Lima Perusahaan Galian C Tak Hadiri Sidang

  • Whatsapp
WARGA dari Kelurahan Watusampu dan Buluri, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu saat berunjuk rasa di depan PN Kas IA/PHI/Tipikor Palu, Rabu (11/7/2018) pekan lalu. Aksi tersebut bersamaan dengan jadwal sidang gugatan terhadap 28 perusahaan galian C yang beropeasi di dua kelurahan itu. FOTO: ANGKY/MS

PALU, MERCUSUAR – Sebanyak lima dari 28 perusahaan galian C yang beroperasi di wilayah Kelurahan Watusampu dan Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu selaku tergugat dalam perkara perdata Nomor 69/Pdt.G/2018/PN PL, belum hadiri ataupun menunjukan kuasa hukum mewakili pada sidang di Pengadilan Negeri (PN) Klas IA/PHI/Tipikor Palu, Rabu (18/7/2018).

Majelis Hakim memutuskan untuk tidak lagi melayangkan panggilan pada kelima perusahaan itu untuk sidang selanjutnya.

Olehnya, sidang selanjutnya yang dijadwalkan pecan depan mengaendakan tanggapan tergugat terhadap keabsahan dari perwakilan kelompok penggugat.

“Untuk mendengarkan tanggapan tergugat, sidang ditunda Senin 23 Juli 2018,” singkat Ketua Majelis Hakim I Made Sukanada SH MH.

Sebelumnya, Rabu (11/7/2018) lalu, 10 tergugat tidak menghadiri sidang, hingga Majelis Hakim menunda sidang tersebut serta memerintahkan untuk dilakukan pemanggilan pada sidang lanjutan Rabu (18/7/2018).

Pilihan Redaksi :  Fapetkan Untad Rayakan Dies Natalis ke - 9

Diketahui, ke 28 perusahaan itu, yakni PT Hasal Logam Utama, PT Davindo Jaya Mandiri, PT Putra Putri Winata Indonesia, PT Putra Putri Winata, PT Maxima Tiga Berkat, PT Putra Elan Balindo dan PT Juba Pratama.

Kemudian, PT Utama Sirtu Abadi, PT Risgun Perkasa Abadi, PT Anugrah Karya Jaya Mandiri, PT Batuan Alam Raya, PT Indako Bangun Persada, PT Nurindo Watusampo, PT Sinar Terang Mandiri, CV Sumber Alami Gemilang, CV Sumber Batuan Prima, PT Watu Palu Prima, CV Dinamis Abadi, PT Salena Jaya Sejati, PT Agung Jaya Mining, serta PT Watu Merima Jaya. Selanjutnya, PT Watu Sinai Abadi, PT Bintang Manunggal Persada, PT Mega Jasa Pratama, PT Aces Selaras, PT Sirtu Karya Utama, PT Farhan Batu Palu dan PT Atnur Prima Mandiri.

Pilihan Redaksi :  Santunan Korban Kecelakaan Muara Rapak Diserahkan Kurang dari 24 Jam

Ke 28 perusahaan itu digugat warga melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Palu terkait aktivitas pengelolaan sumber daya alam (SDA) dalam bentuk pertambangan galian C di wilayah tersebut, karena dianggap tidak pernah memenuhi kewajibannya dalam rangka tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Ke 28 perusahaan itu digugat masing-masing Rp1 miliar per tahun terhitung sejak perusahaan tersebut mulai beroperasi di kedua wilayah itu. AGK

 

 

 

Baca Juga