Inflasi Kota Palu Februari 2026 Capai 5,22 Persen

PALU, MERCUSUAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palu melaporkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Februari 2026 sebesar 5,22 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,93. Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), inflasi tercatat 0,66 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) sebesar 0,90 persen.

Demikian dijelaskan Kepala BPS Kota Palu, Agus Santoso, S.ST., M.Si, lewat siaran persnya, Selasa (3/3/2026). Angka ini kata dia, menunjukkan tekanan harga yang meningkat dibandingkan Februari 2025 yang saat itu mengalami deflasi 0,35 persen.

Inflasi tahunan terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak 14,63 persen. Kelompok ini memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yakni 2,33 persen, dengan tarif listrik sebagai penyumbang dominan sebesar 2,22 persen.

Kenaikan signifikan juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meningkat 19,29 persen dan menyumbang 1,67 persen terhadap inflasi. Lonjakan harga emas perhiasan menjadi faktor utama dalam kelompok ini.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 3,64 persen dengan andil 0,87 persen terhadap inflasi umum. Kenaikan harga beras, berbagai jenis ikan seperti ikan selar dan cakalang, serta daging ayam ras menjadi kontributor utama.

Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga mencatat inflasi 2,81 persen, dipengaruhi kenaikan harga ikan goreng dan nasi dengan lauk.

Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran mengalami deflasi. Kelompok pakaian dan alas kaki turun 1,07 persen, sedangkan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menurun 0,13 persen. Penurunan ini antara lain dipicu oleh turunnya harga telepon seluler serta sejumlah produk sandang.

Secara tren, inflasi Kota Palu dalam dua tahun terakhir menunjukkan dinamika yang cukup tajam. Pada Februari 2024 inflasi tercatat 2,31 persen, kemudian berubah menjadi deflasi pada Februari 2025, sebelum kembali melonjak pada Februari 2026.

Dibandingkan kabupaten/kota lain di Sulawesi Tengah, inflasi Palu masih berada di bawah Kabupaten Toli-Toli yang mencatat inflasi tertinggi 7,60 persen, namun lebih tinggi dari Kabupaten Morowali yang sebesar 3,15 persen.

Kenaikan harga pada sektor energi dan emas menjadi indikator kuat bahwa tekanan inflasi saat ini tidak hanya bersumber dari komoditas pangan, tetapi juga dari faktor biaya rumah tangga dan pergerakan harga komoditas global. HAI

Pos terkait