Belajar dari Aceh Dan Palu:  Pentingnya Kesiapan Menghadapi Gempa

Yayu Alinda dan Samrudin, Penulis adalah Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu 2025

Indonesia adalah Negara yang sering mengalami gempa bumi. Hal ini terjadi karena wilayah Indonesia berada di pertemuan beberapa lempeng bumi yang aktif. Kondisi ini membuat gempa tidak bisa dihindari. Karena itu, yang paling penting bukan hanya bagaimana kita merspon setelah bencana terjadi, tetapi juga bagaimana kita mempersiapkan diri sebelum bencana datang. Pengalaman pahit bangsa ini bisa dilihat dari dua peristwa besar, yaitu bencana aceh tahun 2004 dan gempa serta tsunami di Palu tahun 2018. Kedua peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak dan kerusakan yang luas. Tragedi ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana manajemen bencana seharusnya dilakukan.

Gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah Indonesia. Saat itu, banyak pihak belum siap menghadapi bencana sebesar itu, Sistem peringatan dini mash terbatas, koordinasi penanganan bencana belum berjalan optimal, dan masyarakat juga belum memiliki cukup pengetahuan tentang cara menyelamatkan diri ketika bencana terjadi . Namun dari tragedy tersebut , indonesia mulai melakukan berbagai perbaikan. Pemerintah membentuk lembaga khusus penangulangan bencana dan mulai memperkuat sistem penanganan bencana di berbagai daerah . Akan tetapi, bencana  dipalu pada tahun 2018 menunjukan bahwa masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki. Gempa yang terjadi saat itu memicu tsunami dan fenomena likuefaksi yang menghancurkan banyak permukiman. Banyak rumah yang dibangun di daerah rawan sehingga ketikan tanah bergerak, bangunan-bangunan tersebut ikut hancur dan menimbulkan korban jiwa.

Peristiwa tersebut menunjukan bahwa penanganan bencana tidak boleh hanya fokus pada bantuan setelah bencana terjadi. Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan sebelum bencana jauh lebih penting. Misalnya melalui pemetaan wilayah rawan gempa, pengaturan tata ruang yang lebih aman, serta pembangunan rumah yang tahan terhadap gempa. Selain itu, masyarakat juga perlu mendaparkan edukasi tentang kebencanaan, Pengetahuan sederhana seperti apa yang  harus dilakukan saat gempa, kemana harus menyelamatkan diri, dan bagaimana mengenali tanda-tanda bahaya bisa sangat membantu mengurangi korban jiwa.

Latihan evakuasi, jalur peneyelamatan yang jelas, serta informasi yang mudah dipahami oleh masyarakat perlu terus dilakukan, terutama daerah yang rawan gempa. Teknologi juga memiliki peran penting dalam mengurangi risiko bencana. Informasi tentang gempa dan potensi tsunami kini dapat disampaikan dengan cepat melalui berbagai media. Namun penyampain informasi saja tidak cukup. Informasi tersebut harus benar-benar diterima dan dipahami oleh masyarakat agar dapat digunaka untuk mengambil tindakan penyelamatan.

Pada akhirnya, gempa bumi memang tidak dapat dicegah. Namun dampaknya bisa dikurangi jika kita memiliki manajemen bencana yang baik dan masyarakat yang siap menghadapi risiko tersebut . Tragedi Aceh dan Pali seharusnya mejadi pengingat bagi kita semua bahwa kesipan menghadapi bencana adalah hal yang sangat penting. Dengan belajar dari pengalaman tersebut, diharapkan Indonesia dapat menjadi Negara yang lebih tangguh dalam mengahadapi bencana.

Yayu Alinda dan Samrudin, Penulis adalah Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu 2025

Pos terkait