Trauma Healing Ala Satgas Yonarmed

  • Whatsapp
IMG-20181017-WA0038

PALU, MERCUSUAR – Menginjak hari ke-18 pasca bencana gempa dan tsunami di Palu, Sigi dan Donggala, kehidupan sosial masyarakat berangsur-angsur normal. Ini dapat terlihat dari aktifitas masyarakat di pengungsian yang mulai diisi dengan tawa dan canda serta ungkapan gembira ditengah situasi prihatin mereka.

Tentunya berkat peran dari anggota Satgas maupun relawan yang terjun langsung ditengah mereka. Demikian disampaikan oleh Dansatgas Yonarmed-16/Tmr Mayor Arm Rohmadi, S.Sos.MTr.Han di Donggala, Rabu (17/10/2018).

“Setelah berhari-hari warga berjuang ditengah hiruk pikuk bencana, kami sengaja hadirkan tim Cakra Abhipraya dari Jakarta untuk memberikan Trauma Healing kepada anak-anak disini,” terang Rohmadi.

Satgas Yonarmed-16/Tmr merupakan bagian dari Satgas penanggulangan bencana alam (Gulbencal) yang diterjunkan oleh Divif 3 Kostrad. Sedangkan Tim Cakra Abhipraya merupakan kelompok anak muda kreatif dan tergabung dalam pecinta alam serta telah terbukti kemampuannya dalam menerapkan materi dan praktik trauma healing yang telah dilakukan di wilayah dampak bencana di wilayah Nusantara.

Pilihan Redaksi :  Tim ISO Lakukan Surveillance Audit ISO UPT Perpustakaan, FMIPA dan LPPM Untad

“Ketua Cakra Abhipraya adalah Putro Anugrah Lindu dari UNJ. Setelah permainan anak-anak dibagi 180 burger keceriaan, mereka sangat antusias dan gembira saat menerima dan memakannya,” ujar Rohmadi.

Selain Putro (26), rekan yang lainnya yang berasal dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah Subhan Malik (27) dan Siti Nurbaya (22). Sedangkan satu orang lainnya Damar Prasetyo (26 tahun) berasal dari Camp Cooking, Jakarta.

“Meski usia muda, mereka sangat peduli terhadap anak-anak, mereka mampu memasukan konten edukasi ketika menghadapi gempa melalui permainan yang mereka mainkan. Bahkan orang dewasa pun antusias menontonnya,” sambung Rohmadi.

Kegiatan Trauma Healing dilanjutkan malam hari dengan menonton film dengan judul Junggle Book yang berkisah tentang kehidupan anak manusia di tengah hutan bebas dan berkawan dengan segala hewan.

Pilihan Redaksi :  DWP Sulteng Gelar Lomba Tumpeng

“Film ini sengaja di putar untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap sesama serta kegembiraan di tengah alam bebas. Ini cocok kita putar agak anak-anak tidak tertekan di tengah kondisi seperti ini,” terangnya.

“Pemutaran film ini juga, pada dasarnya juga akan membantu mental dan moril warga dan juga anggota Satgas. Mungkin juga, ada diantara anggota kami yang belum nonton” pungkasnya sambil tersenyum,” tandasnya. FIT

Baca Juga