TONDO, MERCUSUAR – Alda Ummu Ghaida berhasil menjadi wisudawan terbaik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako (Untad) pada Wisuda Periode ke-139. Ia meraih IPK 3,93 dengan predikat pujian (cumlaude) setelah menyelesaikan studi selama 3 tahun 9 bulan 24 hari. Alda juga menjadi sarjana pertama di keluarganya.
Pencapaian tersebut diraih Alda di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Ayahnya, Amir Mahmud, sehari-hari berjualan roti dan nasi kuning, sedangkan ibunya, Rosmila, membantu menyiapkan dagangan dari rumah. Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, Alda mengandalkan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
“Program KIP Kuliah ini memberikan kesempatan yang luar biasa. Saya sangat ingin bisa kuliah dan meraih gelar sarjana, karena orang tua saya tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi,” ungkapnya.
Selama kuliah di Program Studi Kesehatan Masyarakat, Alda mengambil peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Pengalaman magang selama satu bulan di kawasan pertambangan, termasuk memberikan edukasi tentang penggunaan alat pelindung diri (APD), menjadi inspirasi bagi topik skripsinya.
Alda mengaku sempat menunda pengerjaan skripsi karena takut memulai bimbingan. Namun, dukungan orang tua membuatnya kembali bersemangat hingga berhasil menyelesaikan tugas akhir dalam waktu tiga bulan.
“Saya sempat menunda dan merasa takut menghadapi skripsi dengan waktunya cukup lama,” tuturnya.
Selain aktif dalam kegiatan pengabdian dosen dan Korps Sukarela (KSR), Alda pernah mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Batch 4 di Universitas Andalas, Padang.
Keberhasilannya menjadi kebanggaan keluarga. Ayahnya berharap Alda dapat menjadi teladan bagi adik-adiknya, termasuk salah seorang adiknya yang kini kuliah di FMIPA Untad melalui program KIP Kuliah.
“Papa senang sekali. Beliau selalu mengingatkan saya untuk belajar baik-baik dan menjadi contoh yang baik untuk adik-adik,” katanya.
Setelah lulus, Alda berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2) dan bercita-cita menjadi dosen. Ia juga berpesan kepada mahasiswa penerima KIP Kuliah agar tekun belajar dan tidak takut menghadapi kesulitan.
“Jaga konsistensi belajar. Kita sudah diberi kesempatan dan kebebasan dari beban biaya, maka tanggung jawab kita adalah membuktikannya dengan bersungguh-sungguh. Jangan takut bertanya kepada dosen dan jangan pernah takut gagal,” pesannya.
Alda berharap KIP Kuliah terus berlanjut agar semakin banyak mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi. */JEF






