Dinas BMPR Diharap Perbaiki Silaturahim

Asisten Moeljono bersama Kadis BMPR, Saifullah Djafar menyalami tamu undangan usai acara Halal Bihalal di, Senin (25/6/2018). FOTO: HUMAS PEMPROV

PALU, MERCUSUAR – Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola diwakili Asisten Administrasi Umum dan Organisasi Setdaprov Sulteng, Moeljono, berharap Halal Bihalal dijadikan momentum memperbaiki dan meningkatkan ukhuwah serta menormalkan silaturahim yang mungkin sempat terputus ataupun renggang pada 11 bulan yang lalu.

Hal itu dikemukakan saat menghadiri acara Halal Bihalal di Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Senin (25/6/2018).

“Halal Bihalal ini juga mengandung makna menghilangkan kesombongan, karena bila masih ada kesombongan, tidak mungkin meminta maaf atau memberi maaf,” tutur Asisten Moeljono.

Ia menyampaikan, Halal Bihalal ini hendaknya tidak menjadi tradisi ritual keagamaan semata tetapi benar-benar dijadikan inspirasi untuk mengubah atau memperbaiki sikap kepribadian dan perilaku sehari-hari.

“Puncak acara setiap halal Bihalal adalah saling memafkan, satu dengan lainnya, kemauan untuk meminta maaf atas segala kesalahan dan kesanggupan memberi maaf,” katanya

Begitu juga sebaliknya ujar Asisten Moeljono, Halal Bihalal mengandung makna untuk menghilangkan kesombongan.

Sementara, UstadYusuf Jambolino yang memberikan tausiyah meminta jajaran Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Sulteng untuk memperbaiki hubungan silaturahim sesama pegawai yang mungkin terganggu selama ini, karena hal itu sangat mempengaruhi peningkatan kinerja ke depan.

“Hubungan silaturahim yang baik antarsesama pegawai tidak hanya meningkatkan kinerja tetapi juga memperpanjang usia, baik usia hidup maupun usia jabatan,” katanya.

Penyempaian Ustad Yusuf Jambolino itu disambut tepuk tangan ratusan hadirin dalam acara Halal Bihalal jajaran Dinas BMPR Sulteng. Ia menegaskan bahwa semua orang membutuhkan orang lain dan keberhasilan satu orang ditentukan oleh orang lain. Kepala Dinas tidak bisa bekerja baik tanpa bantuan tukang sapu atau sopir, begitu sebaliknya.
Menurutnya, orang yang sering atau mudah sekali terganggu hubungan silaturahimnya adalah orang-orang yang berada dalam satu lingkungan kerja, satu ruang kerja, bukan dengan orang lain yang jauh di luar sana.
“Saya dengan gubernur tidak mungkin atau sulit sekali terganggu hubungan silaturahim karena hubungan kerja kami jauh, bahkan hampir tidak ada,” tutur Ustad Yusuf.

Tapi orang yang ada dalam satu unit kerja katanya, yang setiap hari berinterkasi, itulah yang mudah rusak hubungan silaturahimnya. Ratusan undangan yang hadir, seperti Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV, Akhmad Cahyadi dan beberapa pensiunan Dinas PU Sulteng  terlihat khusuk mengikuti ceramah agama Ustad Yusuf yang diselingi canda bermakna religi. BOB

Pos terkait