Oleh: Ir. Drs. Abdullah, MT.
DAMPAK GEMPABUMI MEGATHRUST
Gempabumi dan Tsunami Samudra Hindia 2004, atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai Gempabumi dan Tsunami Aceh 2004, terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004, pukul 07:58:53 WIB. Pusat gempa di Samudra Hindia atau Samudra India (Indian Ocean), sekitar 250 km dari pantai barat Aceh, Sumatera, Indonesia. Magnitudo gempa 9,1 – 9,3 dengan intensitas skala IX MMI (klasifikasi Hebat. Gempa dan tsunami tersebut memicu bencana besar dan menewaskan sekitar 227.898 jiwa di 14 negara. Bencana ini dianggap sebagai bencana paling mematikan pada abad ke-21 (WIKIPEDIA-a). Gempabumi tersebut tergolong gempabumi megathrust yang berpusat pada Zona Megathrust Aceh-Andaman.
Tsunami tersebut mengakibatkan kerusakan serius dan kematian sampai ke pesisir timur Afrika. Kematian paling terpencil akibat tsunami tersebut terjadi di Rooi Els, Afrika Selatan, sekitar 8.000 km dari pusat tsunami. Totalnya, 8 orang di Afrika Selatan meninggal dunia (WIKIPEDIA-b). Selain menjalar jauh sampai ke Afrika Selatan, gelombang tsunami Aceh juga terbilang tinggi, mencapai 30 m (Rizky Darmawan, 2024). Rambatan tsunami ke darat mencapai 5 km dari bibir pantai dan meluluhlantakkan wilayah pesisir Aceh sepanjang 800 km.
Gempa ini merupakan gempabumi terkuat yang pernah tercatat di Asia dan gempabumi terkuat ketiga yang pernah tercatat sepanjang sejarah modern setelah gempa Valdivia Chili pada 22 Mei 1960 dan gempa Alaska Amerika Serikat pada 27 Maret 1964. Gempa ini dipicu oleh patahan terpanjang di dasar samudra, dengan panjang 1.200 – 1.300 km, dan durasi guncangan terlama yang pernah diamati, setidaknya 10 menit. Gempa ini menyebabkan seluruh planet bumi bergetar 1 cm dan memicu aktivitas gempa di berbagai wilayah, termasuk di Alaska (WIKIPEDIA-a).
Gempabumi dan tsunami Aceh 2004 telah berlalu lebih dari 20 tahun yang lalu. Bencana alam (natural disasters) yang ditimbulkan sangat mengerikan. Bencana non-alam dan bencana sosial yang mengikutinya tidak kalah mengerikan. Karenanya, gempa dan tsunami tersebut sulit dilupakan. Kejadiannya terekam dengan baik oleh berbagai jenis media, baik dalam negeri maupun luar negeri. Televisi menyiarkannya siang dan malam, pagi dan sore, selama beberapa bulan kemudian. Bencana tersebut telah terdokumentasi dalam berbagai bentuk dokumen. Istilah tsunami, yang berasal dari kosa kata bahasa Jepang, dengan cepat berubah menjadi kosa kata internasional. Bencana tersebut telah dan akan terus menjadi pembelajaran yang sangat mahal dan berharga di berbagai negara.
EPESENTER GEMPABUMI DAN SUMBER TSUNAMI
Ada anggapan bahwa tsunami hanya bisa terjadi jika episenter gempa di laut, atau hanya gempa di laut yang bisa memicu terjadinya tsunami. Anggapan ini tidak bisa dipertahankan, karena, paling tidak, ada 2 kejadian gempabumi yang diikuti tsunami, yang tidak sesuai dengan anggapan tersebut, yakni:
- Gempabumi dan megatsunami Teluk Lituya pada 09 Juli 1958. Gempa tersebut diakibatkan oleh aktivitas Sesar Fairweather, di Alaska begian tenggara (Amerika Serikat). Sesar aktif ini membentang dari Cross Sound hingga Teluk Yakutat, yang juga merupakan batas antara lempeng (raksasa) Amerika Utara dan lempeng (mikro) Yakutat. Ciri umum sesar ini adalah sesar geser yang mirip dengan Sesar Palu-Koro (Indonesia), Sesar San Andreas (Amerika Serikat), dan lain-lain. Gempabumi dengan M7,8 tersebut memicu longsor besar di tebing sekitar Teluk Lituya, yang kemudian membangkitkan megatsunami setinggi 525 m. Tampak pada Gambar 1, lokasi episenter gempa terletak di darat, di sebelah tenggara Teluk Lituya, perairan yang mengalami megatsunami.

