Temu Masyarakat Akuntansi Multiparadigma Indonesia ke-X, Mahasiswa FEB Untad Raih Best Paper III

  • Whatsapp

TONDO, MERCUSUAR – Mahasiswi Jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako (Untad), Salsabilah berhasil memenangkan kategori Best Paper III, di Temu Masyarakat Akuntansi Multiparadigma Indonesia ke-X (TEMAN10) Gorontalo. 

Salsabilah mengangkat penelitian berjudul “Gaya Bertransaksi Petani Jagung Suku Pedalaman Da’a Dalam Menjual Hasil Panen” dengan Dr. Rahayu Indriasari, S.E., M.SA.,Ak sebagai pembimbing.

TEMAN10 merupakan wadah berkumpulnya para ahli, praktisi, akademisi, dan mahasiswa dalam bidang akuntansi untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta ide-ide inovatif terkait dengan perkembangan akuntansi multiparadigma di Indonesia. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif berupa gagasan-gagasan keilmuan akuntansi bagi bangsa dan negara. 

Pertemuan ini di hadiri oleh delegasi dari Univesitas negeri dan swasta, yang terdiri dari Universitas Brawijaya, Universitas Jember, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Universitas Negeri Manado, Universitas Tadulako, Universitas Buana Perjuangan Karawang, Universitas Ichsan Gorontalo, serta Universitas Gorontalo

Salsabilah menjelaskan, paper-nya yang berhasil meraih predikat Best Paper III di TEMAN10 Gorontalo.

“Penelitian saya kali ini bertujuan untuk mengungkap gaya bertransaksi petani jagung suku pedalaman Da`a dalam menjual hasil panen. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatifdengan pendekatan etnometodologi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara, serta dilengkapi dengan hasil dokumentasi. 

Penelitian ini menemukan dua gaya bertransaksi. Pertama, menunjukan gaya bertransaksi “Ala Tinalu Jole” yaitu kegiatan transaksi penjualan yang dilakukan secara langsung antara petani jagung dengan tengkulak, tepat di kebun jagung mereka masing-masing. dalam kegiatan transaksi penjualan ini para petani jagung cukup menunggu tengkulak yang datang langsung membeli jagung dengan menggunakan bahasa Kaili dialek Da`a. 

Kedua, gaya bertransaksi “Mosiala Pale”, yang merupakan kegiatan transaksi penjualan dengan istilah “saling membantu” melalui adanya perantara yang membantu para petani jagung suku pedalaman Da`a dalam menjual hasil panennya secara langsung ke Kota Palu. Transaksi penjualan ini perantara yang mewakili para petani jagung dalam berinteraksi dengan pembeli. */JEF

Baca Juga