PALU, MERCUSUAR — Di halaman depan Vihāra Karuṇā Dīpa Palu, dua tungku menyala menahan panas logam persembahan umat yang perlahan dilumerkan. Logam-logam itu kemudian dilelehkan dan dituang ke dalam 12 cetakan yang telah disiapkan, menandai dimulainya prosesi pengecoran bagian keempat Rupang Buddha Nusantara pada Minggu (12/4/2026).
Dalam prosesi inti, satu alat penuang dihubungkan dengan tali putih yang dipegang oleh Bhante Dhammasubho Mahāthera, sebagai simbol kendali dan restu spiritual dalam jalannya pengecoran. Sementara itu, alat penuang tersebut dikendalikan langsung oleh seniman patung dari Amertha Art Studio, Sugito Sutarmin. Secara bertahap, lelehan logam dituangkan satu per satu ke dalam cetakan secara berurutan, menghadirkan perpaduan antara ketelitian teknis dan makna ritual.
Sejak awal rangkaian, umat terlihat terlibat langsung melalui prosesi adhiṭṭhāna, menyerahkan logam sebagai simbol kebajikan yang dilebur menjadi rupang. Keterlibatan ini kemudian berlanjut dalam seluruh tahapan upacara, hingga mencapai puncaknya saat logam mulai dicor di bawah arahan Bhikkhu Dhammasubho Mahāthera.
Kegiatan ini menghadirkan puluhan bhikkhu dari Saṅgha Theravāda Indonesia serta ribuan umat dari berbagai daerah, mulai dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, hingga kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Samarinda, dan Malinau. Secara keseluruhan, sekitar 41 Bhikkhu dari berbagai wilayah Indonesia, dari Sumatera hingga Papua, turut hadir.
Momentum ini merupakan bagian dari peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia dengan tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri.” Dalam kerangka itu, pengecoran rupang Buddha tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan simbolik, tetapi sebagai ekspresi kolektif umat dalam merawat dan melanjutkan Dhamma.
Ketua Panitia, Bhikkhu Candakaro Mahāthera menekankan, pemilihan Palu bukan keputusan biasa.
“Ini kesempatan bersejarah yang tidak boleh disia-siakan. Kita tidak hanya menyaksikan, tetapi ikut mengukir sejarah melalui partisipasi langsung dalam pengecoran ini,” ujarnya.
Ia juga menyoroti posisi Sulawesi Tengah yang kini memiliki 11 vihara dan cetiya sebagai basis pengembangan umat. Menurutnya, kegiatan ini memperlihatkan konsolidasi umat yang melampaui batas wilayah.
Lebih jauh, Bhante Candakaro menegaskan dimensi simbolik dari kegiatan tersebut.
“Hari ini bukan sekadar teknis pengecoran, tetapi simbol kebulatan tekad untuk melestarikan Dhamma di bumi Nusantara, memancarkan kedamaian, kebajikan, dan kebijaksanaan bagi generasi mendatang,” jelasnya.
Rupang Buddha yang dicor memiliki tinggi sekitar 5 meter dan direncanakan berdiri di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) di atas lahan seluas 29 hektare. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Saṅgha Theravāda Indonesia serta para donatur yang telah berkontribusi dalam proses ini.
Sementara itu, Saṅghanāyaka Saṅgha Theravāda Indonesia, Bhante Sri Subhapañño Mahāthera, melihat kegiatan ini sebagai kelanjutan dari momentum besar sebelumnya.
“Kegiatan ini tidak kalah berkesan dibandingkan Rapimnas dan peresmian vihara tahun lalu. Ini adalah wujud nyata kebersamaan dalam mempraktikkan Dhamma,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Drs. Supriyadi, M.Pd, menempatkan kegiatan ini dalam kerangka pembinaan spiritual umat. Ia menilai pengecoran rupang menjadi medium pembelajaran etis.
“Kegiatan ini melatih kesabaran kita sebagai umat, tidak selalu ingin menjadi yang terdepan, tetapi mengutamakan Dhamma dan karya,” katanya. Ia juga menekankan, seluruh umat memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat, sehingga proses ini menjadi ruang pembelajaran kolektif.
Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya dimensi batin dalam praktik keagamaan.
“Kami berharap umat terus menata kesabaran dan menata hati. Lima puluh tahun Saṅgha Theravāda Indonesia telah membangun fondasi yang kuat, dan kini terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,”ujarnya.
Rangkaian kegiatan yang dimulai dari persembahan logam, pertunjukan seni, pūjā bakti, hingga Dhammadesanā, akhirnya bermuara pada satu titik: api pengecoran yang melebur logam menjadi simbol kebajikan. Di titik itu, Palu tidak hanya menjadi lokasi kegiatan, tetapi menjadi ruang di mana spiritualitas, sejarah dan partisipasi umat bertemu dalam satu peristiwa yang konkret. JEF






