Seseorang yang jujur pada dirinya sendiri saat berpuasa (tidak makan meski tak ada orang yang melihat) seharusnya memiliki integritas yang sama dalam mengelola keuangan negara atau perusahaan. Dengan kata lain, puasa adalah “antivirus” alami bagi perilaku korupsi yang merusak sendi bangsa.
Korupsi di negeri ini bukan sekadar masalah sistem, melainkan masalah mentalitas yang rakus dan gagal mengelola nafsu kepemilikan. Ramadan mengajarkan kita bahwa apa yang milik kita secara sah pun (makanan dan minuman) diperintahkan untuk ditinggalkan sementara waktu. Pelajaran moralnya jelas. Jika yang halal saja bisa kita tinggalkan demi ketaatan, mengapa kita begitu sulit meninggalkan yang haram atau yang bukan hak kita?
Kesalehan sosial dalam bentuk kejujuran adalah manifestasi nyata dari ketakwaan. Tanpa kejujuran, puasa hanya menjadi “diet massal” yang melelahkan. Masyarakat yang bertakwa secara sosial adalah masyarakat yang di dalamnya tidak ada tipu daya dalam timbangan dagang, tidak ada manipulasi data bantuan sosial, dan tidak ada suap di bawah meja birokrasi.
Puasa Ekologis
Lebih jauh lagi, manifestasi kesalehan sosial di era modern ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab kita terhadap alam. Inti dari puasa adalah imsak (menahan diri). Jika kita mampu menahan tangan dari makanan yang halal, bukankah seharusnya kita lebih mampu menahan tangan dari merusak bumi yang merupakan amanah Tuhan?
Realitas hari ini menunjukkan betapa nafsu eksploitatif manusia telah melampaui batas. Ekspansi pertambangan yang serampangan, pembukaan perkebunan skala besar yang menggusur hutan adat, hingga perambahan hutan demi keuntungan sesaat telah mengakibatkan luka permanen pada ekosistem. Baik yang dikelola secara legal maupun ilegal, jika tujuannya hanya akumulasi profit tanpa memedulikan daya dukung lingkungan, maka itu adalah bentuk “pembatalan” esensi puasa dalam ranah makro.
Seorang yang bertakwa secara sosial harus memiliki kesadaran ekologis. Ia menyadari bahwa kerusakan lingkungan adalah bentuk kezaliman terhadap generasi mendatang. Puasa mengajar kita untuk hidup secukupnya (zuhud). Jika prinsip ini dibawa ke sektor industri dan kebijakan publik, maka tidak akan ada lagi izin tambang yang keluar hanya karena syahwat politik atau keserakahan korporasi yang membutakan mata hati. Menjaga kelestarian lingkungan adalah bentuk ibadah sosial tertinggi di tengah ancaman krisis iklim.
Empati dan Berbagi
Ramadan juga merupakan bulan pendidikan empati. Rasa lapar yang dirasakan oleh si kaya dan si miskin dalam durasi yang sama bertujuan untuk meruntuhkan sekat-sekat kelas sosial. Namun, empati tidak boleh berhenti pada perasaan iba. Ia harus mewujud dalam tindakan konkret, saling berbagi.
Kesalehan sosial menuntut kita untuk melihat ke sekeliling. Di tengah fluktuasi harga pangan yang kerap melonjak, kedermawanan menjadi katup penyelamat bagi mereka yang rentan secara ekonomi. Berbagi dalam konteks ini bukan sekadar memberi sisa kelebihan harta, melainkan mendistribusikan keadilan. Zakat, infak, dan sedekah adalah instrumen untuk memastikan bahwa kekayaan tidak hanya berputar di kalangan tertentu saja, melainkan mengalir hingga ke akar rumput.
Memaafkan dan Hidup dalam Harmoni
Satu aspek yang sering terlupakan dalam kesalehan sosial adalah kemampuan untuk memaafkan dan mengampuni. Di tengah polarisasi sosial yang sering kali meninggalkan residu kebencian, Ramadan hadir sebagai momen pendinginan (cooling down).
Menahan nafsu tidak hanya bicara soal perut, tetapi juga menahan nafsu untuk menang sendiri dan menghujat.
Kesalehan sosial menuntut kelapangan dada untuk menerima perbedaan dan hidup dalam harmoni. Harmoni sosial hanya bisa dicapai jika setiap individu memiliki kemampuan untuk menekan ego personalnya demi kemaslahatan bersama.
”Ketakwaan yang sejati tidak hanya diukur dari dahi yang menghitam atau durasi iktikaf, tetapi dari seberapa jujur kita pada amanah, seberapa peduli kita pada sesama, dan seberapa terjaga tangan kita dari merusak alam.”
Menuju Idulfitri yang Hakiki
Jika Ramadan hanya berakhir pada baju baru dan hidangan mewah di hari raya, maka kita telah gagal menangkap pesan langit. Idulfitri—kembali ke fitrah—berarti kembali ke jati diri manusia sebagai khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi yang bersih dari penyakit hati seperti sombong dan rakus. Kembali fitri juga dimaknai kembali pada jiwa yang hanif, jiwa yang selalu memeluk kebenaran.
Transformasi dari kesalehan individu menuju kesalehan sosial dan ekologis adalah kunci keberlanjutan bangsa. Bayangkan jika nilai-nilai Ramadan—kejujuran, pengendalian diri, empati, dan pelestarian alam—diaplikasikan dalam kehidupan bernegara selama sebelas bulan berikutnya. Kita tidak akan lagi melihat ketimpangan yang tajam, konflik agraria yang berdarah, atau bencana ekologis yang dipicu oleh tangan manusia.
Ramadan adalah sekolah kehidupan. Lulusannya bukan mereka yang sekadar mampu menahan lapar, melainkan mereka yang mampu membawa semangat “menahan diri” tersebut ke dalam pasar, kantor, parlemen, hingga ke tengah hutan, perkebunan, dan lokasi tambang. Mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat simpul-simpul sosial dan merawat bumi, agar ketakwaan tidak berhenti di sajadah, tapi membumi dalam indahnya harmoni dan kemanusiaan yang hakiki. Wallahu’alam bhisawab. ***
Penulis adalah Wartawan Utama Mercusuar-Trimedia Grup, Sekretaris PWI Sulteng






