TONDO, MERCUSUAR – Sejumlah penjual jajanan masih memanfaatkan tepian pagar Kampus
Universitas Tadulako (Untad) sebagai lokasi berjualan, meskipun di beberapa titik sudah dipasang tanda
peringatan larangan berjualan.
Pantauan Mercusuar, para pedagang kerap menumpuk di sekitar perempatan traffic light Jalan
Pendidikan hingga kawasan Islamic Center. Mereka menjajakan beragam dagangan, mulai dari kopi
kemasan hingga makanan siap saji. Tingginya minat pembeli membuat kendaraan parkir meluber ke
badan jalan.
Lurah Tondo, Mursidin Siraj, mengakui pihaknya sudah berulang kali melakukan penertiban di sekitar
pagar Untad. Namun, setelah razia dilakukan, para pedagang kembali lagi ke lokasi semula.
“Larangan itu bukan tanpa alasan, baik dari pihak Untad maupun kelurahan. Masalah utamanya adalah
sampah yang ditinggalkan pedagang. Bahkan ada yang masih menyimpan peralatan dagang di sekitar
pagar. Yang dilarang itu berjualan di tepi pagar, bukan di seberang jalan,” jelas Mursidin.
Ia menambahkan, kondisi pagar Untad kerap terlihat semrawut akibat tumpukan sampah dan peralatan
pedagang. Beberapa kali pihak kelurahan bahkan menyita meja jualan dan perlengkapan lain, namun
pedagang selalu kembali dengan peralatan baru.
“Saya sudah mengimbau agar pedagang di sekitar Untad, yang berjualan di tempat tanpa tanda
larangan, membawa kantong sampah sendiri. Jadi gelas atau kemasan yang selesai digunakan
konsumen bisa langsung dipungut dan dibuang,” ujar Mursidin.
Menurutnya, lokasi pagar Untad memang strategis untuk berjualan makanan, minuman, maupun buah-
buahan. Namun ia menegaskan, Untad adalah lembaga pendidikan yang menjadi kebanggaan bukan
hanya warga Palu, tetapi juga masyarakat Sulawesi Tengah. Karena itu, kata dia, kewibawaannya harus
dijaga, salah satunya dengan memastikan lingkungan kampus tetap bersih dan indah. MBH