Gambar 1 Episenter gempa M7,8 yang memicu megatsunami di Teluk Lituya Alaska AS (Amerika Serikat) pada 09 Juli 1958 (Sumber gambar: Raihan Mahesa Ardiansyah, 2025)
- Gempabumi PADAGIMO Sulteng pada 28 September 2018. Sesar Palu-Koro adalah salah satu sesar paling aktif di dunia yang setiap hari menggetarkan wilayah sekitar jalurnya, di Pulau Sulawesi dan Selat Makassar. Aktivitas sesar tersebut mengakibatkan gempabumi pada 28 September 2018 dengan magnitudo 7,4 (G28S2018M7,4). Gempa tersebut, yang tergolong gempabumi suoershear, memicu 5 jenis bencana geologi sekaligus, salah satunya adalah bencana tsunami. Gambar 2 menunjukkan lokasi episenter G28S2018M7,4 dan 5 perairan yang mengalami tsunami pada saat yang bersamaan, yang dipicu oleh gempa tersebut. Episenter gempa berada di darat, yakni Desa Lende Kec. Sirenja Kab. Donggala. Adapun 5 perairan yang mengalami tsunami adalah:
1. Teluk Tambu, Kec. Balaesang Kab. Donggala, Prov. Sulteng.
2. Teluk Tompe, atau Teluk Sirenja Kec. Sirenja Kab. Donggala, Prov. Sulteng.
3. Teluk Palu, Kota Palu dan Kab. Donggala, Prov. Sulteng.
4. Pantai Olaya, Kec. Parigi Selatan Kab. Parigi Moutong, Prov. Sulteng, dan
5. Pantai Budong-Budong, Kec. Topoyo Kab. Mamuju Tengah, Prov. Sulbar.

Gambar 2 Lokasi episenter G28S2018M7,4 dan perairan yang mengalami tsunami (Sumber gambar: Abdullah dkk., 2019)
KERESAHAN WARGA BUOL
Pada Selasa/02 Desember 2025 jam 09.00 – 10.00 WITA, RRI Toli-Toli mengadakan siaran Live Dialog Interaktif bertema “Simulasi, Edukasi, Literasi Kebencanaan, Menguatkan Mental Masyarakat Menghadapi Bencana,” Salah seorang pendengar di Buol bertanya “Benarkah ada ancaman gempabumi megathrust dan tsunami di Laut Sulawesi, seperti yang sering dibicarakan oleh warga di Buol dan hal tersebut cukup meresahkan? Penulis selaku salah satu narasumber dalam acara live tersebut menjawab: “Memang demikian, dan hal tersebut sudah sering didiskusikan di kalangan pakar dan praktisi kebencanaan dan disebarkan di berbagai media/”
Keresahan warga Buol tersebut memang beralasan, mengingat bahwa dampak dari gempa megathrust dan tsunami Aceh 2004 sangatlah mengerikan, seperti yang digambarkan pada bagian awal tulisan ini. Terlebih lagi, wilayah Buol berhadapan langsung dengan zona megathrust di Laut Sulawesi. Secara tidak langsung, tulisan ini bermaksud menambahkan atau melengkapii jawaban atas pertanyaan warga Buol tersebut. Adapun sebaran zona megathrust di Indonesia dan mekanise terjadinya gempabumi megathrust, bisa dilihat dalam Abdullah (2025).
