TAVANJUKA, MERCUSUAR – Komunitas Seni Lobo menggelar Lokatari 2026, sebuah laboratorium pengembangan koreografi yang mengajak koreografer muda mengeksplorasi sejarah, lanskap, dan kehidupan Kota Palu sebagai sumber penciptaan karya tari. Program bertema “Moving Palu–Seni Menggerakkan Kota” ini berlangsung pada 20–24 Oktober 2026 dan melibatkan empat koreografer terpilih dari Sulawesi Tengah.
Ketua Komunitas Seni Lobo, Arifin Baderan mengatakan, Lokatari menjadi ruang bagi para peserta untuk mengalami kota secara langsung melalui kegiatan berjalan, mengamati, mendengar, berdialog, menulis, dan mengolah pengalaman menjadi gagasan artistik. Keempat koreografer tersebut dikurasi melalui mekanisme panggilan terbuka untuk dipersiapkan sebagai penampil utama pada Palu Menari Festival 2027.
Rangkaian kegiatan mencakup tur kota bertajuk “Menyusuri Ingatan Kota: Palu dalam Jejak dan Lanskap” bersama Koordinator Komunitas Historia Sulawesi Tengah (KHST), Moh. Herianto pada Rabu (21/10/2026). Peserta menyusuri sejumlah lokasi, antara lain Jalan Gadjah Mada, Jalan Hasanuddin, Pandapa Besusu, dan Sumur Kulu.
Program juga menghadirkan diskusi “Palu dalam Ingatan: Warisan Budaya dan Masa Depan Pariwisata” bersama Iksam Djorimi serta diskusi “Tubuh sebagai Arsip Kota: Menafsir Bencana dalam Karya Tari” bersama Neni Muhidin. Selain itu, peserta mengikuti sesi berbagi praktik artistik, mentoring, latihan tubuh, dan pengembangan presentasi karya.
Puncak Lokatari 2026 dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (24/10/2026) di Pasar Tavanjuka, Jalan I Gusti Ngurah Rai, Palu. Presentasi akhir empat koreografer terpilih dijadwalkan mulai pukul 21.50 WITA, setelah parade tari yang melibatkan sejumlah komunitas, sanggar seni, serta pelajar.
Malam puncak juga akan diisi pameran Palu Menari Festival, yang dibuka mulai pukul 16.00 WITA. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju Palu Menari Festival 2027.
Melalui Lokatari, Komunitas Seni Lobo berupaya membuka ruang bagi koreografer muda untuk mengembangkan gagasan artistik yang berangkat dari pengalaman langsung terhadap kota, sekaligus mempertemukan praktik seni tari dengan ingatan, ruang, dan kehidupan masyarakat Palu. */JEF






