Refleksi 60 Tahun Meniti Zaman, Catatan Tasrif Siara

  • Whatsapp
images-749c10a9

ALHAMDULILLAH, Korannya Rakyat Sulteng hari ini berulang tahun Kamis ini (1/9/2022). Sebagai sebuah koran, Mercusuar tak saja merekam dinamika sosial dan politik negeri ini sepanjang enam puluh tahun, juga menjadi pelaku langsung yang merasakan perkembangan teknologi percetakan yang perubahannya sangat dahsyat hari ini: dari cetak stensilan hingga terdisrupsi ke era Electronic Paper atau E-Paper.

Liputan selama enam puluh tahun di Koran ini, hari ini menjadi catatan sejarah yang obyektif yang telah merekam ragam peristiwa dari waktu ke waktu. Liputan itu juga memotret seting sosiologis dari gambaran masyarakat masa lampau hingga kini. Tak hanya itu, juga merekam kebijakan politik penguasa, dari yang aneh-aneh sampai pada kebijakan yang berpihak kepada masyarakat denyut bawah.

Media ini menjadi pelaku sejarah dari sebuah rezim yang menindas kemerdekaan pers di era Presiden Soeharto. Juga di era Presiden Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya. Di level lokal di Sulteng juga sama, tak sedikit tekanan dating bertubi-tubi karena ekses sebuah pemberitaan di koran ini masa lalu.

Sebagai satu-satunya Koran tertua di Sulteng dan masih terbit hingga hari ini, Mercusuar patut diberi apresiasi, terbit konsisten dan merekam perjalanan sejarah yang panjang aneka zaman dan pengalaman getir yang menyertai pemimpin media ini dan para jurnalisnya. Semua liputan itu, sepanjang enam puluh tahun itu telah menjadi sebuah heritage yang sangat berharga. Untuk itu harus diteruskan hingga nanti.

Lalu, bagaimana ke depan, dengan gempuran era disrupsi media teknologi berbasis digital yang mempengaruhi semua sudut kehidupan? Saya berharap Mercusuar tetap terdepan, berdiri tegar dan melakukan penyesuaian tuntutan teknologi komunikasi yang sulit untuk dielakkan.

Semua pelaku media cetak dan media elektronik hari ini, sepertinya tak bisa lagi bertahan dengan pendekatan konvensional dalam mengelola bisnis media. Hari ini tak ada media yang tak merasakan efek turbulensi akibat tekanan disrupsi media komunikasi era digital yang menuntut perlunya penyesuaian sesuai tuntutan era kekinian maupun tuntutan kebutuhan masyarakat yang serba online.

Enam puluh tahun Mercusuar, sangat kaya pengalaman menghadapi perubahan sosial dan politik di negeri ini. Aneka gelombang kehidupan bias dilewati. Buktinya tetap eksis di usia enam puluh tahun. Namun tantangannya hari ini tak lagi sama seperti hari kemarin. Tantangan media cetak hari ini cenderung tak kasat mata, tapi dampaknya bisa dirasakan

Rhenald Kasali dalam buku tebalnya “Disruption” menceritakan pernyataan Stephen Elop, seorang petinggi di Perusahaan Nokia – dulu pernah menjadi “raja” telepon cellular di zamannya – Elop bilang begini, “ Kami tidak melakukan kesalahan apapun; tiba-tiba kami kalah dan punah”.

Mimpi saya, Mercusuar memasuki usia enam puluh tahun pada hari ini, perlu menyusun strategi konvergensi pemasaran maupun pemberitaan. Tujuannya untuk merebut pelanggan secara on-line. Tak saja menyediakan edisi cetak, tapi juga memfasilitasi pelanggan berbayar untuk edisi E-Paper. Pembaca Mercusuar bertebaran di seantero negeri adalah potensi pasar yang cukup besar.

Jika kita mau membuka ruang refleksi atau muhasabah, Koran ini telah meniti zaman selama enam puluh tahun. Kontribusinya tak bias dipandang kecil menggerakkan dinamika sosial dan kontrol kebijakan yang berpihak ke publik. Ia lolos dari aneka perubahan sosial dan politik di negeri ini melalui tangan dingin Almarhum Rusdy Toana, diteruskan oleh anaknya Tri Putra Toana dan berkembang hingga kini. Ia harus terus terbit melalui improvisasi yang mengadaptasi perubahan zaman.

Baca Juga