ANCAMAN GEMPABUMI MEGATHRUST DI LAUT SULAWESI
Zona subduksi atau zona megathrust adalah zona seismik aktif atau rangkaian zona seismik aktif yang bisa menghasilkan gempabumi tektonik “besar sampai sangat besar”, dengan magnitudo lebih dari 8, bahkan lebih dari 9. Gambar 3 memperlihatkan sebaran lokasi ancaman gempabumi megathrust di Indonesia. Salah satu dari lokasi tersebut berada di Laut Sulawesi atau di sebelah utara Pulau Sulawesi. dengan potensi maksimal magnitudo 8,5. Dalam kotak merah di gambar tersebut tertulis Nothern Sulawesi Thrust (Mmax. 8,5). Jauh sebelumnya, adanya ancaman gempa megathrust di Laut Sulawesi sudah diinfokan dalam beberapa literatur atau dokumen geologi ataupun geofisika,

Gambar 3 Sebaran ancaman gempabumi megathrust di Indonesia. Dalam kotak merah tertulis ancaman gempabumi megathrust di Laut Sulawesi adalah Mmaks 8,5. (Sumber gambar: Vina Fadhrotul Mukaromah, 2020)
Zona subduksi Laut Sulawesi terbentuk oleh penunjaman “lempeng samudra Laut Sulawesi” ke bawah “lempeng benua Lengan Utara Sulawesi”. Lempeng yang pertama sering ditulis Lempeng Laut Sulawesi dan yang kedua ditulis Lempeng Sulawesi. Garis hitam tebal bergergaji di sebelah utara Pulau Suawesi dalam Gambar 3 menunjukkan zona subduksi atau zona megathrust tersebut.
SEISMIC GAP DI LAUT SULAWESI
Seismic gap (celah seismik) adalah zona seismik aktif yang dalam kurun waktu lama tidak pernah lagi menimbulkan gempabumi besar. Atau, seismic gap merupakan segmen patahan aktif di zona subduksi yang sudah lama tidak menimbulkan gempabumi besar.
Di zona subduksi Laut Sulawesi terdapat ancaman gempa Mmaks 8,5, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 3. Pertanyaanya, berapa tahun seismic gap-nya? Atau, kapan terakhir terjadi gempa besar di zona subduksi atau zona megathrust Laut Sulawesi?
Berdasarkan BMKG (2018) dan sumber lainnya, gempabumi besar yang pernah terjadi yang dipicu oleh subduksi (tunjaman) Lempeng Laut Sulawesi ke bawah Lempeng Pulau Sulawei adalah gempa yang terjadi pada 22 Desember 1939 dengan episenter 123,0 BT dan 00,0 LS, kedalaman 150 km dan magnitudo 8,1. Meskipun episenternya di Teluk Tomini tetapi gempa ini tergolong gempa zone subduksi karena terjadinya akibat penunjaman satu lempeng ke lempeng yang lain. Apalagi magnitudonya yang M8,1 maka gempa tersebut tergolong gempa megathrust yang dihasilkan dari zona subduksi. Terhitung dari 22 Januari 2026, maka sesmic gap di zona megathrust Laut Sulawesi adalah 22 Januari 2026 dikurangi 22 Desember 1939 = 86 tahun 1 bulan. Namun, bisa saja jauh sebelum 22 Desember 1939 pernah terjadi gempa besar pada zona tersebut dengan magnitudo yang lebih besar, hanya saja tidak tercatat.
Dibanding seismic gap pada zona megathrust lainnya di Indonesia, sesmic gap di zona megathrust Laut Sulawesi terbilang relatif lebih kecil, yang hanya 86 tahun 1 bulan.Tetapi perlu diketahui bahwa berulangnya kejadian gempa besar di zona megathrust tidak selamanya ditentukan oleh besar atau kecilnya seismic gap di zona tersebut. Daryono (2024) menyebutkan tentang gempa kuat M7,1 pada 08 Agustus 2024 yang berpusat di Tunjaman (subduksi) Nankai dan memicu tsunami kecil, yang mengguncang Prefektur Miyazaki Jepang, Gempa besar terakhir di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946. Sehingga, seismic gap di antara 2 gempa tersebut hanya 78 tahun. Seismic gap ini lebih kecil dibanding seismic gap zona megathrust Laut Sulawesi, yakni 86 tahun 1 bulan.
