BIROBULI UTARA, MERCUSUAR – Kualitas udara di Kota Palu, Sulawesi Tengah, memburuk setelah konsentrasi partikulat halus PM2,5 terpantau masuk kategori sangat tidak sehat. Kondisi ini diperkirakan masih berpotensi dipengaruhi sebaran asap dari luar Pulau Sulawesi hingga 15 Oktober 2026.
Ketua Tim Pelayanan Publik dan Humas BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Muh. Soeharto Dwi Putra Rahman, mengatakan peningkatan konsentrasi partikulat telah terdeteksi sejak Juni 2026. Namun, kenaikan yang lebih signifikan terjadi pada Agustus hingga Oktober. Berdasarkan pengamatan pada 10 dan 11 Oktober, PM2,5 masuk kategori sangat tidak sehat, sedangkan PM10 berada pada kategori tidak sehat.
Selain PM2,5 dan PM10, konsentrasi PM1 juga tercatat berada di atas 151 mikrogram per meter kubik. Soeharto menyebutkan, berdasarkan perkiraan sebaran asap, wilayah Sulawesi Tengah masih berpotensi terdampak asap dari luar Pulau Sulawesi hingga sekitar 15 Oktober. BMKG dijadwalkan memperbarui informasi kondisi dan prakiraan kualitas udara pada Selasa (13/10/2026).
“Dari hasil pemantaian, wilayah Sulawesi Tengah masih akan terpapar sebaran asap dari luar Pulau Sulawesi. Estimasinya mulai hari ini sampai sekitar tanggal 15,” ungkapnya.
BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di luar, warga disarankan menggunakan masker dan menjaga kecukupan cairan tubuh untuk mengurangi risiko paparan polutan.
Di sisi lain, kondisi musim kemarau yang masih berlangsung dan fenomena El Niño turut meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Pada 10 Oktober 2026, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah, dengan beberapa daerah masuk kategori awas. IKI






