ACT Humanity Store, Layanan Gratis Korban Gempa Pasigala

  • Whatsapp
FB_IMG_1539762281667

PALU, MERCUSUAR – Aksi Cepat Tanggap (ACT) berencana meluncurkan ACT Humanity Store (AHS) dalam waktu dekat. Ribuan pengungsi nantinya bisa menikmati layanan gratis yang disediakan AHS.

General Manager Media Network Development ACT, Lukman Azis kepada wartawan di Café Celebes, Selasa (16/10) malam menjelaskan, AHS merupakan sebuah representasi integritas ACT dalam membangun kehidupan, yang bermakna ikhtiar memulihkan ekonomi.

Rencananya program itu dilakukan seiring dengan pembangunan hunian sementara yang diharapkan dilakukan pekan depan.

“Ketika hidup mulai ditata, saatnya ekonomi menjadi bekal membangun kehidupan, didukung prosesnya,” katanya.

Dijelaskan, selama masa layanan, AHS menjadi fase edukasi sistem dan inspirasi filantropi bagi siapapun yang ingin memperluas kemaslahatan AHS. Ia berharap ikhtiar ini bermanfaat mengantar proses pemulihan kehidupan, selain mengundang partisipasi komunitas donatur domestik dan global.

Pilihan Redaksi :  Komnas HAM, Minta Polisi Percepat Penanganan Kekerasan di Lapas Parigi

“Kami tak hanya bicara tentang derita dan kehancuran, tapi juga ikhtiar merangkai harapan. Kami tak cuma berharap empati dan belas kasih, tapi menyiapkan wahana memuliakan kita semua sebagai manusia, sebagai hamba Allah yang terus berikhtiar saling memuliakan,” kata Lukman.

AHS diwujudkan menjadi layanan yang menyediakan bantuan sembako bagi masyarakat korban gempa Palu, Sigi, dan Donggala secara gratis. Untuk menyediakan AHS, ACT bekerja sama dengan PT Hydro Perdana Retailindo, perusahaan wakaf di bawah naungan Global Wakaf Corporation.

Menurutnya, aktivasi AHS berupa sistem layanan toko. Bedanya, semua produk khusus untuk korban gempa. AHS memiliki sistem keanggotaan dan jadwal layanan, barang-barang di AHS sudah ditetapkan dan ditata sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan hidup selama waktu tertentu.

Pilihan Redaksi :  Aplikasi Mom’s Care, Raih Penghargaan Inovasi Cegah Stunting

“AHS tentu melibatkan masyarakat lokal untuk mengelola humanity store ini. Sejumlah pengungsi akan dilatih untuk mengelola AHS dan Warung Wakaf,” jelasnya.
ACT nantinya menyediakan Humanity Card (HC) bagi para pengungsi. Secara berkala, HC akan diberikan untuk keluarga pengungsi. Dengan kata lain, ribuan pengungsi bisa merasakan manfaat langsung dari AHS.

AHS juga menjadi ikhtiar ACT dalam memuliakan pengungsi. Dengan Humanity Card, mereka tidak perlu mengantre dalam menerima bantuan. Sebaliknya, para pengungsi bisa berbelanja sembako di AHS secara cuma-cuma, sama seperti warga Indonesia pada umumnya ketika berbelanja di gerai ritel.

“Jadi pengungsi cukup datang ke AHS, berbelanja kebutuhan sembako, dan menaruh belanjaannya di kasir kami. Mereka lalu cukup memberikan Humanity Card ke kasir, dan kasir akan memproses pembayaran barang belanjaan mereka. Sesederhana itu,” jelas Lukman.

Pilihan Redaksi :  Tim ISO Lakukan Surveillance Audit ISO UPT Perpustakaan, FMIPA dan LPPM Untad

Usai masa ICS, AHS dikonversi sebagai toko atau sarana belanja normal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tidak cukup satu unit, ACT juga menyiapkan unit-unit retail, menyerap investasi (wakaf), mendorong masyarakat bermitra dan menyerap tenaga kerja dan produk lokal aktivitas retailnya sekaligus menjadi gerai filantropi. Sosial bisa berkembang, bisnis pun bertumbuh menghidupkan ekonomi lokal.

Melalui ICS, ACT bersama seluruh masyarakat Indonesia menyelamatkan kehidupan. Ikhtiar penyelamatan tersebut disempurnakan dengan AHS sebagai penopang program membangun kehidupan.TASMAN BANTO

Baca Juga