Banjir dan Air Bersih Jadi Aspirasi Warga Baiya

FOTO: Persoalan banjir dan keterbatasan akses air bersih menjadi sorotan utama dalam kegiatan reses anggota DPRD Kota Palu, Ulfa, yang digelar di RT 10 Kelurahan Baiya, Rabu malam (4/2/2026). FOTO: JEFRI/MS

BAIYA, MERCUSUAR — Persoalan banjir dan keterbatasan akses air bersih menjadi sorotan utama dalam kegiatan reses anggota DPRD Kota Palu, Ulfa, yang digelar di RT 10 Kelurahan Baiya, Rabu malam (4/2/2026). Reses tersebut dihadiri warga RT 10, 11, dan 12 serta melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemerintah Kota Palu.

Terkait penanganan banjir, warga meminta OPD terkait meninjau kembali kondisi Sungai Mangu yang disebut menjadi penyebab banjir pada 11 Januari 2026 lalu. Pascabanjir, sungai tersebut mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, sehingga alurnya menyempit dan berpotensi meluap saat debit air meningkat. Warga juga mengusulkan penataan ulang alur sungai hingga ke muara, guna mengurangi risiko banjir di masa mendatang.

Selain itu, persoalan air bersih layak minum turut disampaikan warga. Air di wilayah Kelurahan Baiya dinilai payau sehingga hanya dapat digunakan untuk mandi dan mencuci, namun tidak layak dikonsumsi. Untuk mengatasi hal tersebut, warga mengusulkan pembangunan sumur di sumber air bersih yang berada di wilayah Tolambu, yang lokasinya relatif dekat dengan permukiman.

Menanggapi aspirasi tersebut, Ulfa menyatakan akan mengakomodasi dan menjembatani seluruh masukan warga kepada OPD terkait, agar dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan.

“Aspirasi masyarakat ini akan kami sampaikan dan kawal, agar mendapat perhatian serius dari pemerintah. Saya juga berharap warga tidak ragu menghubungi saya, jika membutuhkan pendampingan,” ujar Ulfa.

Ia menegaskan, reses menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan langsung, agar solusi yang diambil pemerintah benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga di lapangan. JEF

Pos terkait