PENUTUP
Tulisan ini, dan yang sejenisnya, tidaklah bermaksud untuk menakut-nakuti warga, apalagi dianggap menghambat pembangunan. Tujuannya tiada lain adalah untuk berbagi informasi dan menambah pengetahuan, terutama kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Tujuan utamanya adalah agar Pemerintah bersama warga senantiasa waspada terhadap ancaman bencana yang mengintai. Siapkan tindakan-tindakan mitigasi bencana dalam menghadapi ancaman tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, 2025, dalam mercusuar.web.id (12 Juni 2025), Mekanisme dan Sebaran Ancaman Gempabumi Megathrust di Indonesia,
https://mercusuar.web.id/opini/mekanisme-dan-sebaran-ancaman-gempabumi-megathrust-di-indonesia/ (Diakses 28 Januari 2026)
Abdullah, Muh. Dahlan Th. Musa, Muh. Rusli, Abd. Rahman, Ketut Sulendra dan Ahmad Imam Abdullah, 2019, Kajian dan Penelitian Wilayah Pesisir Pasca Gempabumi dan Tsunami di Kabupaten Donggala Tahun 2019, Kerjasama BALITBANGDA Kab. Donggala – FMIPA UNTAD, Donggala.
BMKG, 2018, Katalog Gempabumi Signifikan dan Merusak 1821 – 2017, Pusat Gempabumi dan Tsunami, BMKG, Jakarta.
Daryono, 2024, dalam BMKG (19 Agustus 2024), Tentang Gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang “Tinggal Menunggu Waktu”, https://www.bmkg.go.id/berita/utama/tentang-gempa-di-selat-sunda-dan-mentawai-siberut-yang-tinggal-menunggu-waktu (Diakses 06 Mei 2025)
Raihan Mahesa Ardiansyah, 2025, dalam fadami.indozone.id (16 Januari 2025), Mengenal Tsunami Lituya yang Memiliki Gelombang Tertinggi Sepanjang Sejarah, Mencapai 500 Meter!, https://fadami.indozone.id/ramalan/445534615/mengenal-tsunami-lituya-yang-memiliki-gelombang-tertinggi-sepanjang-sejarah-mencapai-500-meter (Diakses 16 Juni 2025)
Rizky Darmawan, 2024, dalam SindowNews (27 Desember 2024), Penyebab Tinggi Gelombang Tsunami Aceh 2004, Sampai 30 Meter, https://tekno.sindonews.com/read/1509029/766/penyebab-tinggi-gelombang-tsunami-aceh-2004-sampai-30-meter-1735290735 (Diakses 15 April 2025).
Vina Fadhrotul Mukaromah, 2020, KOMPAS.com (27 September 2020), Penjelasan soal Potensi Gempa Megathrust dan Perlunya Mengakhiri Kepanikan …, https://amp.kompas.com/tren/read/2020/09/27/143500065/penjelasan-soal-potensi-gempa-megathrust-dan-perlunya-mengakhiri-kepanikan- (Diakses 17 Mei 2025)
WIKIPEDIA-a, Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Samudra_Hindia_2004 (Diakses 15 April 2025),
WIKIPEDIA-b, Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004,
https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Samudra_Hindia_2004#:~:text=Para%20ilmuwan%20yang%20menyelidiki%20kerusakan,gelombang%20tsunami%20di%20perairan%20dalam (Diakses 16 April 2025).
*Penulis adalah Dosen Prodi Teknik Geofisika dan Kepala Laboratorium Palu-Koro, Jurusan Fisika dan Matematika Fakultas MIPA Universitas Tadulako, Palu






