PSPPI Untad Sumpah 49 Insinyur RPL Angkatan X

PALU, MERCUSUAR – Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) bekerja sama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Sulawesi Tengah, kembali menyelenggarakan Pengambilan Sumpah Insinyur melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Angkatan X Tahun 2026. Kegiatan yang digelar di Aula Fakultas Kedokteran Untad, Rabu (11/2/2026) ini, menjadi bagian dari penguatan profesi keinsinyuran di daerah, sekaligus strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia teknik yang kompeten dan berintegritas.

Koordinator Program Studi Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Untad, Dr. Ir. Arief Setiawan, ST, MT, IPM, Asean Eng dalam sambutannya menegaskan, sumpah insinyur bukan sekadar seremoni formal, melainkan komitmen moral dan etika profesi. Gelar Insinyur (Ir.) mengandung tanggung jawab untuk bekerja profesional, menjunjung tinggi kode etik, serta menjamin keselamatan publik melalui praktik keinsinyuran yang ilmiah dan akuntabel.

Ia menyampaikan, Sumpah Insinyur Jalur RPL Angkatan X diikuti oleh 49 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sejak berdiri pada 2 September 2020, PSPPI Untad telah meluluskan 749 insinyur, terdiri atas 728 lulusan jalur RPL Angkatan I–X dan 21 lulusan jalur reguler Angkatan I–II. Saat ini, terdapat 71 peserta yang sedang menempuh pendidikan, termasuk 14 mahasiswa reguler Angkatan III dan 57 peserta RPL Angkatan XI.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan, PII saat ini menginisiasi Indeks Keinsinyuran, yakni instrumen untuk mengukur tingkat kepatuhan pemerintah daerah dalam penerapan praktik keinsinyuran sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2019.

Dekan Fakultas Teknik Untad, Ir. Andi Arham Adam, S.T., M.Sc (Eng)., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada PII Sulawesi Tengah, serta seluruh dosen dan praktisi industri yang berkontribusi dalam proses pendidikan profesi insinyur. Ia menegaskan, kebutuhan tenaga rekayasa yang andal di Sulawesi Tengah sangat nyata, terutama dalam mendukung pembangunan infrastruktur dasar, pemukiman, layanan air bersih, hingga industrialisasi berwawasan lingkungan.

“Gelar dan kewenangan profesi harus sejalan dengan etos pelayanan ilmu untuk menjawab tantangan masyarakat, bukan sekadar memenuhi target proyek,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, setiap keputusan teknis seorang insinyur membawa konsekuensi besar terhadap keselamatan manusia dan lingkungan. Karena itu, profesionalisme harus dibangun atas dasar integritas, komitmen mutu, serta keberanian mengambil sikap terhadap pekerjaan yang berisiko.

“Insinyur yang hebat adalah yang mampu berkata tidak pada pekerjaan yang membahayakan,” ujarnya.

Rektor Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., yang juga Ketua PII Wilayah Sulawesi Tengah, menyoroti masih rendahnya rasio insinyur di Indonesia. Saat ini jumlah insinyur tercatat sekitar 2.671 per satu juta penduduk, masih jauh dari target 10.000 per satu juta penduduk dan tertinggal dibanding Vietnam yang mencapai sekitar 9.000 serta Korea Selatan yang mencapai sekitar 25.000 per satu juta penduduk.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada daya saing pembangunan dan kesiapan daerah dalam menghadapi investasi dan pengembangan teknologi. “Penguatan Program Profesi Insinyur adalah langkah strategis agar SDM keinsinyuran di daerah semakin siap dan berdaya saing,” ujarnya. JEF

Pos terkait