KOLAKA, MERCUSUAR – Pagi itu di Desa Lalonggolosua, Kecamatan Tanggetada, udara terasa lebih segar dari biasanya. Di tengah hamparan Kebun Raya Kolaka yang masih terus tumbuh, ratusan bibit tanaman berjajar rapi sebagian masih mungil dalam polybag, sebagian lain mulai menampakkan daun-daun muda yang segar. Di sinilah sebuah cerita tentang masa depan sedang ditanam.
Bukan sekadar seremoni, peluncuran Nursery Pomalaa oleh Bernandus Irmanto bersama Amri Djamaluddin pada akhir Februari 2026 menjadi penanda arah baru bagaimana industri tambang mencoba berdamai dengan alam.
Di atas lahan seluas lima hektare, pusat pembibitan milik PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa itu berdiri. Kapasitasnya tak main-main hingga satu juta bibit per tahun. Jenisnya pun beragam: dari tanaman cepat tumbuh untuk reklamasi, flora endemik Sulawesi Tenggara, hingga tanaman buah dan hias.
Namun bagi banyak orang, angka-angka itu bukan hal utama. Yang lebih penting adalah makna di baliknya.
Selama bertahun-tahun, industri tambang kerap berada di persimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan kerusakan lingkungan. Di berbagai daerah di Indonesia dari Kalimantan hingga Sulawesi jejak tambang meninggalkan lanskap yang berubah drastis. Lubang-lubang bekas galian, hilangnya tutupan hutan, hingga konflik ruang hidup menjadi cerita yang tak asing.
Sejumlah laporan media nasional dalam beberapa tahun terakhir juga menyoroti bagaimana kewajiban reklamasi seringkali tertinggal jauh dari laju eksploitasi. Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang dinilai belum optimal memenuhi tanggung jawab rehabilitasi lahan pascatambang.
Di titik inilah Nursery Pomalaa mencoba mengambil peran yang berbeda.
“Ini bukan sekadar pelengkap aktivitas tambang,” kata Bernandus. “Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah pembangunan membawa manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.”
Pernyataan itu terdengar normatif, tapi konteksnya tidak sederhana. Setiap perusahaan tambang yang beroperasi di kawasan hutan diwajibkan memiliki Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH). Di dalamnya melekat kewajiban besar: merehabilitasi lahan, bahkan hingga di luar wilayah konsesi.
Untuk PT Vale, angka komitmennya mencapai lebih dari 12.000 hektare.
Angka itu bukan sekadar target administratif. Ia berarti ribuan hektare lahan yang harus dipulihkan, ditanami kembali, dan dijaga agar kembali hidup.
Dan semua itu dimulai dari satu hal kecil: bibit.
Di Nursery Pomalaa, proses itu berlangsung dari hulu. Bibit-bibit disiapkan dengan pendekatan yang lebih terencana—tidak hanya mengejar jumlah, tetapi juga keberagaman jenis tanaman. Flora endemik Sulawesi Tenggara mendapat porsi khusus, sebuah langkah yang dinilai penting oleh banyak pemerhati lingkungan untuk menjaga identitas ekologis kawasan.
Dalam praktik terbaik reklamasi tambang yang banyak diulas dalam studi-studi lingkungan dan laporan media internasional, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari seberapa cepat lahan menjadi hijau, tetapi juga seberapa dekat ekosistem yang dipulihkan menyerupai kondisi alaminya.
Artinya, menanam pohon saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah memulihkan kehidupan.
Nursery ini juga dirancang bukan hanya sebagai “pabrik bibit”, tetapi sebagai ruang belajar. Ke depan, kawasan ini dibuka sebagai pusat edukasi lingkungan—tempat pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum bisa memahami bagaimana proses reklamasi dilakukan, dan mengapa itu penting.
Ada harapan agar generasi muda tidak hanya melihat tambang sebagai sumber daya ekonomi, tetapi juga sebagai tanggung jawab ekologis.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kolaka, kehadiran nursery ini memiliki arti strategis yang lebih luas. Bupati Amri Djamaluddin menyebutnya sebagai langkah konkret yang melampaui seremoni.
“Ini bukan hanya tentang perusahaan, tapi tentang kolaborasi,” ujarnya.
Kolaborasi yang dimaksud mencakup pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat. Dalam banyak kasus, kegagalan pengelolaan sumber daya alam seringkali terjadi karena masing-masing pihak berjalan sendiri-sendiri.
Nursery Pomalaa berdiri di dalam kawasan Kebun Raya Kolaka yang memiliki total luas sekitar 59 hektare. Dari luasan itu, lima hektar didedikasikan untuk pusat pembibitan. Saat ini, sudah ada sekitar 172.000 bibit berbagai jenis tanaman yang tumbuh di sana.
Ke depan, kawasan ini diharapkan berkembang menjadi lebih dari sekadar kebun raya. Ia diarahkan menjadi pusat konservasi flora endemik Sulawesi Tenggara, ruang penelitian, hingga destinasi wisata edukasi.
Sejarah panjang industri tambang di Indonesia menunjukkan bahwa komitmen lingkungan seringkali diuji oleh realitas di lapangan—tekanan produksi, fluktuasi harga komoditas, hingga lemahnya pengawasan.
Di banyak tempat, reklamasi baru dilakukan ketika operasi tambang hampir selesai, bukan berjalan paralel sejak awal. Akibatnya, kerusakan yang terjadi menjadi lebih sulit dipulihkan.
Langkah yang diambil PT Vale melalui Nursery Pomalaa bisa dilihat sebagai upaya untuk memulai dari awal menjadikan reklamasi sebagai bagian integral dari proses, bukan sekadar kewajiban di akhir.
Menjelang siang, aktivitas di nursery mulai ramai. Para pekerja tampak merawat bibit, menyiram, memindahkan tanaman ke wadah yang lebih besar. Di antara mereka, mungkin tidak semua memikirkan konsep besar tentang keberlanjutan atau perubahan iklim.TIN






