Masjid Al Hidayah Didorong Untuk Difungsikan Kembali

  • Whatsapp
HLL

BESUSU BARAT, MERCUSUAR – Rencana Alumni angkatan 1999 SMAN 1 Palu untuk memfungsikan kembali penggunaan salah satu masjid bersejarah di Kota Palu, yaitu Masjid Al Hidayah yang terletak di simpang empat Jalan Ki Maja dan Jalan Haji Hayyun, Kelurahan Besusu Barat, menuai komentar positif dari salah seorang pihak keluarga pemilih lahan masjid tersebut.

Iriatul Zahra Hasan, salah seorang pihak keluarga pemilik lahan, dalam pertemuan dengan pihak Alumni 99 Smansa Palu dan Komunitas Historia Sulawesi Tengah (KHST), di Kantor Kelurahan Besusu Barat, Senin (27/8/2018) mengatakan, status kepemilikan lahan masjid tersebut kini sudah kembali ke status sebagai tanah wakaf dengan peruntukan sebagai tempat ibadah atau masjid. Status ini kata dia sudah putusan inkrah dari pihak pengadilan.

Pilihan Redaksi :  Untad Bersama Pemkab Poso Deklarasikan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) di Pamona Selatan

“Kami menyambut positif upaya Alumni 99 Smansa Palu dan KHST ini untuk kembali memfungsikan masjid tersebut sebagaimana mestinya. Namun, hal ini harus lebih dahulu dibicarakan dengan lima boya (kampung) di wilayah Besusu dan pihak keluarga besar,” ujarnya.

Perwakilan Alumni 99 Smansa Palu, Moh Arif Budiman Yunus mengatakan, pihaknya tertarik untuk mendorong difungsikannya kembali masjid tersebut, setelah mendengar kisah sejarahnya. Pihaknya kata Budi, sapan akrabnya, mengaku siap memfasilitasi upaya penggalangan dana untuk mendukung upaya memfungsikan kembali masjid tersebut seperti dahulu.

Sementara itu, Koordinator KHST, Moh Herianto mengatakan, pihak KHST siap membantu menyiapkan data-data yang berkaitan dengan sejarah masjid tersebut. Kata dia, masjid ini merupakan masjid bersejarah, yang sayang jika tidak difungsikan kembali.

Pilihan Redaksi :  Untad Bersama Pemkab Poso Deklarasikan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) di Pamona Selatan

“Masjid ini punya latar sejarah yang panjang, sehingga harus didorong untuk difungsikan kembali,” ujarnya.

Masjid Al Hidayah ini sendiri mengalami beberapa kali perpindahan lokasi, sejak dibangun pada sekitar tahun 1891. Pada awalnya masjid yang dibangun oleh mubaligh Sayyid Muhammad Amin bin Baharullah Bafagih (Karaeng Loro-loro) ini berlokasi di atas tanah wakaf milik mertuanya, Tanigau (Pue Kate) di dekat Jembatan III Palu. Masjid ini kemudian beberapa kali mengalami perpindahan lokasi, hingga ke lokasi saat ini pada sekitar tahun 1970an. JEF

Baca Juga