KOLAKA, MERCUSUAR – Pagi di Desa Puubunga selalu dimulai dengan suara yang sama: desiran angin di antara batang padi. Namun pada Minggu (8/3/2026) itu, suasananya terasa sedikit berbeda. Sejak matahari baru naik di balik perbukitan Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, sejumlah petani sudah berdiri di tepi sawah. Sebagian membawa sabit, sebagian lagi menatap hamparan padi yang menguning dengan ekspresi puas yang sulit disembunyikan.
Bulir-bulir padi itu tampak berat, menunduk seperti siap dipetik. Bagi para petani yang menanamnya sejak beberapa bulan lalu, momen ini bukan sekadar panen. Ia adalah penanda dari sebuah percobaan yang perlahan mulai menunjukkan hasil.
Sawah yang terbentang di hadapan mereka bukan sawah biasa. Lahan ini menjadi tempat berbagai cara baru bertani diuji, varietas padi baru, metode budidaya yang berbeda, hingga teknologi yang memungkinkan tanaman padi dipanen berulang kali tanpa harus ditanam ulang.
Panen bersama pagi itu menjadi bagian dari program demplot padi berkelanjutan yang dikembangkan oleh PT Vale Indonesia Tbk, perusahaan tambang yang tergabung dalam MIND ID. Program ini dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan, sekaligus menjadi ruang belajar bersama bagi petani.
Cerita ini sebenarnya dimulai beberapa bulan sebelumnya. Pada November 2025, penanaman perdana dilakukan di tiga desa binaan perusahaan: Desa Puubunga dan Desa Pubenua di Kecamatan Baula, serta Desa Lemedai di Kecamatan Tanggetada. Saat itu sebagian petani masih memandang ragu metode yang ditawarkan.
Bertani padi bagi mereka bukan hal baru. Banyak di antara mereka sudah puluhan tahun bekerja di sawah. Tetapi program ini memperkenalkan pendekatan yang sedikit berbeda, penggunaan varietas unggul, teknik budidaya presisi, hingga sistem tanam yang memungkinkan panen lebih dari sekali dalam satu kali penanaman.
Keraguan itu perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu.
Di lahan seluas sekitar 36 are di Desa Puubunga, para petani mulai menanam berbagai varietas padi. Ada PR25, PR107, Bujang Marantau, Trisakti, Menthik Wangi, hingga Menthik Susu. Masing-masing varietas diuji untuk melihat bagaimana mereka beradaptasi dengan kondisi tanah dan iklim Kolaka.
Lahan itu juga dibagi menjadi dua pendekatan. Sekitar 10 are dikelola menggunakan metode organik, sementara 26 are lainnya menggunakan metode konvensional. Pembagian ini sengaja dilakukan agar para petani dapat melihat langsung perbandingan hasil dari masing-masing metode.
CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, mengatakan bahwa program demplot tersebut merupakan bagian dari pendekatan keberlanjutan perusahaan yang tidak hanya berfokus pada sektor pertambangan.
Menurut Bernardus, keberlanjutan berarti perusahaan juga harus berkontribusi pada penguatan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasinya.
“Bagi kami, keberlanjutan bukan hanya tentang bagaimana menambang secara bertanggung jawab. Tetapi juga bagaimana kami bisa tumbuh bersama masyarakat,” ujarnya.
Pendekatan yang digunakan dalam program ini cukup beragam. Selain memperkenalkan varietas unggul, para petani juga mulai mengenal teknologi budidaya baru seperti Perennial Rice dan sistem Salibu.
Melalui sistem ini, tanaman padi yang telah dipanen dapat tumbuh kembali tanpa harus ditanam ulang. Jika kondisi lahan dan perawatan memungkinkan, petani bahkan dapat melakukan panen hingga delapan kali dalam satu kali tanam.
Bagi petani kecil, metode seperti ini tentu sangat berarti. Tanpa perlu membeli benih baru atau mengolah lahan dari awal, biaya produksi dapat ditekan hingga sekitar 50 persen. Artinya keuntungan yang diperoleh petani berpotensi meningkat.
Ketika Sawah Menjadi Tempat Belajar
Hari panen akhirnya tiba setelah beberapa bulan masa tanam.
