TANAMODINDI, MERCUSUAR- Pascaperesmian operasional pemanfaatan Pasar Bambaru pada akhir Januari 2022 lalu, hingga kini status pengelolaannya masih belum jelas, yang mana akhir Maret 2022 harusnya sudah diserahkan Dinas Pekerjaan Umum.
Demikian dikatakan, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perdagind) Kota Palu, Ajenkris, Jumat (15/4/2022). Hal ini, lanjut Ajenkris menanggapi keluhan pedagang mengenai sejumlah fasilitas yang tidak berfungsi, bahkan mulai rusak seperti mesin Air Conditioner (AC) tidak berfungsi, pipa kamar mandi rusak dan wadah penampung air (tandon) hanya 4 buah yang berfungsi selebihnya tidak.
Diakui Ajenkris bahwa terdapat 12 buah AC disetiap lantai di Pasar Bambaru, namun tidak berfungsi. Begitupun adanya kebocoran pipa air WC, sehingga warga mengeluh panas, selain itu, dari lantai atas sering terjadi rembesan air ke lantai bawah, yang menimbulkan bau tidak enak (air seni).
“Ini menjadi sebuah PR bagi kami, karena proses pengannggaran yang dua tahap, semuanya saat ini masih melekat di Dinas PU pelaksananya, sebab masih kewenangan mereka, dan keluhan ini setiap saat kita disampaikan ke wali kota,” ungkap Ajenkris.
Oleh karena itu, bila sudah selesai masa pemeliharaanya, dimana dari Dinas PU menyerahkan ke bagian aset, selanjutnya diserahkan ke Dinas Perdagind selaku pengelola Pasar Bambaru, sebab bila belum diserahkan maka belum bisa membiayai itu, karena masa pemeliharaanya belum selesai.
“Bila sudah selesai masa pemeliharaanya, mungkin dengan cara kami sendiri bisa menyelesaikan masalah kebocoran, pasalnya rata-rata yang keluar dari atas kotoran manusia yakni air kencing, sehingga orang yang dibawah merasa tidak nyaman dengan bau kurang enak,”bebernya.
Untuk tandon, lanjutnya dari 16 tandon hanya empat yang berfungsi. Hal ini juga sudah Ajenkris sampaikan pada tim pemeriksaan Inspektorat Kota Palu.
Diketahui biaya operasional Pasar Bambaru saat ini untuk pembayaran listrik setiap bulan mencapai Rp325 juta, belum biaya jasa cleaning service, satpam dan maintenence. Namun seimbang dengan pemasukan sekira Rp2 miliar per tahun.
Ajenkris mengatakan, yang dipungut dari sewa yang setiap lantai berbeda tarifnya, berdasarkan Perda jasa umum untuk Pasar Bambaru dilantai 1 sewanya Rp.35.000 per meter, lantai 2 Rp.33.000 per meter dan lantai 3 Rp.30.000 per meter yang digunakan untuk foodcourd, dengan jumlah pedagang seluruhnya 300 an orang.
“Untuk pengelolahaan Pasar Bambaru saat ini masih dikaji Tim Appraisal, apakah diserahkan ke Perusahaan Daerah atau tetap dikelola Dinas Perdagind, menunggu saja seperti apa pada bulan Oktober 2022 mendatang,”imbuhnya.ABS