Sekjen PB Alkhairaat: Haul Guru Tua Momentum Meneguhkan Keteladanan dan Kesadaran Sejarah

PALU, MERCUSUAR — Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat, Djamaluddin Mariadjang menegaskan, Haul Guru Tua tidak sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan keteladanan dan memahami peran historis Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua) dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Djamaluddin, terdapat dua makna utama yang harus dipahami dalam pelaksanaan haul. Pertama adalah dimensi keteladanan sosio-religius. Ia menekankan, sosok Guru Tua merupakan teladan, baik dalam aspek keilmuan maupun akhlak.

“Jika diibaratkan, Guru Tua itu lampu, sementara masyarakat adalah minyaknya. Ini menggambarkan bahwa keteladanan beliau menjadi ruh yang terus menghidupkan kehidupan umat hingga hari ini,” ujarnya, dalam konferensi pers yang digelar oleh PB Alkhairaat terkait pelaksanaan Haul Akbar ke-58 Guru Tua, Kamis (26/6/2026).

Makna kedua adalah dimensi historis-kultural. Djamaluddin menjelaskan, kontribusi Guru Tua tidak hanya terbatas pada dakwah keagamaan, tetapi juga dalam pembangunan pendidikan melalui pendirian sekolah-sekolah yang menjadikan masyarakat sebagai bagian dari metodologi pembelajaran.

Ia menilai, pendekatan tersebut merupakan sumbangsih besar bagi bangsa dan negara, terutama karena dijalankan dalam konteks masyarakat yang multikultural.

“Peran Guru Tua hadir langsung di tengah masyarakat yang beragam. Karena itu, sosok beliau tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial umat,” katanya.

Lebih lanjut, Djamaluddin menegaskan, pemahaman atas dua dimensi tersebut penting bagi generasi Alkhairaat (abnaul khairaat), agar tidak melihat haul hanya sebagai seremoni, tetapi sebagai upaya merawat nilai dan warisan perjuangan Guru Tua.

“Guru Tua adalah figur yang hadir dalam sejarah bangsa sekaligus menjadi teladan bagi umat,” tandasnya. JEF

Pos terkait