Petani mulai memotong batang padi yang telah menguning. Tumpukan gabah perlahan memenuhi pinggir sawah. Dari lahan organik seluas 10 are, varietas Trisakti menghasilkan sekitar 6,9 ton padi.
Hasil ini cukup mengejutkan bagi sebagian petani. Metode organik yang sebelumnya dianggap kurang produktif ternyata mampu menghasilkan panen yang kompetitif.
Di lahan konvensional seluas 26 are, total panen bahkan mencapai sekitar 15 ton dari enam varietas yang diuji. Adaptasi varietas-varietas tersebut terhadap kondisi tanah di Kolaka memberikan gambaran bahwa kombinasi teknologi budidaya modern dan seleksi varietas unggul dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Namun bagi para petani, cerita tentang panen ini tidak hanya soal angka.
Salmi, salah satu petani yang ikut dalam program tersebut sekaligus pengurus Asosiasi Petani Organik Kolaka, mengaku awalnya tidak sepenuhnya yakin dengan pendekatan yang diperkenalkan.
Ia terbiasa menggunakan metode konvensional selama bertahun-tahun. Beralih ke sistem organik terasa seperti memulai sesuatu yang baru.
Tetapi setelah menjalani satu musim tanam, ia mulai melihat manfaatnya.
“Biaya produksi bisa lebih hemat karena pupuk bisa dibuat dari bahan yang ada di sekitar kita,” kata Salmi.
Jerami sisa panen, kotoran ternak, hingga bahan organik lain kini dimanfaatkan kembali sebagai pupuk. Selain menekan biaya, cara ini juga membantu menjaga kesuburan tanah.
Harga jual beras organik pun biasanya lebih tinggi dibandingkan beras biasa. Hal itu memberi peluang tambahan bagi petani untuk meningkatkan pendapatan mereka.
“Keuntungannya lebih baik, dan tanah juga lebih sehat,” ujarnya.
Program demplot ini tidak hanya menghadirkan metode baru bertani. Selama beberapa bulan terakhir, para petani juga mendapatkan pendampingan intensif.
Mereka belajar cara mengelola lahan secara lebih efisien, mengenali kebutuhan nutrisi tanaman, hingga menerapkan sistem pengendalian hama terpadu yang lebih ramah lingkungan.
Head External Relation Growth PT Vale, Endra Kusuma, menjelaskan bahwa pertanian berkelanjutan menjadi salah satu strategi perusahaan dalam memperkuat ekonomi lokal.
Menurutnya, peningkatan produktivitas pertanian harus berjalan seiring dengan transfer pengetahuan dan teknologi kepada para petani.
“Program ini bukan hanya tentang meningkatkan hasil panen, tetapi juga membangun kemampuan petani agar mereka dapat mengelola pertanian secara lebih efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pemerintah daerah melihat program tersebut sebagai peluang untuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kolaka, Akbar, mengatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan sangat penting dalam mendukung program swasembada pangan.
Menurutnya, jika lebih banyak perusahaan mendukung program ketahanan pangan seperti ini, target pemerintah untuk memperkuat produksi pangan nasional akan lebih mudah dicapai.
“Perusahaan tidak hanya memikirkan bagaimana mengelola sumber daya alam, tetapi juga memberi dampak berkelanjutan bagi masyarakat disekitarnya,” katanya.
Sejak 2021, program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sektor pertanian telah dijalankan secara konsisten oleh perusahaan.
Hingga Oktober 2025, program tersebut telah melibatkan sedikitnya 55 petani, termasuk sembilan petani perempuan. Bagi sebagian dari mereka, program ini menjadi kesempatan untuk mempelajari cara baru bertani sekaligus meningkatkan hasil produksi.
Sawah yang dulu hanya menjadi tempat bekerja kini juga menjadi ruang belajar. Para petani mencoba varietas baru, mengenal teknologi baru, dan perlahan mengubah cara mereka memandang pertanian.
Ketika matahari semakin tinggi dan panen hampir selesai, petani-petani itu duduk beristirahat di pinggir sawah. Tumpukan padi yang baru dipotong menggunung di beberapa sudut lahan.
Di tengah berbagai cerita tentang industri tambang dan pembangunan, sawah kecil di Puubunga menyimpan kisah lain kisah tentang petani yang terus mencoba, belajar, dan menanam harapan dari tanah yang mereka garap setiap hari.TIN






