Amanah Guru Tua pada Rusdy Toana Membantu UNISA (Bagian 2)

Catatan: Temu Sutrisno/Wartawan Mercusuar–Trimedia Grup

Nama Rusdy Toana tidak hanya tercatat dalam sejarah perjuangan administratif dan politik berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah, tetapi juga dalam denyut perkembangan intelektual dan pendidikan di daerah ini. Ia adalah figur yang memahami bahwa pembangunan tidak cukup hanya dengan pembentukan wilayah dan struktur pemerintahan, melainkan harus disertai dengan penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan.

Kiprah Rusdy Toana dalam dunia pendidikan terlihat dari keterlibatannya dalam pendirian sejumlah perguruan tinggi di Palu, seperti Universitas Tadulako, UIN Datokarama, dan Universitas Muhammadiyah Palu. Namun, peran tersebut tidak berhenti pada aspek kelembagaan semata. Ia juga terjun langsung sebagai pengajar di Universitas Islam Alkhairaat, sebuah pengabdian yang berawal dari amanah khusus Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, atau yang lebih dikenal sebagai Guru Tua. Amanah ini bukan sekadar permintaan biasa, melainkan bentuk kepercayaan terhadap kapasitas intelektual dan integritas Rusdy Toana.

Suatu pagi tahun 2012 (hari dan bulan agak lupa), penulis dihubungi Pimpinan Umum Mercusuar, Bapak Tri Putra Toana. Putra ketiga H. Rusdy Toana ini meminta untuk menemani menerima kunjungan mendadak HS. Saggaf bin Muhammad Aljufri, cucu Guru Tua ke percetakan Mercusuar.

Dalam kunjungan tersebut,  Sayyid Saggaf menuturkan, Rusdy Toana merupakan memiliki kedekatan hubungan dengan Guru Tua. Bahkan semasa hidupnya, Rusdy Toana juga membangun komunikasi intens dengan Sayid Saggaf selaku Ketua Utama Alkhairaat.

Sayid Saggaf mengaku kunjungan itu sudah lama beliau ingin lakukan sebagai silaturahmi sesama penggerak dakwah Islam.

Menurut Sayid Saggaf, Rusdy Toana pernah berjibaku dalam aktivitas dakwah bersama Alkhairaat dan dipercaya menjadi salah satu sekretaris.

Keterlibatan ini menunjukkan bahwa ia tidak melihat batas antara dunia pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial. Semua dirajut dalam satu visi besar: membangun masyarakat Sulawesi Tengah yang berilmu dan berakhlak.

Sebagai tokoh yang juga aktif dalam Muhammadiyah, Rusdy Toana membawa nilai-nilai keislaman dalam setiap lini perjuangannya. Nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab menjadi prinsip yang ia pegang teguh. Hal ini tercermin pula dalam kiprahnya di dunia pers melalui Harian Mercusuar, media yang ia dirikan dan kembangkan sebagai sarana pencerahan masyarakat.

Bagi Rusdy, pers bukanlah sekadar alat bisnis atau propaganda. Ia menempatkan pers sebagai medium edukasi dan kontrol sosial yang beretika. Tajuk rencana yang ia tulis serta rubrik “Omong Punya Omong” yang dikenal dengan nama Tonakodi menjadi ruang bagi kritik yang santun namun tajam. Di sinilah terlihat bagaimana ia memadukan intelektualitas dengan keberanian moral.

Karakter serbabisa yang dimiliki Rusdy Toana menjadikannya sosok yang sulit tergantikan. Ia mampu menjembatani berbagai bidang—politik, pendidikan, pers, dan keagamaan—dalam satu tarikan napas perjuangan. Dalam konteks ini, ia tidak hanya berperan sebagai pelaku sejarah, tetapi juga sebagai arsitek peradaban lokal yang meletakkan fondasi bagi masa depan Sulawesi Tengah.

Warisan yang ditinggalkannya pun tetap hidup hingga kini. Harian Mercusuar masih eksis sebagai salah satu media berpengaruh di daerah ini, menjadi simbol keberlanjutan gagasan dan semangat perjuangan yang pernah ia rintis. Di sisi lain, institusi pendidikan yang turut ia bangun terus melahirkan generasi baru yang mengambil bagian dalam pembangunan daerah.

Lebih jauh, keberhasilan pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah menjadi bukti konkret dari perjuangan kolektif para tokohnya, termasuk Rusdy Toana. Mereka telah menghadirkan sistem pemerintahan yang lebih dekat dengan rakyat dan responsif terhadap kebutuhan lokal.

Dalam perspektif sejarah, Rusdy Toana adalah figur yang mengintegrasikan gagasan dengan tindakan. Ia tidak berhenti pada retorika, tetapi membuktikan komitmennya melalui kerja nyata. Di tengah zaman yang kerap dipenuhi wacana tanpa implementasi, keteladanan seperti ini menjadi sangat berharga.

Kisah hidupnya adalah kisah tentang dedikasi—dedikasi kepada daerah, kepada masyarakat, dan kepada nilai-nilai yang diyakininya. Ia menjadikan pers dan lembaga pendidikan sebagai mercusuar yang menerangi arah perjuangan, sekaligus menjaga agar pembangunan tidak kehilangan orientasi moral.

Salam takzim dan doa kami kepada KH Zainal Abidin Betalembah, H Rustam Arsyad, H Ishak Moro, Mene Lamakarate, serta Rusdy Toana dan seluruh pejuang pendirian Sulawesi Tengah. Semoga Allah SWT meridhai setiap perjuangan yang telah mereka persembahkan.

Maafkan kami, generasi muda, yang belum sepenuhnya mengenal dan mengingat jasa-jasa besar itu. Semoga kami mampu melanjutkan cita-cita mulia para pendahulu, tidak sekadar menikmati hasil perjuangan, tetapi juga merawat dan mengembangkannya dengan penuh tanggung jawab. ***

Palu, 13 April 2026

Pos terkait