PALU, MERCUSUAR – Dalam Sosialisasi Sinergi Kebijakan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mendorong perekonomian Indonesia 2021 yang dilakukan secara virtual, Kepala BI Sulteng, Abdul Majid Ikram menyebut transparansi suku bunga kredit yang diinisiasi bank sentral membuat masyarakat semakin selektif dalam mengakses kredit ke bank.
Kepala BI Sulteng, Abdul Majid mengatakan, masyarakat akan semakin memerhatikan bank mana saja yang menawarkan suku bunga paling fleksibel.
“Informasi (tingkat suku bunga) transparan, sehingga orang bisa melakukan pilihan-pilihan, dia mau ke bank A atau ke bank B untuk mendapat kredit,” katanya, Kamis (25/2/2021) secara virtual.
Sebelum mengambil jasa kredit, masyarakat harus mampu menilai dan membandingkan sendiri besaran bunga yang ditetapkan setiap bank.
Menurutnya transparansi akan mendorong mekanisme pasar di industri perbankan bekerja dengan baik agar setiap bank akan semakin kompetitif menawarkan suku bunga kredit yang rendah disertai pelayanan yang lebih baik.
“Karena kalau nasabah tidak tahu (besaran bunga kredit tiap bank), dan banknya tidak transparan seolah-olah bank itu yang terbaik. Padahal masih ada bank lain yang memberikan suku bunga lebih baik. Artinya kompetitif itu akan terjadi di antara bank-bank,” jelasnya.
Bank Indonesia berharap, perbankan ikut menurunkan suku bunga kredit sebagai langkah mendorong permintaan kredit pembiayaan. Sebab, Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunga acuan hingga ke level 3,5 persen pada pertengahan bulan ini.
“BI Rate sudah turun 150 bps poin, deposito satu bulan sudah turun 181 bps. Tentu saja kami juga mengharapkan mendorong perbankan segera menurunkan suku bunga kreditnya. Sehingga sama-sama kita sebagai upaya bersama untuk mendorong suku bunga kredit dan mendorong kredit pembiayaan ini,” ujarnya.
Majid menjabarkan langkah langkah kebijakan yang sudah ditetapkan bank sentral pada 17 hingga 18 Februari lalu. Termasuk salah satunya menurunkan suku bunga acuan.
“Langkah-langkah yang lakukan di rapat dewan Gubernur bulanan 17 hingga 18 Februari yang lalu penurunan suku bunga ini yang terendah 3,5 persen suku bunga BI itu. Stabilisasi nilai tukar kemudian juga kebijakan untuk lebih dan kuantitas easing dengan kemudian uang muka kredit kendaraan bermotor dan berbagai hal yang kami lakukan,” jelasnya.
Untuk detailnya, mengenai penurunan uang muka kredit kendaraan bermotor yang menjadi 0 persen ini sinergi dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Ketua OJK Wimboh Santoso. Kementerian Keuangan kemudian mengeluarkan kebijakan PPnBM serta Bank Indonesia menurunkan kebijakan uang muka.
“Juga untuk properti kami juga longgarkan untuk kebijakan uang muka baik untuk rumah pertama, rumah kedua maupun rumah ketiga untuk semuanya bersinergi dengan KSSK mendorong permintaan dan penawaran dari kredit pembiayaan dan bersama usaha pemerintah tentu saja adalah bagaimana kita mendorong pemulihan ekonomi dari berbagai sektor,” jelasnya.RES